Cinta Vania

Cinta Vania
episode 31 Cincin Berlian


__ADS_3

Devan pulang sampai di rumahnya tepat tengah malam. Dimana rombongan keluarga Vania sudah kembali ke rumah mereka.


Setelah bi Sumi membukakan pintu utama, Devan langsung berjalan menuju kamarnya karena bunda dan ayahnya sudah tertidur.


Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu tidur.


Keesokan paginya bu Dewi menghampiri kamar Devan hendak menemui putranya. Dipegangnya handel pintu kamar Devan yang tidak pernah dikunci. Dilihatnya putra kesayangannya itu masih terlelap di balik selimut tebalnya. Hanya tampak wajah dan rambut kepalanya yang menyembul di balik selimut.


Bu Dewi mendekati putranya. Ia membelai rambut Devan dengan lembut


"bangun sayang, sudah jam tujuh.. ayo mandi sarapan" kata bu Dewi sambil menggoyang-goyangkan bahu Devan


"emmmm.....nanti aja bund....masih ngantuk" jawab Devan dengan suara seraknya tanpa membuka mata


"ayo dong sayang...bunda mau minta tolong anterin ke rumah oom Firman" lanjut bu Dewi


"kenapa harus Devan sih bund, ayah aja deh..." jawabnya menggerakkan badannya namun masih dengan mata terpejam


"ayah tadi buru-buru ketemu klien pagi-pagi sekali"


"sama supir aja deh....ya bund.. " jawab Andre mengangkat badannya dan duduk bersandar di sandaran ranjang "lagian bukannya tadi malam mereka sudah kesini" lanjutnya sambil menguap


"iya sih... rencana bunda mau ke toko ambil cincin berlian, terus bunda kasih ke putrinya oom Firman. Kan sekalian ngenalin kamu sama putra sulungnya si Adit"


"sumpah bund....Devan belum kuat buat melek dan mengemudikan mobil. Devan masih ngantuk banget, jam 3 Devan baru tidur bund. masalah kenalan lain aja ya..." rengek Devan


"emang kamu nyampai rumah jam berapa?"


"jam setengah satu bund, tapi badan Devan rasanya sakit semua sampai jam 3 baru bisa merem"


"ya udah deh kalau gitu biar mama diantar sama mang Udin aja" kata mama sedikit kecewa


"sorry bunda... lain kali Devan yang antar deh" Kata Devan merayu dengan memeluk bundanya


"iya...iya...ya udah kamu tidur lagi aja, bunda berangkat dulu ya"kata bu Dewi sambil menepuk pelan punggung putranya

__ADS_1


Devan melonggarkan pelukannya dan membiarkan bundanya berangkat. Selepas kepergian bundanya keluar dari kamarnya, Devan kembali merebahkan tubuhnya. Tanpa butuh waktu yang lama, Ia terlelap kembali dalam tidur paginya.


Bu Dewi tiba di rumah Vania pada siang hari setelah sebelumnya mampir ke toko berlian miliknya untuk mengambil cincin yang akan ia berikan pada Vania.


Bu Dewi mengetuk pintu rumah Vania. Vania yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolahnya di ruangan depan segera berdiri membukakan pintu.


"assalamualaikum" sapa bu Dewi dengan senyum manisnya


"waalikumsalam..tante Dewi.." Vania terkejut saat mendapati bu Dewi yang berkunjung. Pasalnya bu Dewi tidak memberitahukan terlebih dulu bahwa hari ini akan bertamu.


"tante boleh masuk?" tanya bu Dewi karena melihat Vania masih terbengong


"eh iya tante....silahkan masuk"


Vania mempersilahkan bu Dewi dan duduk di sofa ruang tamu.


"kamu lagi ngerjain tugas ya?" tanya bu Dewi yang melihat buku dan laptop diatas meja


"hehe...iya tante"


Vania segera membereskan buku dan laptopnya yang memenuhi meja.


"saya panggilin mama sebentar y tante" kata Vania sambil berlalu menuju kamar orangtuanya.


Tak lama kemudian Vania dan mamanya datang.


