Cinta Vania

Cinta Vania
Hamil muda?


__ADS_3

"Kenapa tidak bilang dari awal sih kalau kamu ke Surabaya jemput Juna?"


"Ya, gimana mau bilang. Orang dari kemarin kamu cuekin aku terus. Jadi aku inisiatif jemput Juna kesini biar kamu jadi kaya dulu lagi ingat sama aku" protes Devan sambil cemberut.


"Maafin aku ya, mas. Entah kenapa kahir-akhir ini aku sering mual kalau terlalu dekat sama kamu. Makanya aku enggak mau dekat-dekat" kata Vania mengusap pipi suaminya. Berharap suaminya bisa mengerti akan penjelasannya.


"Bisa gitu? Masa sama suami sendiri mual"


"Ya tidak tahu. Kenyataannya seperti itu. Ini saja aku udah mual, aku tahan-tahan" kata Vania dengan ekspresi yang berbeda. Ia kemudian memindahkan Juna ke pangkuan suaminya dan berlari menuju kamar mandi.


"Lho,,, sayang. Kamu kenapa?" teriak Devan. Devan menurunkan Juna untuk duduk sendiri di sofa.


"Bentar ya, Juna. Papa bantuin mama dulu. Kamu disini sebentar" ucap Devan ke putranya. Juna mengangguk mengerti dan duduk dengan tenang.


Devan berlari menuju kamar mandi dan berhenti di depan wastafel dimana istrinya berada. Ia memijit-mijit tengkuk Vania membantunya untuk mengeluarkan isi dalam perut istrinya yang nampak tertahan.


"Udah, mas" kata Vania terengah-engah agar suaminya berhenti memijit.


"Kamu sakit?" tanya Devan cemas.


Vania hanya menggeleng pelan. Kemudian kembali memuntahkan isi perutnya. Dengan sigap Devan membantu lagi memijit istrinya.


Vania membersihkan mulut dan wajahnya dengan air. Wajahnya begitu pucat. Tubuhnya lemas dan tak berdaya. Vania mengakar wajahnya dan menatap cermin. Sejenak matanya berkunang-kunang. Kepalanya pusing membuat pandangannya kabur. Ia pun jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Devan masih berada di belakangnya . Lelaki itu dengan sigap menopang tubuh istrinya. Ia begitu panik mendapati Vania yang pingsan dalam pelukannya. Digendongnya tubuh istrinya keluar dari kamar mandi. Lalu dibaringkan di sofa.


"Mama kenapa, papa?" tanya Juna ikut panik.


"Mama pingsan, sayang. Sepertinya mama sakit. Juna main sama Bu Siti dulu ya, biar papa pindahin mama ke kamar dulu" kata Devan ke putranya dan dijawab dengan anggukan.


Devan memanggil Bu Siti agar mengajak Juna bermain di taman belakang. Sementara dirinya menghubungi dokter Niko agar segera datang memeriksa Vania.


Setelah menghubungi dokter pribadinya, Devan memindahkan istrinya ke dalam kamar. Ia begitu panik dan cemas hingga tak sabar menunggu kedatangan dokter Niko.


Setelah lima belas menit kemudian, dokter Niko datang diantar oleh Bu Tini ke kamar majikannya.


"Tolong segera periksa istri saya, dok. Dia tiba-tiba pingsan" ucap lelaki yang tak bisa menutupi kecemasannya.


Dokter Niko mengambil stetoskop dan memeriksa Vania. Kemudian beralih memegang pergelangan Vania untuk memeriksa denyut nadinya. Merasa ada yang berbeda, ia segera mengambil sfigmomanometer untuk mengukur tekanan darah Vania.


Melihat dari tanda-tandanya yang tidak seperti umumnya orang sakit, dokter Niko menyarankan Devan untuk menemui spesialis obgyn.

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana, dok? Saya tidak mengerti" tanya Devan.


"Gejala yang nona alami seperti gejala ibu hamil, tuan".


"Hamil? dokter yakin?" tanya Devan memastikan. Mengingat perkataan istrinya tempo hari yang mengatakan jika dirinya harus menerima kenyataan bahwa kecil kemungkinannya untuk hamil.


"Saya yakin, tuan. Dari mulai denyut nadi, detak jantungnya itu sama persis dengan ciri-ciri wanita hamil muda. Jadi saya tidak berani memberikan obat apapun. Dan biarkan saat ini nona istirahat dulu. Sebentar lagi ia pasti sadarkan diri" jawab dokter Niko.


Devan semakin kebingungan dengan penjelasan dokter Niko. Ia hanya diam tak bisa berkata-kata. Ia tak ingin terlalu percaya dengan perkataan dokter Niko karena takut kecewa. Meski begitu, rona bahagia di wajahnya nampak sangat jelas.


