Cinta Vania

Cinta Vania
Mereka mengincarmu


__ADS_3

Devan sampai di depan rumah sesaat setelah para pengawal yang diutusnya tiba. Ia berbincang sebentar dengan orang-orang suruhannya sebelum kemudian menghubungi istrinya untuk meminta pak Amin membuka pintu gerbang.


Vania menyambut kepulangan suaminya di teras rumahnya dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. Wanita itu selalu saja tampil menawan meski hanya dengan menggunakan pakaian rumahan dan make up tipis.


"Mereka udah pergi, mas?" tanya Vania saat suaminya berjalan mendekatinya.


"Udah, sayang. Ayo masuk" ajak Devan merangkul bahu istrinya.


"Makan siang dulu, yuk. Aku tadi sama Bu Tini udah masakin kesukaan kamu lho"


"Makasih ya sayang, kalau begitu aku mandi sebentar ya" kata Devan sambil mencium puncak kepala istrinya.


"Aku tunggu di bawah ya, sambil nyiapin masakan di dapur"


"Iya"


*****


Sepasang suami istri itu menghabiskan waktu di kamar untuk istirahat usai makan siang. Seperti biasa, dada bidang Devan menjadi tempat favorit untuk Vania bersandar.


"Kita kapan pindah, mas?" tanya Vania yang merasa gusar sejak keberadaan dua lelaki asing yang berdiri di depan rumahnya. Ia sangat takut jika dua orang itu menerobos masuk dan menyakitinya.


"Aku sudah menghubungi kepala pelayan di rumah utama. Lusa kita bisa pindah kesana. Aku juga sudah memberitahu Bu Tini untuk menyiapkan barang-barang yang kita perlukan. Kamu tinggal menyiapkan baju sama keperluan pribadi aja, nanti ada sendiri yang ambil kesini" kata Devan sambil membelai rambut istrinya.


"Iya, mas"


"Kamu nggak usah takut, dua lelaki itu nggak akan pernah berani menyakitimu"


Vania duduk tegak dan membalikkan tubuhnya. "Maksudnya?"


"Mereka mengincarmu, Mereka hanya disuruh untuk memata-matai kamu dan menculikmu"


"Aku semakin nggak ngerti, mas" jawab Vania mengerutkan dalam keningnya diikuti oleh kedua alisnya.


"Mereka orang suruhannya Leo. Leo bersikeras ingin memilikimu. Jadi dia menggunakan cara itu untuk mendapatkanmu"

__ADS_1


"Gila... dia benar-benar sudah gila" kata Vania menggelengkan kepalanya.


"Kamu nggak usah takut. Aku nggak akan biarkan itu terjadi. Aku pasti akan selalu melindungimu. Tapi beberapa hari nanti aku akan sering menghabiskan waktu diluar untuk menyelidiki kasus Leo. Aku sudah mengerahkan banyak pengawal di depan rumah. Sementara jangan kemana-mana dulu. Diamlah di rumah sampai aku pulang"


Vania memeluk erat tubuh suaminya. Ia merasa aman dengan perlindungan yang suaminya berikan.


"Makasih ya mas... Kamu selalu memberiku kenyamanan dan keamanan" kata Vania.


Devan mengecup ujung kepala Vania dan membelainya.


"Sekarang istirahat ya, setelah masalah ini selesai, aku akan membawamu berobat untuk mengikuti program kehamilan yang kamu inginkan" kata Devan.


Vania melepaskan diri dari pelukan suaminya dan kemudian membenarkan posisinya untuk tidur siang.


Selepas istrinya mulai tertidur, Devan bangun dan beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil ponselnya dan berjalan menuju balkon untuk menghubungi ayahnya jika siang ini Ronald berangkat ke London untuk mengurus kasus dugaan penghambatan pembangunan proyek.


Setelah itu ia beralih menghubungi Nadya.


"Assalamualaikum, Nad. Lo sibuk nggak?"


