
Devan sampai di kafe lebih awal. Ia tidak ingin jika orang yang diundangnya harus menunggu kedatangannya.
Ia memesan secangkir kopi untuk menghilangkan kejenuhannya karena masih ada lima belas menit lagi untuk pertemuannya.
Di sela-sela menunggu, ia menyempatkan diri untuk membuka email lewat ponselnya untuk memeriksa hasil pekerjaan yang dikirim oleh Lia.
Tak lama kemudian datang pak Firman mendekati meja Devan. Ia datang sendiri tanpa ditemani oleh Adit.
"sudah lama menunggu nak Devan?" tanya pak Firman membuat Devan terkejut dan beralih dari ponselnya.
"oh, maaf oom... saya tidak menyadari kedatangan anda, saya sengaja datang lebih awal sekalian cari angin, silahkan duduk oom" jawabnya sambil meletakkan kembali ponsel ke dalam jasnya.
pak Firman duduk di bangku depan Devan yang terhalang meja kecil.
"oom mau kopi?" lanjutnya menawari
"terimakasih, saya lemon tea hangat saja" jawab pak Firman tersenyum.
Devan memanggil salah satu pelayan kafe untuk memesan lemon tea hangat. Tak lama kemudian pelayan itu datang membawa segelas lemon tea seperti yang dipesan dan meletakkannya diatas meja pelanggannya.
Pak Firman meminum sedikit lemon tea di hadapannya setelah pelayan itu pergi.
"bagaimana keadaan oom, sehat?" tanya Devan
"Alhamdulillah nak... oom sehat" jawabnya tersenyum menutupi sakitnya karena memang sebenarnya kesehatannya baru saja pulih.
Pak Firman nampak resah dengan pertemuannya sore ini. Ia merasa khawatir pertemuannya dengan Devan untuk membahas pembatalan pertunangan lagi.
"maaf mengganggu waktu oom"
"tidak apa-apa nak, sebenarnya ada apa?
__ADS_1
"sebenarnya saya ingin berkunjung ke rumah dan bicara langsung ke oom sama tante, tapi saya tidak punya muka dan merasa malu untuk bertemu dengan putri oom setelah apa yang saya sampaikan beberapa hari yang lalu sama oom. Maafkan saya oom,,, Saya benar-benar ingin perjodohan ini batal, Oom jangan menyalahkan Vania, ini keputusan Devan sendiri, ini murni kesalahan Devan. Dan maaf sudah menyakiti hati kalian." kata Devan dengan terpaksa.
Tampak kekecewaan di wajah Pak Firman mendengar pernyataan Devan. Hal yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Devan bersikukuh untuk membatalkan perjodohan yang para orangtua rencanakan.
"saya harap oom dan tante nantinya menemukan seorang pria yang lebih baik dari saya yang cocok untuk jadi menantu oom dan bisa menjaga Vania dengan baik" imbuhnya dengan suara yang terdengar lirih. Ia mencoba sekuat mungkin mengatakannya meski sebenarnya hatinya begitu menolak apa yang ia sampaikan.
"Oom mengerti nak, maafkan oom... oom yang salah sudah memaksakan kehendak" jawab pak Firman menunduk
"oom bicara apa, oom tidak salah... kesalahan saya yang dari awal bilang menyukai putri oom namun akhirnya saya juga yang memutuskan perjodohan ini" sangkal Devan
Pak Firman terdiam. Hatinya begitu sakit. Ia ingin marah pada putrinya. Namun mengingat perkataan Devan, ia mencoba untuk menerima kenyataan yang ada. Mungkin putrinya belum berjodoh dengan putra sahabatnya itu.
"saya harap semua ini tidak merenggangkan persahabatan anda dengan ayah saya. Dan saya harap juga kita semua masih berhubungan baik seperti sebelumnya. Anggap saja perjodohan ini tidak pernah ada" imbuh Devan.
Pak Firman mengangguk pelan. Ia menyetujuinya meski sebenarnya ia sendiri merasa bersalah.
"sekali lagi tolong jangan salahkan Vania, dia tidak salah apapun Oom" kata Devan
"Baiklah, mari kita mulai dari awal lagi..." kata pak Firman dengan senyum paksanya.
