Cinta Vania

Cinta Vania
Aku akan membujuk orangtua kita


__ADS_3

Di dalam mobil kedua manusia itu saling diam. Tak ada yang berani membuka obrolan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sepanjang perjalanan Vania terus menatap luar jendela tanpa berani menoleh pada lelaki di sampingnya. Sedang Devan fokus menyetir sambil sesekali menoleh memperhatikan gadis di sampingnya itu.


Mobil yang mereka kendarai melewati beberapa pohon yang rimbun. Vania semakin bertanya-tanya dalam hatinya. Sedikit ada rasa takut menyelimutinya karena melewati daerah yang cukup sepi.


Setelah perjalanan selama 45 menit, mobil yang membawa mereka telah sampai. Devan mehentikan mobilnya di ujung jalan besar yang tak jauh dari pantai. Mesin mobilnya sudah dimatikan. Namun, Mereka tak segera beranjak keluar dari mobil. Mereka saling diam


Desiran angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi serta suara deburan ombak terdengar jelas di telinga Vania.


Devan belum juga bergerak. Ia melihat dengan tatapan kosong didepannya. Vania menoleh ke arah Devan seolah meminta jawaban kenapa membawanya kemari.


"pantai?" pertanyaan Vania membuyarkan lamunan Devan


Devan menoleh ke Vania dan mengangguk pelan. Ia turun dari mobilnya menuju pintu samping Vania untuk membukakan pintu. Ia menengadahkan tangan kanannya di depan Vania. Vania menerima uluran tangan Devan dan turun dari mobil.


Devan memegang erat tangan Vania. Hatinya begitu bahagia uluran tangannya disambut baik oleh Vania.


"terimakasih, aku akan jalan sendiri" kata Vania pelan sambil melepaskan genggaman tangan Devan.


Dengan berat hati Devan mengikuti permintaan Vania. Devan sadar diri akan posisinya. Ia tidak mungkin memaksakan diri untuk lebih dekat dengan Vania.


Mereka berjalan beriringan menuju pantai. Suasana pantai begitu sepi karena hari sudah pukul 21.00 WIB.


Devan memperhatikan Vania yang kesusahan berjalan diatas pasir pantai karena memakai sepatu heels.


"perlu bantuan?" tanyanya membuat Vania menoleh.


Vania menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian ia membungkuk dan mengangkat salah satu kakinya ke belakang untuk melepas heelsnya. Ia melakukannya bergantian sambil berpegangan pada salah satu pohon yang ada disana.


Setelah selesai dengan urusan heelsnya, Vania berjalan cepat menuju tepi pantai sambil menenteng heelsnya.


Saat sampai di ujung pantai, Ia merentangkan tangan dan mengangkat kepalanya sambil memejamkan matanya seolah mencoba merasakan ketenangan dari suasana yang tengah ia rasakan. Begitu damai dan nyaman.


Devan berjalan mendekat dan berdiri di sisinya. ia terus menatap wajah ayu gadis yang ada di sampingnya.


"kamu suka?" tanyanya membuat Vania menghentikan aktifitasnya.


Vania menoleh ke sampingnya dan mengangguk. Ia begitu menikmati keindahan yang ada di depan matanya.

__ADS_1


"ayo kita duduk" ajak Devan yang berjalan sedikit ke tengah pantai diikuti oleh Vania.


Mereka duduk bersampingan dengan jarak yang hanya satu meter. Mereka saling diam. Suasana begitu hening. Hanya ada suara deburan ombak dan lambaian pepohonan yang tertiup angin.


"bagaimana kabarmu" tanya Devan berbasa-basi


"baik" jawab Vania singkat tanpa menoleh


"maaf aku mengajakmu kemari"


"nggak apa-apa, sudah lama aku tidak ke pantai. Aku justru senang dengan semua ini, aku begitu menyukai pantai. Pantai membuatku melupakan semua kenangan buruk dalam hidupku".


"apa kamu belum bisa melupakan kenangan tentang dia?"


Vania terdiam sejenak mendengar pertanyaaan Devan.


"kenangan itu tidak akan pernah hilang. Aku masih mengingatnya meski cerita itu telah usai. Mungkin terdengar egois bagi orang lain. Tapi tidak mudah bagiku untuk menutup masa lalu itu".


