Cinta Vania

Cinta Vania
Galak seperti Oma


__ADS_3

Untuk pertama kalinya mereka tidur bersama setelah tiga tahun berlalu. Meski tak ada aktifitas layaknya suami istri, namun bisa tidur dipeluk oleh Devan merupakan kebahagiaan bagi Vania. Pun dengan Devan, lelaki itu tampak nyenyak dengan tidurnya. Mungkin karena rasa nyaman dan tenang bisa kembali bersama orang yang dicintainya setelah sekian lama menghilang.


Sepasang suami istri itu bangun di waktu sore pukul setengah lima. Vania bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah tidur terlalu lama. Disusul oleh Devan, mereka melaksanakan aktifitas sore seperti yang dilakukan oleh istrinya.


"Aku akan memesankan makanan untukmu, mas" kata Vania sambil melipat sajadah yang habis dikenakan sholat Maghrib oleh suaminya dan meletakkannya di atas lemari.


"Tidak perlu, aku ingin kita jalan-jalan melihat pemandangan malam Surabaya sekalian mencari makan. Aku yakin kamu faham betul daerah sini"


"Apa kau yakin? Aku hanya punya motor untuk menemani kita jalan-jalan. Aku takut kamu nanti sakit" kata Vania


"Aku kau menghinaku, huh? Aku ini lelaki kuat. Aku bahkan sanggup membuatmu lemas hanya dalam waktu semalam. Bagaimana mungkin akan sakit hanya karena naik motor" kata Devan memicingkan matanya dengan senyum menyeringai.


"Hentikan bicaramu, kenapa kau cabul sekali" kata Vania menutup.wajahnya karena malu.


Devan terkekeh melihat istrinya malu-malu. Ia meraih tangan Vania yang menutup wajahnya.


"Besok aku akan pergi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Aku sudah menyimpan nomor dari ponselmu. Sayangnya aku akan sangat sibuk disana dan tidak bisa janji sering-sering menghubungimu. Aku ingin sepulang dari Kalimantan nanti, kamu sudah siap ikut bersamaku" kata Devan mengusap pipi Vania dengan lembut.


Vania mengatupkan bibirnya dan mengangguk. "Aku akan segera mempersiapkannya mulai besok. Tapi akankah kamu lama disana?" tanya Vania


"Sepertinya iya, tapi aku janji akan segera kembali jika semuanya beres. Dan aku akan membawamu kembali pulang ke rumah" jawab Devan yang diakhiri dengan mengecup kening Vania.


Keduanya pergi keluar rumah dengan menaiki motor matic milik Vania. mereka menyusuri padatnya jalanan kota pahlawan yang ramai akan sekumpulan kendaraan yang sedang bermalam minggu.


Motor yang mereka naiki tiba di sebuah LOOP Stadion Surabaya seperti yang Vania arahkan. Lokasi itu bisa dibilang cukup hits di kalangan anak muda Surabaya. LOOP yang berdiri sejak 2009 ini memiliki 6 zona yang menawarkan berbagai macam kuliner. Ada lebih dari 20 stand makanan di area outdoor dan restoran-restoran dengan rooftop. Sehingga sangat cocok bagi mereka yang sedang menikmati keromantisan berdua dengan pasangan sambil menikmati makanan dan jajanan disana.


Mereka memilih salah satu meja yang berada di bagian ujung agar lebih nyaman.


Selama menunggu makanan pesanan mereka datang, Devan selalu menggenggam tangan istrinya dan tak henti-hentinya tersenyum memandang Vania.


"Silahkan mas, mbak" kata salah satu pelayan datang menyodorkan makanan di meja mereka.


"Makasih ya mbak" kata Vania ramah sebelum pelayan itu pergi.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati makan malam berdua dengan diiringi alunan musik yang diputar oleh salah satu pemilik stand.


Tak berlangsung cukup lama, Vania mengajak Devan untuk pergi karena suasana yang terlalu bising. Ia tahu betul suaminya itu tidak begitu nyaman keramaian. Mereka menuju motornya yang terparkir dan melaju pergi.


"Kita kemana lagi?" tanya Devan sedikit keras agar istrinya yang membonceng di belakang mendengar suaranya.


