
Devan menggerakkan langkah kakinya mengambil sebuah pisau yang tergeletak di samping salah satu anak buah Leo yang sudah terkapar setelah sesaat sebelumnya ia menekan sebuah tombol kecil di jam tangannya untuk memberikan petunjuk agar Ronald bersiap. Ya, Devan dan Ronald sudah saling mengatur rencana mereka sebelumnya dengan mengganti jam tangan milik Devan dengan jam tangan khusus yang sudah dilengkapi dengan alat khusus.
Leo yang mulai lengah karena lebih sibuk dengan tawa kemenangannya seketika membuat pisau yang ada di tangannya terpental karena terkena lemparan sepatu dari Ronald yang tiba-tiba berdiri tak jauh dari posisinya berdiri.
"Sialan kau" kata Leo ke Ronald.
Ronald hanya tertawa licik karena berhasil mengalihkan perhatian Leo agar tidak memperhatikan Devan dan Vania.
Dengan cepat Devan bergerak mendekati istrinya dan membantunya untuk melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Vania dari kursi kayu.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Devan ke Vania.
Vania hanya menggeleng pelan. Namun wajahnya tampak sedikit pucat. "Aku nggak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit pusing" katanya.
Leo yang baru saja menyadari jika ia sedang dijebak berusaha untuk mengambil kembali pisaunya yang jatuh. Namun sayang, beberapa polisi lebih dulu datang dan menghentikan pergerakannya sehingga ia hanya bisa menyerah tanpa perlawanan.
"Angkat kedua tanganmu" kata salah satu anggota polisi yang datang sambil menyodorkan pistol ke arah Leo yang membuatnya mau tak mau mengikuti perintah polisi itu untuk menyerahkan diri.
"Bawa mereka" perintah polisi itu yang diketahui sebagai pemimpin untuk mengerahkan anak buahnya menangkap dan membawa Leo beserta orang-orangnya.
Anggota polisi lain pun mengambil borgol yang diselipkan dibalik saku celana belakangnya. Dengan cepat kedua tangan Leo dan para orang suruhannya termasuk Frans itu diborgol dan diringkus oleh pihak kepolisian.
Leo tak lagi bisa berontak. Ia hanya diam dengan wajah penuh amarahnya sambil.melirik ke Devan. Namun sesaat kemudian tiba-tiba Leo tertawa terbahak-bahak tanpa sebab. Ya, lelaki itu mungkin memang sudah gila. Suasana hatinya yang berubah dengan cepat bisa dipastikan jika lelaki itu mempunyai kejiwaan.
"Terimakasih atas kerjasama anda. Silahkan ikut kami ke kantor untuk memberikan kesaksian" kata kepala polisi ke Devan dan istrinya.
"Baik, pak"
__ADS_1
Polisi yang membawa Leo dan anak buahnya berjalan keluar dari gedung diikuti oleh Devan, Vania dan Ronald. Namun kondisi Vania yang kelelahan dan shock membuat tubuhnya tiba-tiba lemas dan terhuyung. Beruntung Devan dengan sigap menangkap istrinya hingga tubuh itu tak sampai jatuh ke tanah.
"Sayang....sayang..." panggil Devan sambil menepuk pelan pipi kanan istrinya agar bangun. Namun wanita itu tak kunjung sadar dari pingsannya.
"Ronald, cepat siapkan mobil" perintah Devan ke Ronald.
Ronald yang mengerti maksud dari atasannya untuk membawa Vania ke rumah sakit pun mengiyakan perintah agar segera mengambil mobilnya yang terparkir agak jauh dari lokasi gedung sesaat setelah polisi menyetujui untuk ke rumah sakit terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Devan meminta dokter untuk segera memeriksa istrinya.
"Pasien hanya kelelahan dan shock saja karena kondisi tubuhnya yang sedikit lemah, pak. Sebentar lagi juga akan sadar. Untuk sementara bisa dirawat disini sebentar sampai infus habis agar kondisinya kembali fit. Baru setelah itu pasien bisa dibawa pulang" kata dokter memberikan informasi setelah memeriksa.