"jadi, kau punya niat untuk menutup masa lalu mu itu"


"tapi aku merasa tidak akan mungkin mampu melupakan semuanya"


"jika nantinya ada seseorang yang bisa menaklukkan hatimu, apa tidak akan mungkin membuatmu lupa kenangan itu"


"sesulit itu kah?"


Vania mengangguk pelan. Membenarkan pertanyaan dari lelaki di sampingnya.


"lalu... bagaimana dengan perjodohan ini" tanya Devan membuat Vania menoleh padanya.


"entahlah..."


"apa kamu akan menolak perjodohan ini?"


Vania terdiam. Perasaannya berkecamuk antara antara harus jujur tapi menyakiti lawan bicaranya atau berpura-pura diam untuk menghargai.


"katakanlah... aku tidak akan memaksamu" lanjut Devan


"lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri" tanya balik Vania

__ADS_1


"hei, aku bertanya padamu... bukannya menjawab, kenapa kamu malah bertanya balik" sahut Devan manyun membuat garis bibir Vania tersenyum.


"aku ingin tahu jawabanmu dulu" jawab Vania


"tidak, aku tidak mau mengatakannya sebelum kau menjawabnya terlebih dahulu"


"baiklah.." Vania berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan mengehembuskannya pelan "jujur aku bingung" lanjutnya.


"kenapa?" tanya Devan mengernyitkan dahinya. Perasaannya mulai tidak nyaman.


"Semua tentangmu justru mengingatkanku padanya"


"maksudmu? apa kau menolaknya?" tanya Devan mulai menguatkan hatinya sendiri


"Aku takut menyakiti hati Papaku dengan penolakan ini. Sementara disisi lain, aku merasa lebih nyaman seperti ini, saling mengenal dan berteman. Apalagi sejak aku tahu kamu adalah saudara angkat Ditya, aku merasa kehadiranmu membuatku semakin mengingat kenangan itu. Lalu bagaimana aku bisa menutup kenangan itu? kalau setiap melihatmu selalu ada bayangan dia disana. Sementara semua orang memintaku untuk melupakan bayangannya. Kalaupun nantinya kita dipaksa untuk bersama, aku takut hanya akan menyakitimu karena aku tak mampu mencintaimu" jelas Vania. kata-kata terakhirnya terdengar begitu lirih saat ia mengucapkannya.


Devan menunduk sedih. Hatinya hancur. Terdengar jelas di telinganya atas penolakan yang Vania sampaikan. Namun, Devan cepat-cepat sadar dan mengangkat kepalanya.


"tenanglah... aku akan membujuk orang tua kita untuk membatalkan perjodohan ini" kata Devan pelan.


Vania tersenyum lembut mendengarnya. Wajahnya nampak cerah. Satu masalah selesai. Dengan begini, perjodohannya dengan Devan akan berakhir.


"aku sudah mengatakan semuanya padamu. Sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku"


"pertanyaan?" kata Devan mengulang kata-kata Vania


"ya... apa jawabanmu"


"sudahlah lupakan, ayo kita pulang sebelum makin larut. Nanti kamu kedinginan" kata Devan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Vania bangun.


Vania mengikuti ajakan Devan. Ia menyambutnya dan berdiri sambil membersihkan bagian belakang gaunnya yang terkena pasir.


Devan kemudian berjalan membelakangi Vania. Bukan tanpa sebab. Ia hanya ingin menutupi kesedihannya.


"kak Devan" panggil Vania yang merasa aneh dengan perubahan sikap Devan.


Devan terkejut dan segera menghapus ujung matanya yang mulai basah.


"ya" jawabnya menoleh ke belakang. Ia berusaha bersikap sesantai mungkin agar Vania tidak curiga.

__ADS_1


"oh maaf aku meninggalkanmu" lanjutnya berhenti menunggu Vania berjalan mendekat.


Mereka kemudian berjalan bersama ke mobil. Vania ingin kembali menanyakan jawaban Devan yang masih membuatnya penasaran. Namun ia urungkan setelah melihat wajah Devan yang berubah datar.


__ADS_2