"Pulang aja gimana?" tanya balik Vania sambil meletakkan dagunya diatas pundak Devan.


"Kenapa?"


"Bukannya besok kamu harus berangkat pagi sekali? Jangan sampai kamu terlalu lelah dan kurang istirahat" ujar Vania sedikit memelankan suaranya saat mereka berhenti di lampu merah.


"Sayang, kapan lagi aku bisa mesra-mesraan sama kamu disini?" Kata Devan tanpa menoleh. Ia meraih tangan kanan Vania dan meletakkan ya diatas pahanya. Ia mengusap punggung tangan Vania seolah memohon agar mereka tetap menikmati kebersamaan mereka.


"Kamu harus istirahat, mas. Ini udah jam setengah sepuluh lho" ujar Vania sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Sebentar doang, yang. Sejam lagi deh"


"Taman dekat kontrakan kamu gimana?"


"Iya oke, terserah kamu"


"Kok jawabnya kaya nggak ikhlas sih yang"


"Habisnya kamu bandel banget dikasih tahu. Kalau terjadi apa-apa sama kesehatan kamu kan aku juga jadi khawatir mas" kata Vania kesal.


"Baiklah kita pulang sayang, udah nggak usah ngambek ya" kata Devan merayu istrinya.


"Mesti diomelin dulu ih baru nurut" kata Vania cemberut membuat Devan tertawa kemudian melajukan kembali motornya setelah lampu lalu lintas berubah hijau.


Sampai di rumah, Vania dan Devan bergantian membersihkan diri di kamar mandi. Setelah melakukan rutinitasnya, mereka berbaring di tempat tidur dengan saling memeluk dan mengobrol.


"Mas besok jadi berangkat pagi jam berapa?" tanya Vania.

__ADS_1


"Jam enam dan aku langsung menuju Kalimantan. Aku sudah meminta Ronald untuk menyiapkan jet pribadi karena waktunya terlalu mepet jika harus kembali ke Jakarta dulu"


"Aku akan mengantarmu besok"


"Enggak perlu, sayang. Kamu nggak perlu ikut ke bandara. Aku akan meminta sopir perusahaan cabang untuk mengantarku ke bandara. Kamu cukup antar kepergianku sampai di depan rumah saja"


"Kamu yakin aku tak perlu.mengantarmu?" kata Vania mendongakkan kepalanya agar bisa melihat jelas wajah suaminya.


"Aku tidak ingin merasa berat meninggalkanmu karena melihatmu disana" kata Devan mencium kening istrinya.


"Ya sudah ayo kita tidur, sudah malam" kata Devan memeluk erat tubuh istrinya yang semakin langsing itu.


Vania membenamkan wajahnya di dada bidang Devan. Ia mencium wangi maskulin tubuh suaminya yang membuatnya tak butuh waktu lama untuk terlelap.


*****


Suara tarhim sebelum adzan subuh membuat Vania terbangun dari tidurnya. Ia bergegas bangun dan membersihkan diri sebelum menuju dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat.


Suara penggorengan bersama spatula yang saling bersentuhan dan aroma nasi goreng yang tercium harum membuat Devan terbangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju dapur mencari keberadaan istrinya.


"Astaghfirullah" ujar Vania karena terkejut tiba-tiba ada dua tangan yang melingkar di perutnya. Vania sedikit memutar kepalanya ke belakang. "Kamu ini ngagetin aja, mas" lanjutnya sambil mengaduk nasi gorengnya.


"Kenapa masak sepagi ini sih yang" kata Devan menyandarkan dagunya dipundak Vania.


"Kamu kan mau berangkat pagi, mas. jadi aku harus pastiin kamu sarapan dulu sebelum berangkat" kata Vania yang kemudian mematikan kompornya.


"Kamu nggak perlu repot-repot seperti ini" jawab Devan.


Vania melepaskan tangan suaminya dan membalikkan badannya menghadap Devan.


"Sudah jangan cerewet, mandilah dulu lalu sholat subuh. Aku sudah menyiapkan semua perlengkapanmu. Jangan sampai kamu terlambat sampai di Kalimantan".


"Ceh... Galakmu sudah seperti Oma" gerutu Devan membuat Vania menahan senyum.

__ADS_1


__ADS_2