"Baik. Terimakasih, dok" jawab Devan.
"Kalau tidak ada yang ditanyakan, saya permisi dulu" pamit dokter yang diangguki oleh Devan.
Sesaat kemudian, Vania membuka matanya. Ia menatap langit-langit ruangan yang cukup asing baginya.
"Kamu udah bangun, sayang" kata Devan senang karena istrinya sudah sadar.
"Aku dimana, mas?"
"Kamu ada di rumah sakit, sayang. Tadi kamu pingsan" kata Devan yang tanpa henti menggenggam tangan Vania. "Kepalamu masih pusing?" tanya Devan membenarkan anak rambut Vania yang berantakan dengan satu tangannya.
"Sedikit" jawab Vania singkat.
"Makan ya... Aku suapi. Biar sedikit bertenaga" kata Devan menawarkan semangkuk bubur yang tak lama diantar oleh perawat.
__ADS_1
Vania mengangguk pelan karena tak ingin menolak. Lebih tepatnya tak ingin menyusahkan suaminya karena sakit yang dialaminya, sementara suaminya masih harus memberikan kesaksian atas penyelidikan kasus Leo.
Vania menggerakkan tubuhnya agar bisa dalam posisi sedikit duduk. Devan yang melihatnya dengan siap membantu istrinya yang tampak sedikit kesulitan.
Dengan telaten dan sabar Devan menyuapkan sendok demi sendok ke mulut Vania. Lelaki itu tampak sangat senang melakukannya. Hingga gerakan tangannya terhenti sesaat setelah Vania mengatakan jika ia sudah kenyang.
Menjelang malam, Vania diizinkan untuk pulang karena cairan infusnya sudah habis. Dokter dan perawat mempersilahkan Devan untuk membawa Vania keluar dari rumah sakit.
"Aku antar pulang ke rumah utama ya. Disana ada Bi Siti dan yang lain yang akan menjagamu sebentar. Setelah itu aku akan pergi ke kantor polisi sebentar" kata Devan saat mereka sudah memasuki mobil untuk pulang.
"Iya, mas".
Setelah mengantarkan istrinya pulang ke rumah utama, Devan melajukan kembali mobilnya menuju ke kantor polisi setempat dimana Ronald sudah berada disana lebih dulu darinya. Devan memberikan kesaksian tentang kejahatan yang Leo lakukan. Tak lupa ia juga ditemani oleh salah seorang anggota polisi yang berjaga untuk mengunjungi Leo yang mendekam di balik jeruji besi. Devan melihat penampilan Leo yang tampak kacau tak seperti sebelumnya. Ia berjalan mendekati Leo yang hanya terhalang pagar besi tebal sebagai pembatas nara pidana dan pengunjung.
Leo melirik ke arah Devan. Ia menangis dan tertawa tiba-tiba tanpa alasan. Devan yang melihatnya hanya memperhatikan bingung lelaki yang pernah berseteru dengannya.
"Dia kenapa?" tanya Devan ke salah seorang anggota Sipir yang bertugas.
"Menurut informasi yang kami terima, dia mengalami gangguan kejiwaan mental sejak beberapa tahun lalu, pak"
"Gangguan kejiwaan?" tanya Devan mengulang perkataan Sipir untuk memastikan.
"Betul"
Devan dan Ronald kembali menemui kepala polisi yang ada di kantor itu untuk mendapatkan kejelasan.
"Lalu apa langkah yang akan ditempuh, pak?" tanya Devan.
__ADS_1
"Begini, pak Devan. Mengingat napi merupakan pasien yang mengalami kejiwaan, kami sudah mengkonfirmasi pihak keluarga. Kami akan memindahkannya di rumah sakit jiwa dan menempatkannya di ruangan khusus untuk menghindari resiko buruk yang terjadi. mengenai kerugian yang pernah dilakukan oleh beliau, kami sudah meminta pihak keluarga untuk mengganti rugi semua kejahatan yang sudah beliau lakukan pada siapapun yang merasa dirugikan sesuai kesepakatan yang nantinya kita akan sepakati"