
Vania berjalan tergesa-gesa saat melewati lobby, ia tidak ingin suaminya terlalu lama menunggu.
"Vania.." teriak seseorang memanggil menghentikan langkah kakinya.
"David..." kata Vania setelah menoleh
"Bagaimana keadaanmu? aku pikir kamu masih ijin" kata David yang sudah mendekat.
"Emm... Aku baik-baik saja, maaf ya David, kita ngobrol lain kali saja, aku sedang buru-buru" kata Vania mengakhiri percakapannya.
Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang terus mengeraskan rahangnya memperhatikan kedekatan mereka.
Vania berjalan menghampiri suaminya yang sudah berada di dalam mobil. Ia memastikan terlebih dahulu kanan kirinya tidak ada yang melihatnya sebelum masuk mobil. Saat dirasa aman, dia bergegas masuk dan menutup kembali pintu mobil.
Devan menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar halaman gedung.
Sepanjang perjalanan, Devan hanya diam dan terus menatap jalan di depannya tanpa menoleh sedetikpun ke Vania. Wajah pria itu tampak begitu dingin membuat Vania tak berani memulai percakapan. Dan ini pertama kalinya Vania dibuat takut melihat raut wajah pria yang ada di sebelahnya.
Sesampainya di rumah, Devan masih tetap diam dan tak banyak bicara. Ia memilih untuk mengobrol dengan Adit dan membiarkan Vania di kamarnya tengah bersiap.
Devan sesekali mencoba bersikap sebiasa mungkin saat berhadapan dengan para anggota keluarga lain, dan akan kembali acuh saat hanya bersama Vania.
Vania mengabaikan sikap acuh suaminya dengan membereskan barang-barangnya yang akan dibawa ke rumah barunya.
"Apa kamu butuh bantuan mama, sayang?" tanya mama yang melihat Vania tampak sibuk memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper saat memasuki kamar putrinya.
"Eh Mama... ini udah hampir selesai kok" Kata Vania sambil memasukkan baju terakhirnya ke dalam koper.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Vania berdiri menghampiri mamanya yang duduk di tepi ranjang. Wanita tua itu nampak memaksakan senyumnya.
"Ma..." panggil Vania lembut. Ia merasa berat harus berpisah dengan orang yang sudah melahirkannya. Ia memeluk tubuh mamanya dan meneteskan air mata.
"Sayang... kamu ini sudah bersuami, kenapa masih cengeng sekali. Walau bagaimanapun kamu harus menurut pada suamimu" katanya sambil mengelus pundak putrinya. Wanita tua itu nampak tegar meski sebenarnya ia juga begitu sedih karena sebentar lagi akan tak tinggal bersama putrinya lagi.
Vania melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah mamanya.
"Mama yakin Vania tinggal?" tanya Vania
__ADS_1
"Hey, kamu ini... mama disini tidak sendiri sayang, bukankah kakakmu sudah pindah ke rumah ini, apalagi sebentar lagi juga kak Rena akan melahirkan, rumah ini pasti akan ramai dengan suara anak kecil, maka tidak akan kesepian, lagi pula kamu juga bisa kapanpun main kemari" kata Mama Karina mencoba meyakinkan putrinya agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Vania tersenyum lembut, ia begitu puas dengan jawaban mamanya, "aku akan selalu merindukan mama"
"Sudahlah, cepatlah turun dan temui suamimu, kasihan dia biar tidak terlalu malam"
"baik ma"
Ibu dan anak itu turun ke lantai bawah. Devan yang melihat istrinya membawa sebuah koper besar di tangannya segera berdiri menghampiri untuk mengambil alih koper itu.
"Akan lebih baik kalau kalian berangkat sekarang, biar nanti bisa istirahat lebih cepat" kata mama Karina.
"iya Ma, kami pamit dulu kalau begitu" pamit Devan.
Para penghuni rumah mengantar sepasang suami istri itu sampai di teras rumah.
Mobil yang membawa Vania dan Devan telah sampai di depan halaman rumah baru mereka. Sepasang pengantin itu masih saja saling diam.
Devan turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Vaniq, kemudian ia mengambil koper yang ada di bagasi belakang.
Pak Amin dan Bu Tini yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka segera menyambut majikannya.
Pasangan pengantin baru itu hanya menjawab dengan senyum ramah dan mengangguk. Mereka memasuki rumah.
"Tolong bawa ke kamar atas ya Pak" kata Devan.
"iya tuan" jawab Pak Amin sambut membawa koper menaiki tangga.
Vania berhenti memperhatikan sekeliling. Rumah itu nampak sederhana dari luar. Tapi saat masuk ke dalam ruangannya, ia nampak terpukau dengan furniture dan interior yang didesain begitu apik sehingga membuat nyaman bagi penghuninya.
Devan meninggalkan Vania yang masih terdiam di tempatnya. Ia menuju kamarnya yang lantai atas.
"Sudah Pak?" tanya Devan saat melihat Pak Amin akan keluar kamar.
"Sudah tuan"
"Makasih ya Pak, kalian boleh pulang dan kembali besok pagi"
__ADS_1
"Iya tuan, saya permisi" pamit Pak Amin yang diangguki Devan.
Pak Amin turun ke lantai bawah menemui istrinya untuk diajak pulang dan berpamitan pada majikan perempuannya.
"Nona, kami permisi dulu" pamit Bu Tini
"Lho, kalian mau kemana?"
"Kami akan pulang Nona, besok pagi kami akan kembali. Untuk makan malam sudah kami siapkan di meja makan"
" oo begitu, terimakasih... hati-hati ya Pak, Bu..." kata Vania ramah.
"iya Nona, permisi"
Vania menyusul Devan yang sudah naik lebih dulu ke kamarnya.
Pintu kamar itu terbuka. Tampak Devan sudah mengganti pakaian kerjanya dengan kaos oblong dan celana putih. Pria itu tengah duduk di tepi ranjang membelakangi pintu.
"Kak..." panggil Vania pelan.
Devan hanya menoleh tanpa menjawabnya. Wajahnya masih dingin seperti tadi.
Vania mendekati suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Masih marah?" tanya Vania pelan sambil memandang wajah suaminya yang hanya diam dan menatap ke lantai.
"Maaf ya..." lanjutnya karena yang diajak bicara tak menyahut.
"Cepat mandilah, setelah itu kita makan malam" kata Devan tanpa senyum seolah menghindari pertanyaan istrinya.
"Aku tidak akan makan" kata Vania tiba-tiba membuat Devan menoleh kembali ke arahnya.
"Aku nggak mau kamu sakit" kata Devan tegas.
"Lebih baik aku sakit daripada harus kau diamkan seperti ini. Lalu buat apa aku mengikutimu kemari kalau hanya untuk kau acuhkan" kata Vania dengan intonasi meninggi. Ia memberontak meminta penjelasan kepada suaminya. Bahkan kini air matanya lolos begitu saja saat sorot mata Devan menatapnya tajam.
Tatapan Devan melemah seketika berubah menjadi iba saat melihat air mata istrinya. Ia menggerakkan tubuhnya agar menghadap istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang belum terbiasa menghadapimu, Jujur tak ada niat diriku untuk mengacuhkanmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku yang kalut setelah seharian ini berkali-kali berdebat denganmu. Kau tahu aku begitu mencintaimu, sakit sekali rasanya selalu mendengar penolakan darimu. Tak masalah jika kau belum bisa mencintaiku, tapi aku benci melihatmu begitu dekat dengan lelaki lain" kata Devan lirih.