
Setahun telah berlalu. Aku telah lulus dan akan melanjutkan di SMAN terbaik di Jakarta yang dulu pernah ditempati kak Adit. Ya, kak Adit pun juga sudah mulai masuk kuliah di perguruan tinggi. Aku, Nadya, Sherin dan juga Ditya memilih untuk satu sekolah lagi.
Seiring berjalannya waktu karena sering beraama, hubunganku dengan Ditya semakin akrab saja. Dia tak segan-segan menunjukkan sikap perhatiannya padaku. Dia begitu baik dan ramah padaku. Bahkan sering kali dia membantuku mengerjakan tugas-tugas sekolah yang menurutku susah.
Ditya memang anak yang pandai dan memiliki otak yang sangat cerdas. Tak aneh lagi jika ia cepat dikenal oleh para guru dan siswa lain saat masih di SMP meskipun ia tergolong siswa baru.
Pagi ini kami akan akan mengikuti ospek di sekolah baru. Kami diminta untuk berkumpul di lapangan sekolah. Kulihat tampang kakak-seniorku yang sedikit garang. Kupandangi satu persatu dari mereka. Dan ya, ada sosok yang kukenali disana. Kak Andre dan kedua temannya. Aku merasa sedikit lega meskipun mereka tidak melihatku. Setidaknya aku yakin akan diperlakukan baik oleh mereka. Karena mereka bukan orang yang usil dan jahat seperti kak Devan. Haahh....kenapa aku harus mengingat sosok itu lagi sih, padahal selama setahun ini aku sudah hampir melupakan namanya.
Aku dan para siswa baru lainnya diminta untuk berbaris dihadapan para senior. Kami diharuskan untuk memperkenalkan diri satu persatu dihadapan mereka.
Saat tiba giliranku, kak Andre yang melihatku sontak kaget dan kemudian tersenyum lembut, membuatku merasa lebih aman.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan siang dan kami dipersilahkan untuk istirahat terlebih dahulu. Para senior memberikan pengumuman agar kami harus segera kembali ke barisan setelah bel berbunyi.
Kamipun bergegas membuyarkan barisan dan menuju kantin sekolah. Karena antrian yang sangat panjang, alhasil membuatku terlambat untuk menikmati makan siangku. Aku, Nadya, Sherin, dan Ditya duduk di bangku yabg sama. Hingga bel tanda ospek dimulai, aku baru memasukkan dua suap ke mulutku. Cepat-cepat aku, Nadya dan Sherin berdiri dan hendak kembali ke lapangan. Tiba-tiba langkahku berhenti saat Ditya memegang tanganku dan menahanku.
"habiskan dulu makananmu... kamu baru makan dua suap aja" kata Ditya menasehati
"*enggak ah, nanti kita telat dihukum lagi"
"lebih baik dihukum daripada kamu jatuh sakit"
"udah gakpapa, aku kuat kog*" jawabku tersenyum mencoba meyakinkan Ditya.
"mak, buruan....." kata Sherin melambaikan tangannya ke arahku.
Aku melepaskan pegangan tangan Ditya dan kemudian berlari mengikuti Nadya dan Sherin.
Setelah kami berempat sampai di lapangan, ku lihat para siswa ospek lainnya sudah melanjutkan kegiatannya.
__ADS_1
Salah satu senior cantik yang terlihat sangat galak datang menghampiri kami.Kulihat wajahnya yang merah karena menahan marah. Kubaca nama yang tertempel di atribut seragamnya. Tertulis Cantika R. M. Namanya membuatku menahan ketawa, "kenapa harus ada rumah makan di namanya" batinku dalam hati.
"kalian darimana saja, kenapa baru kembali" katanya marah sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "apa kalian tidak dengar pengumuman yang sudah disampaikan tadi? hah?"
Kami hanya diam dan mengatakan "*maaf"
"ikut aku, kalian harus diberi hukuman*"
Kamipun menurut dan mengikuti langkah wanita itu. Dia berhenti tepat didepan kak Andre yang sedang duduk mengobrol bersama Bimo, Kribo dan senior lain. Andre adalah senior yang paling disegani oleh kawan-kawannya. Selain memiliki wajah yang cukup tampan, dia juga memiliki gaya yabg cool dan tidak banyak bicara.
"kenapa dengan mereka? tanya Kak Andre penasaran
"ini mereka telat 10 menit dari bel" kata Cantika merengek manja
Kami hanya terkikik geli mendengar gaya bicaranya yang seolah-olah anak kecil yang mengadu pada ayahnya. Hingga tanpa kami sadari kak Andre menoleh kearah kami.