"Baiklah, tuan. Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, saya mohon pamit" ijin dokter Niko.


"Oo iya, terimakasih banyak, dokter"


"Sama-sama. Saran saya, segera bawa periksa nona Vania ke spesialis obgyn untuk mengetahui lebih jelasnya"


"Tentu, dokter" kata Devan yang kemudian menyalami tangan dokter Niko.


Dokter Niko keluar dari kamar untuk pulang diantar oleh Bu Tini sampai pintu depan atas permintaan Devan.


Devan yang merasa cemas dengan kondisi Vania terus saja duduk menemani seraya mengusap lembut rambut panjang istrinya yang tergerai. Ia bahkan melupakan kehadiran Juna yang kini tengah bersama Bu Siti.


"Permisi, tuan. Den Juna minta masuk ke dalam sama tuan" kata Bu Siti mengetuk pintu yang sengaja tak ditutup.


"Astaga... Hampir saja aku melupakan Juna" ucap Devan. Ia bergegas berdiri dan menghampiri putranya yang berada di gendongan Bu Siti.


"Sini sama papa, sayang" ajak Devan meraih tubuh putranya yang kini semakin gembul itu.


Juna kini berada di gendongan papanya. Begitu pula Bu Siti yang sudah kembali ke lantai bawah untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Mama kenapa, papa?" tanya polos Juna ke papanya sesaat setelah duduk di tepi tempat tidur.


"Mama sedang tidak enak badan, sayang. Doain mama biar cepat sembuh ya. Biar nanti bisa bikinin adik buat Juna" jawab Devan sekenanya. Entah yakin atau tidak dengan prediksi dokter Niko, baginya perkataan adalah doa. Dan saat ini ia sedang berdoa akan hadirnya bayi mungil dari rahim istrinya.


"Juna mau papa. Juna mau adik" kata Juna dengan girangnya.


"Iya makanya Juna doain mama ya, sayang" kata Devan mengajari putranya. "Nah, sekarang karena sudah malam, Juna bobok dulu ya" ajak Devan.


"Mama gimana, pa?"

__ADS_1


"Mama kan juga istirahat, sayang. Sudah ya, sekarang Juna bobok dulu di samping mama"


Juna mengangguk setuju. Ia pun segera berpindah sendiri di samping Vania tanpa diminta. Anak kecil itu bahkan memposisikan dirinya dengan berbaring.


"Juna mau dibacakan buku cerita?"


"Tidak usah, papa. Juna mau tidur saja biar papa bisa jaga mama"


Devan terharu dengan jawaban dari Juna. Anak kecil itu sangat peka sekali pikirnya. Ia mencium kening dan pipi Juna sebagai wujud rasa sayangnya. Setelah itu dengan tanpa diminta Juna langsung memejamkan matanya seolah memaksa dirinya sendiri untuk segera tertidur.


Devan yang sebenarnya sangat lelah sekali setelah perjalannya dari Surabaya tidak bisa memejamkan matanya. Ia sedang mengkhawatirkan kesehatan Vania. Lebih tepatnya memikirkan perkataan dokter Niko tentang kemungkinan Vania yang sedang hamil.


Tepat setengah jam kemudian, Vania sadar dari pingsan. Sosok pertama yang ia cari adalah suaminya.


"Mas..."


Devan yang tengah duduk di sofa terperanjat dan mendekati istrinya.


"Iya, sayang. Bagaimana keadaanmu?"


"Kepalaku pusing sekali" jawab Vania seraya memegangi kepalanya.


"Besok kita periksa saja, ya"


"Enggak mau, mas. Aku enggak kenapa-napa. Ngapain kita periksa" tolak Vania.


"Kamu tadi pingsan, sayang. Aku khawatir sama kamu. Aku nggak mau kamu sakit. Mau, ya?" rayu Devan.


Vania menggelengkan kepala cepat. Ia takut dengan kata dokter mengingat beberapa waktu lalu terus berurusan dengan dokter karena rahimnya yang bermasalah.


Devan terus menasehati istrinya dan memaksanya dengan lembut agar Vania mau mengiyakan ajakannya untuk ke dokter. Alhasil Vania mau dengan negoisasi malam ini Devan harus membelikannya keripik jamur.


"Kamu kan tidak suka jamur. Apalagi kamu ada alergi sama makanan itu, sayang"


"Tapi aku pengen banget makan itu, mas"


Devan menghela nafas pelan mengingat jam dinding sudah menunjuk di angka sembilan. Akhirnya ia dengan terpaksa menyetujui permintaan istrinya.


"Ya sudah aku keluar sebentar cari makanan yang kamu minta" ucap Devan berdiri. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.

__ADS_1


__ADS_2