Devan mengangguk dengan senyum yang lebar. Ia setuju dengan perkataan pak Firman. Ia merasa lega sudah menyampaikan apa yang ada di benaknya.
Mereka kemudian mengobrol santai tentang pekerjaan, naik turun saham dan yang lainnya. Hingga tak terasa waktu mulai petang. Pak Firman mohon berpamitan untuk pulang karena malam ini ada pertemuan keluarga untuk membahas acara lamaran Adit dengan kekasihnya.
Kedua laki-laki itu saling undur diri meninggalkan Kafe. Pak Firman pergi duluan bersama supirnya yang sudah menunggu didalam mobilnya. Sedang Devan naik taksi online yang sudah dipesannya sejak beberapa menit sebelum mereka berpamitan.
Ikhlas... kata itulah yang saat ini ia coba terapkan meski dalam hatinya masih belum terima jika cinta yang selama ini ia pendam dan jodoh yang telah ia harapkan harus dikuburnya dalam-dalam. Terlalu sakit untuk mengingat perkataan Vania tempo hari yang menuduhnya mencari muka di hadapan papanya. Dan yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah belajar sedikit menjauh dari keluarga itu dan mendoakan gadis yang dicintainya bisa hidup bahagia. Hanya itu yang bisa membuat seorang Devan tenang dan tanpa bayang-bayang cinta pertama yang menyakitkan.
******
Beberapa hari berikutnya, hubungan Vania dan papanya sudah mulai membaik sejak pembicaraan Devan dengan pak Firman. Vania juga tak lagi mendengar papanya marah dan memaksanya menerima perjodohan.
__ADS_1
Pagi ini Vania berencana untuk pergi ke salah satu mall untuk menemani Nadya membeli kado untuk adiknya. Nadya tidak menjemput Vania dengan motornya. Ia menggunakan jasa taksi online karena nantinya akan dijemput oleh Andre saat pulang.
Sesampainya di mall, mereka menuju ke toko yang menjadi tujuannya. Nadya membeli sebuah boneka besar untuk kado ulang tahun adik perempuannya. Setelah membayar tagihannya, mereka berjalan-jalan sambil melihat sekitar. Pandangan Vania tertuju pada sebuah jam tangan mewah yang terpajang di sebuah etalase toko. Ia yakin harganya tidak murah karena keluaran merk ternama. Nadya yang memperhatikan pandangan sahabatnya sudah bisa menebak apa yang Vania pikirkan.
Setelah lelah berjalan-jalan, mereka istirahat dan menikmati makanan di salah satu kafe yang ada di mall itu sambil menunggu kedatangan Andre menjemputnya.
Tak lama kemudian Andre datang. Ia ikut duduk bergabung dengan Nadya dan Vania.
"eh, aku ke toilet sebentar ya" pamit Vania karena merasa ingin buang air kecil.
"mau ditemenin?" tanya Nadya
"nggak usah, aku bisa sendiri. kasihan nanti kak Andre sendirian" tolak Vania sambil tersenyum kemudian berlalu berjalan menuju toilet.
Dua sejoli yang ada di meja kafe itu saling mengobrol sambil menikmati makanan yang dipesannya.
Sesaat kemudian ada seseorang mengenakan baju kantoran dengan jas lengkap sedang mendekat dan menepuk bahu Andre, membuat pemiliknya menoleh ke belakang.
"hey Devan, kau disini juga" tanya Andre
"aku habis ada pertemuan tadi dengan klien, kebetulan di kafe sebelah, pas aku lewat lihat kalian" kata Devan tersenyum
"sendirian? atau sama Ronald?"
"aku sama Ronald, tapi dia sudah balik duluan tadi karena kami bawa mobil sendiri-sendiri"
"duduklah dulu" kata Andre yang kemudian diangguki oleh Devan.
Devan pun ikut duduk di kursi kosong di antara mereka.
"mau ku pesankan sesuatu kak?" tanya Nadya
__ADS_1
"tidak perlu Nad, aku sudah makan tadi, terimakasih"