Cinta Vania

Cinta Vania
Aku ingin dirimu


__ADS_3

Devan masuk ke dalam rumah utama setelah sesaat kemudian mobil yang ia kendarai berhenti tepat di carport yang cukup besar di bagian samping rumahnya.


Waktu sudah menunjukkan malam yang sangat larut. Devan melihat Bi Siti yang sedang berada di dapur menata buah di kulkas.


"Bibi belum tidur?" tanya Devan membuat Bi Siti menoleh.


"Eh, aden sudah pulang ya? Bibi mau selesaiim menyimpan buah di kulkas sebentar. Aden sudah makan? Kalau belum biar saya siapkan"


"Sudah kok, Bi. Tidak perlu repot-repot. Setelah selesai segeralah istirahat"


"Iya, den" jawab Bu Siti sopan sambil menganggukkan kepalanya.


"Oo iya, bagaimana dengan istriku. Apa dia ada masalah?" tanya Devan.


"Nona baik-baik saja, tuan. Setelah makan malam, yoya langsung kembali ke kamar untuk istirahat"


"Baiklah, terimakasih, Bu. Saya ke kamar dulu" pamit Devan ke Bi Siti.


"Iya, den" jawab Bi Siti.


Devan membawa kakinya melangkah menaiki tangga menuju kamar dimana tempat istrinya berada. Sebuah pintu kayu bercat putih dengan ukiran mewah yang menjadi pembatas menuju ruangan kamar didorongnya pelan setelah memutar kenop. Devan melihat Vania nampak terlelap dalam tidurnya menghadap arah pintu. Tak ingin mengganggu tidur istrinya, ia menutup kembali pintu hati-hati dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Devan berhasil mengganti pakaiannya dengan baju rumahan yang diambilnya dari dalam almari sesaat setelah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Vania masih terlelap di tidurnya. Sangat jelas terlihat wanita itu begitu kelelahan.


Devan merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia memiringkan badannya dengan menumpu kepala diatas tangan kirinya, menatap wajah polos yang kini tengah terlelap dalam mimpi. Wajah yang selalu ia rindukan setiap detik dan menitnya. Devan mendekatkan wajahnya. Ia mendekap tubuh Vania dan membenamkan wajah manis itu di dadanya. Beruntung Vania yang tidur begitu nyenyak tak terbangun. Kini mereka tidur saling berdekapan dengan Devan memeluk Vania.


*****

__ADS_1


Vania bangun lebih awal dari Devan. Ia terkejut saat mendapati suaminya itu tiba-tiba tidur di sebelahnya. Setahunya semalam suaminya itu tidak pulang. Tapi entahlah mungkin ia tak menyadari kepulangan suaminya, pikirnya.


Vania bergegas membersihkan badannya untuk bersiap menghadap Sang pencipta.


Vania telah menyelesaikn aktifias paginya. Ia kembali merangkak naik ke atas tempat tidur dan memperhatikan suaminya. Ada rasa tak tega membangunkan suaminya yang nampak sangat lelah di guratan wajahnya. Ia memutuskan untuk turun kembali dan keluar dari kamar untuk berjalan-jalan di sekitar halaman rumah mencari udara segar.


Matahari mulai menampakkan diri dari persembunyiannya. Vania memutuskan kembali masuk rumah dan menemui suaminya di kamar. Lelaki itu masih saja dengan pulasnya tertidur tanpa bergerak dari posisinya sedikitpun.


"Hish...lelaki ini. Mungkin terlalu lelah, sampai nggak bergerak sedikitpun" gumam Vania berdecak heran.


Semenjak menikah, baru kali ini Vania melihat suaminya itu bangun siang. Vania duduk di tepi tepat tidur disamping suaminya. Dipandanginya wajah yang selama ini selalu menghiasi angan-angannya setiap waktu. Perlahan tangan Vania bergerak ke wajah polos yang sedang terlelap itu. Jari telunjuk Vania bergerak menyentuh pipi Devan yang tampak mulus meski seorang laki-laki. Perlahan berpindah ke alis dan turun ke hidung. Kemudian kembali lagi ia mengusap pipi Devan dengan jari telunjuknya. Senyum manisnya terus mengembang saat mata pemilik wajah itu terus terpejam tanpa bergerak. Vania sangat menikmati setiap sentuhan jarinya di wajah Devan. Sentuhan yang selama ini bahkan tak pernah terlintas di pikirannya akan kembali terjadi semenjak ia memutuskan untuk pergi dulu.


