
drrrtt....drrrtt...drrrt...
Nadya meraih ponselnya yang bergetar diatas meja. Dilihatnya tertera nama Vania di layar ponselnya. Digesernya tombol hijau dan kemudian diletakkan ditelinganya
"iya Van, gue lagi dikantin" selang beberapa detik Vania diam mendengarkan. "Oke gue yang kesana aja" lanjutnya
Nadya mematikan panggilannya dan meletakkan ponselnya disaku roknya
"sorry ya kak, Vania udah nungguin di kelas. aku balik dulu y.." pamit Nadya dan Andre mengangguk.
Selepas Nadya mulai menjauh, Andre pun keluar dari kantin menghampiri Devan dan yang lain. Sepanjang perjalanan, Andre terus berfikir cara menyampaikan berita tersebut ke Devan. Walau bagaimanapun dia harus berkata jujur. Apapun reaksi Devan.
Devan menunggu penjelasan yang akan disampaikan oleh Andre. Lebih tepatnya menunggu keadaan sepi hanya berdua dengan Andre.
Waktu menunjukkan sudah siang. sebagian anak yang telah lulus sudah memutuskan untuk pulang. Di sekolah mereka memang tidak seheboh sekolah-sekolah lain dimana para siswa-siswa saling merayakan kelulusan dengan membuat keramaian pawai ataupun mencoret-coret seragam sekolah. Selain karena faktor usia yang masih tingkat SMP, Kepala sekolah juga tidak ingin murid-muridnya terlihat buruk dengan tingkah anak-anak sekarang yang semakin tidak jelas saat merayakan kelulusan.
"bro, gue balik dulu ya.. cewek gue minta dijemput di sekolahnya. gue udah janjian kalau kami sama-sama lulus mau ngajakin dia ke dufan" kata Bimo setelah membaca pesan masuk di ponselnya
"gue juga ya... udah ditungguin nyokap suruh pulang" seru Kribo
Devan mengangguk dan memberikan kode jari ke Andre saat melihat Andre membuka mulut akan bicara. Akhirnya Andre mengurungkan niatnya dan ikut mengangguk kearah Bimo dan Kribo.
Bimo dan Kribo mengambil tas punggung yang tergeletak disamping mereka dan meletakkannya di bahu masing-masing. Mereka beranjak pulang meninggalkan Andre dan Devan.
Setelah pandangan Devan memperhatikan kawannya pulang yang semakin menjauh, Devan mulai membuka pembicaraan dengan Andre
"gimana" tanya Devan
"apanya"
"ya tadi...udah nggak usah pura-pura amnesia"
"Ooo..soal si Nadya? tadi dia cerita katanya Vania emang lagi deket sama anak baru itu, lupa tadi siapa namanya...tapi belum tahu gimana perasaan Vania. katanya sih anak itu kayaknya menaruh hati sama Vania" jelas Andre
Devan mulai terlihat gelisah. Dia makin merasa Yakin untuk mengurungkan niatnya menembak Vania. Baginya siswa baru itu merupakan saingan terberatnya. Disamping mereka bertemu setiap hari karena berada di kelas yang sama, anak baru itu juga memperlakukan Vania dengan sopan dan baik.
"baiklah, makasih buat informasinya" kata Devan lirih
"*terus, apa yang bakal lu lakuin"
"gue nggak bakal ngelakuin apa-apa, lagian juga gue bakal semakin jauh dari dia. kami udah nggak berada di sekolah sama. bahkan tinggal pun bukan di kota yang sama. gue bakal jaga aja perasaan gue. kalau emang anak baru itu bisa menjaga Vania dengan baik, gue bakal ikhlasin perasaan gue demi kebahagiaan Vania*" kata Devan pelan dan menunduk
"gue salut ama lu bro, lu bisa ngerelain perasaan lu, cinta memang nggak harus memiliki, gue yakin lu bakal dapat yang jauh lebik baik dari Vania" kata Andre memegang bahu Devan menyemangati.
Devan mengangkat kepalanya dan tersenyum. "ya udah kita pulang" jawab Devan beranjak dan diikuti oleh Andre.
------------------------------------------
__ADS_1
Hari terus berlalu. Hari inipun tepat dilaksanakan acara perpisahan dan pentas sekolah. Dimana para guru dan siswa sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. panggung sudah didesaik sebagus mungkin. Vania yang bertugas sebagai ketua panitia yang dibantu oleh para siswa lainnya termasuk Ditya juga mulai sibuk mengurus dan menyusun berlangsungnya acara. Para wali murid salebagai tamu undangan sudah mulai berdatangan dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Devan sedari tadi terus memperhatikan Vania yang tengah sibuk dengan kegiatannya. Sesekali dia melihat gadis yang dicintainya tengah mengobrol dengan anak baru itu sambil tertawa. Dia melihat wajah Vania tampak sangat bahagia saat bersama anak baru itu.
Saat gedung aula sudah mulai penuh dan waktu menunjukkan acara harus dimulai, pembawa acara mulai membuka acara yang dilanjutkan oleh sambutan Kepala sekolah dan ketua OSIS. Tak lupa kehadiran Vania sebagai ketua panitia acara sekaligus perwakilan siswa yang akan ditinggalkan, mulai maju ke atas panggung untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk disampaikan.
Devan memperhatikan Vania yang berdiri dengan microphone di tangannya. Dia tersenyum. "begitu cantik dan pintar" batinnya dalam hati.
Tibalah saat sambutan selesai dan acara diisi dengan pentas dan kesenian siswa. Para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan pihak sekolah. Ya, acara ini merupakan acara terbesar di sekolah itu. Dimana pihak sekolah akan melepas para peserta didiknya.
Di sela-sela para tamu menikmati hidangan, Devan ikut mengisi hiburan dengan bermyanyi dan bermain gitar. Suara riuh para siswi memenuhi ruangan saat Devan naik keatas panggung. Devan memang merupakan siswa yang paling dikagumi para gadis di sekolah itu karena tampangnya yang keren dan tampan. Devan berdiri tepat di depan standing mic yang sudah disediakan oleh panitia acara. Seketika semua penonton diam dan tenang saat dia mulai memetikkan gitarnya. Dia membawakan sebuah lagu dari musisi Fiersa Besari, Waktu yang Salah.
Jangan tanyakan perasaanku
Jika kau pun tak bisa beralih
Dari masa lalu yang menghantuimu
Karena sungguh ini tidak adil
Bukan maksudku menyakitimu
Namun tak mudah tuk melupakan
Cerita panjang yang pernah aku lalui
Tolong yakinkan saja raguku
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Hidup memang sebuah pilihan
Tapi hati bukan tuk dipilih
Bila hanya setengah dirimu hadir
__ADS_1
Dan setengah lagi untuk dia
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Devan menatap sendu ke arah Vania sambil terus memetik gitarnya. Vania yang tidak menyadari itu masih tetap bercanda tawa beraama teman-temannya di ujung aula. Sesekali tatapan mereka bertemu. Namun cepat-cepat Devan mengalihkan tatapannya ke arah penonton
Bukan ini yang kumau
Lalu untuk apa kau datang
Rindu tak bisa diatur
Kita tak pernah mengerti
Kau dan aku menyakitkan
Pergi saja engkau pergi dariku
Biar kubunuh perasaan untukmu
Hatiku hanya tak siap terluka
Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah
Di waktu yang salah
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like dan Votenya
__ADS_1
Salam Sayang Selalu๐๐๐