"Iya, Nad. Nggak apa-apa... Biar kapan-kapan kita aja yang main ke rumah kalian"


"Oke deh, gue sama kak Andre pasti seneng banget kalau kalian kesini"


"Gini Nad, gue tanya sesuatu soal Leo"


"Leo siapa?" tanya Nadya yang memang sudah lupa jika ia pernah punya teman bernama Leo.


"Leo, teman kuliah sekelas Lo sama Vania yang dulu pernah ngelecehin Vania waktu di hotel"


"Oo....si br*ngs*k itu... Ngapain lagi emang dia? Bikin masalah lagi ya?"


Devan menceritakan pertemuannya dengan Leo di kantor dan kejadian yang menimpa perusahaan serta kehadiran dua lelaki yang seharian berada di depan rumahnya.


"Wah... udah sint*ng tau orang" umpat Nadya merasa kesal dengan perlakuan Leo.

__ADS_1


"Makanya itu, gue cuma pengen tau sebenarnya Leo yang kamu kenal itu orangnya kaya gimana sih?"


"Kalau dulu ya, menurut aku itu Leo anaknya agak keras kepala. Apalagi kalau punya keinginan sesuatu, dia pasti kejar terus sampai berhasil apapun resikonya. Ya, bisa dibilang seperti sekarang ini sih, cuma yang aku bingungkan ini agak extreme sih, secara yang diincarnya itu wanita berkeluarga"


"Mungkin nggak dia sedikit punya sifat ceroboh?"


"Itu memang dia banget. Soalnya dulu juga sering kena masalah tiap ngejar cewek waktu kuliah, terakhir pas sama Vania itu. Bukankah jelas itu tindakan bodoh yang tidak ia perhitungkan resikonya"


"Ya... Kau benar. Baiklah, makasih banyak kalau begitu, Nad. Sekarang aku mengerti"


"Iya semoga masalah cepat selesai dan rumah tangga kalian bisa kembali membaik"


"Amiin... makasih banget ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


******


Hari berikutnya, Ronald menginfokan lewat sambungan video call jika ia sudah mengamati dan meneliti pergerakan setiap karyawan yang bekerja di proyek pembangunan. Dan semuanya tidak ada yang bermasalah. Ia meyakini jika orang yang bersekutu dengan Leo memiliki pengaruh besar di SA Group. Karena melihat semuanya dilakukan dengan rapi tanpa meninggalkan jejak.


"Kamu terus selidiki sampai tuntas. Aku yakin ada pasti ada hal kecil yang Leo lewatkan sehingga bisa membuat kita maju lebih cepat untuk membongkar kedoknya" pesan Devan ke Ronald.


"Baik, pak. Kami disini sudah menemukan sedikit cela untuk masuk kedalam rencana mereka"


"Kau tahu sesuatu?"


"Menurut info dari orang kita yang sudah masuk dalam kelompok mereka, besok Leo akan meminta orang suruhannya untuk segera menculik nona Vania. Mereka tahu jika besok anda akan mengajak nona keluar untuk pindah ke rumah baru. Jika anda berkenan, kita bisa menjebak mereka dengan rencana baru"


"Jadi Maksudmu, aku harus menjadikan istriku sebagai umpan untuk menjebak mereka?" tanya Devan dengan sedikit meninggi karena tidak suka dengan saran Ronald.


"Maaf, boss. Bukan maksud saya memasukkan Nona ke kandang macan. Tapi ini adalah cara satu-satunya. Kita akan mengatur strategi dulu sebelum bertindak. Ini hanya akan menjadi rencana kita berempat, saya, anda, nona dan orang suruhan kita yang masuk ke dalam kelompok mereka. Kami bisa pastikan nona akan tetap aman dan selamat. Dengan begitu kita juga bisa tahu siapa orang dalam yang bersekongkol dengan Leo"


"Akan kupikirkan dulu. Aku akan menghubungimu setelah ini".


Devan memutuskan sambungan teleponnya. Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangannya. Bingung dengan situasi yang ia hadapi. Ia segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah untuk mencari keberadaan istrinya yang sedang membantu Bu Tini menyiapkan makan malam di dapur.

__ADS_1


__ADS_2