"Kagum ya sama ketampanan suamimu ini" suara itu lolos begitu saja dari bibit Devan disertai kekehan kecil diikuti oleh kedua matanya yang mulai terbuka saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh wajahnya.


Vania yang terhentak sedikit kaget hanya berdecak kesal karena suaminya itu mulai berlagak keren.


"Huft... kalau udah bangun melek dong" ujar Vania sedikit memaksa dan menjauhkan tangannya dari wajah Devan. Namun dengan cepat Devan menahan tangan itu dan melingkarkan salah satu tangannya di pinggang Vania. Devan menarik tubuh itu mendekat padanya hingga tubuh mereka saling berhimpitan. Bahkan tak ada lagi jarak karena posisi Vania yang duduk dengan tubuh tersungkur menghimpit tubuh Devan.


"Udah jam enam lebih"


"Kok kamu nggak bangunin aku sih, sayang"


"Kamu tidurnya nyenyak banget. Akunya nggak tega bangunin. Emang semalam pulang jam berapa?" tanya Vania sambil memainkan jarinya di pipi Devan.


"Jam dua, sayang"


"Capek banget pasti ya?"

__ADS_1


"Tadinya iya, tapi sekarang udah enggak setelah lihat wajah manis wanitaku. Apalagi sekarang...." kata Devan tanpa melanjutkan perkataannya. Namun tatapan wajahnya penuh dengan maksud ke Vania.


"Apa?"


"Kau yang membangunkan singa, sekarang singanya lapar" kata Devan basa-basi


"Huh? Singa? Lapar? maksudnya? Aku nggak ngerti" tanya Vania polos.


"Aku mau kamu, sayang" kata Devan dengan tatapan penuh damba.


"Ini udah pagi, mas" jawab Vania mengingatkan suaminya. "Apa kamu nggak ke kantor?"


"Aku nggak ingin ke kantor. Hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu" sela Devan membelai lembut wajah istrinya.


Tanpa menunggu waktu lama ia langsung saja mengecup berulang-ulang bibir Vania yang merekah. Hingga perlahan kecupan itu berubah jadi lumayan kecil.


"Mas, aku sudah mandi" kata Vania merengek manja saat Devan mengakhiri ciumannya. Semenjak rasa cinta dan sayangnya pada suaminya tumbuh, Vania bukan istri yang suka menolak permintaan suaminya saat berhubungan. Hanya saja hari ini ia merasa tubuhnya sakit semua.


"Nanti kita mandi bersama, sayang" seru Devan sedikit memaksa. Akhirnya tak butuh waktu lama Devan melepas satu persatu kain yang melekat di tubuh istrinya. Tak lupa ia pun menanggalkan kaos oblong dan celana boxernya.


Pagi itu terjadi pergumulan disertai keringat antara sepasang sejoli yang saling mencintai dan memantapkan hubungan dalam ikatan kasih. Vania yang sudah terbiasa dengan permainan suaminya yang tiada lelah kini mulai bisa mengimbangi setiap pergerakan yang Devan lakukan. Suasana kamar yang seharusnya dingin karena mesin pendingin mendadak menjadi panas karena tumpahan keringat yang membasahi tubuh keduanya.


Devan mengakhiri permainannya setelah keduanya mencapai kenikmatan masing-masing. Ia menarik selimut yang hampir saja terjatuh di lantai untuk menutupi tubuh polos keduanya sambil meredakan nafas mereka yang masih memburu akibat pergumulan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mohon maaf ya readers. Telat upload karena author sangat sibuk kemarin, ada musibah dan urusan keluarga yang nggak bisa ditinggal.

__ADS_1


Terimakasih atas kesediaannya menanti up dari author. Semoga kalian dilimpahkan rejekinya dari Allah SWT, Aamiin....🤲🤲


Salam sayang selalu...💗💗😘


__ADS_2