"sudah kamu urus saja yang lain. biar aku yang memberi hukuman ke mereka" kata kak Andre mengibaskan tangannya menyuruh Cantika pergi. Cantika lalu pergi. Tatapannya melirik tajam kearah kami dan tersenyum kecut seolah-olah mengumpat saat melewati kami.
"maaf, aku tidak mungkin pilih kasih dengan yang lain meskipun aku mengenal kalian dengan baik. Aku akan tetap memberikan hukuman ke kalian, hanya saja lebih ringan. Itulah alasanku mengajak kalian menjauh dari senior lain,, Biar mereka tidak tahu hukuman apa yang akan kuberikan" kata Kak Andre lalu duduk di atas bangunan semen yang dibuat seperti layaknya tempat duduk mengelilingi pohon. Sedang kami masih tetap berdiri di tempat.
Satu persatu dari kami dipanggil oleh kak Andre untuk dihukum ringan. Dari yang pertama Ditya, mereka kemudian langsung disuruh kembali masuk ke ruangan mengikuti peserta ospek lainnya. Kemudian Sherin dan Nadya.
Aku mendapatkan giliran paling akhir. kurasakan kakiku mulai lelah terlalu lama berdiri. Tiba-tiba badanku lemas. Aku menundukkan kepalaku. Keringat sudah mengucur di seluruh wajahku. Aku memang merasa masih lapar karena sedari tadi pagi hanya makan baru dua sendok. Aku melupakan sarapanku saat di rumah karena takut akan terlambat ke sekolah. Kak Andre menatapku sedikit bingung saat melihat keringatku yang membasahi wajahku.
"kamu sakit?" kata kak Andre kujawabi dengan menggelengkan kepala pelan.
"kenapa wajahmu pucat sekali?" tanyanya lagi.
Aku mengangkat kepalaku dan seketika kurasa mataku mulai samar dan gelap. Kepalaku terasa berat dan tiba-tiba...... "brukkkkk..." . Tubuhnya terhuyung tak sadarkan diri. Dengan sigap kak Andre menopang tubuhku yang hampir terjatuh dan membawaku ke UKS. Kak Andre berlari sambil menggedong tubuh langsingku. Dia sedikit berteriak memanggil temannya yang lewat saat akan memasuki ruang UKS.
__ADS_1
"Ana, tolongin gue" kata kak Andre berteriak
"Astaghfirullah...ini kenapa Ndre" tanya Ana saat memasuki ruang UKS
"nggak tau tiba-tiba pingsan, lu tolong bantuin cariin minyak angin gih"
Ana lalu bergegas mencari minyak angin yang ada di kotak obat di ruangan UKS itu. setelah menemukannya, ia kembali menghampiri Kak Andre yang tampak cemas mengunggu.
"kamu keluar dulu Ndre" kata Ana mengusir Andre halus
"kenapa gitu" tanya Kak Andre heran
"ya aku mau buka kancing atasnya biar dia nggak pengap. masa iya kamu masih disini. kamu tunggu diluar dulu, nanti kalau sudah sadar aku kasih tahu kamu" kata Ana menjelaskan. Ana adalah siswi sopan. Penampilannya yang berhijab membuat teman-teman menilainya gadis baik.
Andre keluar dan duduk di samping koridor sekolah yang biasa dijadikan siswa duduk dan nongkrong. Ia segera mengambil benda pipih dari dalam kantong celananya dan mengetikkan sesuatu disana "Bro, gue lagi sama Vania sekaran. Dia lagi pingsan dan belum sadar. Nanti gue jelasin" kemudian mengirim pesan itu ke temannya yang tak lain adalah Devan. Setelah menunggu tak ada balasan dari Devan, ia kembali meletakkan benda pipih itu di saku celananya.
Selepas Andre keluar dari ruangan UKS, Ana segera menutup pintu dan kembali ke tempatku berbaring. Dia membuka kancing atas seragamku kemudian mengoleskan minyak angin di dada, pelipis dan bawah hidungku. Sesekali ia memijit telapak tanganku berhara aku akan segera sadar dan bangun.
Kurasakan sedikit pedas dan bau menyengat di hidungku. Pelan-pelan mulai kubuka mataku. Samar-samar ku pandangi langit-langit ruangan yang kurasa asing.
"Alhamdulillah...kamu udah sadar" kata Ana yang kemudian mengancingkan kembali seragamku dan berjalan mendekati pintu.
Saat pandanganku mulai bisa menyesuaikan keadaan, kulihat gadis berjilbab itu kembali masuk bersama kak Andre.
"aku dimana kak?" tanyaku mencoba bangun sambil memegang kepalaku yang terasa masih sedikit pusing
"kamu di UKS, tadi kamu tiba-tiba pingsan"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
**Jangan lupa like dan Vote ya
salam sayang selalu๐๐๐**