"kok nggak kasih kabar dulu sih jeng kalau mau kesini, kami kan jadinya nggak ada persiapan" kata mama Vania sambil cupika cupiki dengan bu Dewi


"sengaja jeng...saya cuma sebentar kog, cuma mau ngasih ini ke Vania" kata bi Dewi sambil menyodorkan paperbag berwarna putih bertuliskan SA Jewelry.


"apa ini jeng...kok repot-repot banget" kata mama Vania basa-basi


"bukan apa-apa jeng...saya suka putri jeng Karin sejak pertama bertemu, mengingat saya nggak punya anak perempuan" kata bu Dewi tersenyum


"di buka saja" lanjut bu Dewi

__ADS_1


Bu Karin menyerahkan paperbag itu pada putrinya. Ia ingin Vania sendiri yang membuka pemberian bu Dewi.


Vania mengambil paperbag itu dari tangan ibunya. Ia mengeluarkan isinya. Tampak sebuah kotak merah kecil seperti tempat perhiasan. Dibukanya kotak itu. Sebuah cincin berlian yang sangat manis dengan kilauan batu berlian kecil-kecil yang indah . Ia merasa ragu untuk menerimanya. Ia yakin cincin itu pasti mahal harganya.


" apa ini nggak berlebihan tante" ucap Vania menatap bu Dewi sambil memegang kotak itu


Bu Dewi tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan "kamu nggak suka ya?jelek ya?"


" bukan begitu tante, ini terlalu mahal bagi saya yang bukan siapa-siapa tante"


"anggap saja ini hadiah dari tante karena menyukaimu sejak pertama melihatmu, tante ingin mempunyai anak perempuan, sayangnya itu sudah tidak mungkin mengingat umur tante yang tidak lagi muda" kata bu Dewi tertawa.


Mereka bertiga tertawa bersama. Vania mengembalikan kotak merah itu ke dalam paperbag dan meletakkannya di sofa samping duduknya.


"ngomong-ngomong kok sepi yang lain kemana?" tanya bu Dewi


" oo...itu tadi pagi Adit dan papanya keluar buat mengurus surat kehilangan di kantor polisi" kata mama Vania menjelaskan


"kepolisian? apanya yang hilang?" tanya bu Dewi sedikit terkejut


"hanya mengurus SIM Adit yang hilang karena jatuh di jalan kok jeng" jawab mama Vania.


Bu Dewi merasa lega mendengar jawaban sahabatnya. Awalnya ia berfikir yang tidak-tidak mendengar kata kantor polisi.


Tak lama mereka mengobrol, bu Dewi mengundurkan diri karena harus kembali mengurus tokonya.


Vania dan mamanya mengucapkan banyak terimakasih pada bu Dewi atas kemurahan hatinya. Mereka mengantarkan tamunya sampai di depan rumah dan menunggu sampai mobil bu Dewi berlalu keluar pagar rumah.


Vania dan mamanya masuk rumah dan duduk kembali di sofa.


"cincin berlian sebagus ini Vania apain ma? nggak mungkin kan Vania pakai tiap hari, ini terlalu berlebihan dengan usiaku yang masih SMA, nanti apa kata teman-teman kalau aku memakai cincin mahal" kata Vania memegang paperbag pemberian bu Dewi


"disimpan dulu aja, kamu bisa pakai untuk acara tertentu. atau bisa kamu pakai kalau usiamu sudah cukup pantas" kata mama Vania


Vania bukan gadis yang suka berpenampilan glamor dengan dandanan yang berlebihan. Ia lebih suka tampil simpel dan hampir tak pernah bersolek. Namun ia tetap menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh dan wajahnya. Bahkan untuk ke sekolah, ia hanya memakai bedak tipis dan lipgloss warna bening untuk melembabkan bibirnya. Karena tanpa lipstick pun bibirnya sudah merah mud dari sananya. Dengn penampilan seperti itu saja sudah memancarkan aura kecantikannya. Terkadang ia merasa risih dengan teman-temannya yang suka memakai bedak tebal dan rok seragam yang cukup minim untuk anak sekolah.

__ADS_1


__ADS_2