
Ronald segera menghubungi polisi dan meminta mereka untuk mengikuti rencana yang sudah tersusun.
"Peringatkan para polisi itu untuk menunggu aba-aba dariku" kata Devan tegas ke Ronald.
Devan mengikuti pergerakan GPS yang ada di sepatu istrinya lewat ponselnya. Lokasi itu cukup jauh, memakan waktu dua setengah jam untuk sampai.
Devan menjalankan motornya lebih cepat dari Ronald. Ia harus sampai lebih awal agar tidak terjadi apa-apa dengan istrinya.
Mobil yang dikendarai komplotan anak buah Leo membawa Vania menuju sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman warga.
Disana sudah ada satu mobil mewah yang menunggu kedatangan mereka. Ya, mobil itu milik Leo. Leo datang lebih awal bersama asisten pribadinya. Ia sudah tidak sabar menanti para anak buahnya yang wanita yang dia idamkan.
"Bawa dia keluar" perintah Leo pada salah satu anak buahnya.
Tak lama kemudian Vania diturunkan dari mobil. Tampak penampilan Vania cukup kacau karena mulut yang dibekap dengan sebuah kain tebal dan tangan yang diikat di belakang.
"Bre*gsek kalian!!! Kenapa kalian memperlakukan wanitaku seperti itu, cepat lepaskan!!!" marah Leo pada anak buahnya.
Cepat-cepat orang-orang suruhan Leo melepaskan ikatan dan kain dari tangan dan wajah Vania.
"Nah... gitu kan enak dilihat" kata Leo tersenyum senang.
"Mau apa lagi kamu" kata Vania penuh penekanan setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk menatap Leo.
"Sayangku, tenanglah sedikit. Aku hanya ingin menyenangkanmu" kata Leo lembut dengan tatapan penuh maksud.
"Aku nggak suka caramu ini, Leo. Tidakkah kau tahu semua ini salah?"
Leo berjalan mendekati Vania dan berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu saja seperti itu padaku. Seharusnya kau sadar, hanya aku yang mencintaimu dengan tulus, bukan lelaki sialan itu"
"Jaga bicaramu!!! Yang kau bicarakan adalah suamiku. Aku tidak suka orang lain menghinanya di depanku" kata Vania marah sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Leo.
Leo menangkupkan tangannya pada jari telunjuk Vania agar menurunkan kembali tangannya. Tangan kanannya beralih menyentuh pipi Vania dan membelainya.
Vania yang merasa takut serta risih segera menghindar dan memundurkan langkahnya.
"Kenapa, baby?" tanya Leo selembut mungkin.
"Tolong kau jauhkan tanganmu dariku" pinta Vania dengan suara takutnya.
"Kau harus mulai terbiasa dengan ini, baby. Aku janji akan selalu membuatmu senang dan bahagia"
Vania mencebikkan bibirnya dan menanggapinya malas. Ia tak ingin banyak berbicara dengan Leo.
"Kau seharusnya bangga bisa dekat denganku. Banyak wanita diluar sana yang ingin bersamaku. Tapi kau justru terus membelanya. Bahkan lelakimu yang sialan itu tidak lebih baik dariku" kata Leo penuh amarah saat membicarakan Devan.
Leo merasa geram karena Vania berani menamparnya di depan beberapa anak buahnya. Wajahnya memerah menunjukkan. betapa ia kini sangat marah.
"Wanita sialan!" umpat Leo. Ia melirik ke anak buahnya dan berteriak, "Cepat ikat dia".
"Tidak. Lepaskan aku" Berontak Vania tanpa henti.
Dengan cepat beberapa lelaki berbaju hitam itu kembali mengikat kedua tangan Vania dan mulut yang di tutup dengan kain panjang hingga membuatnya tak lagi bisa bersuara.
Devan yang baru datang segera memposisikan motornya sedikit lebih jauh dari lokasi agar tidak ketahuan. Ia berjalan pelan mendekati gedung.
"Bahkan ia tak membiarkan satupun dari mereka untuk berjaga di sekitar sini. Mereka terlalu bodoh dan tak menyusun matang-matang strateginya" gumam Devan pelan diikuti dengan Garis bibirnya yang melengkung.
__ADS_1
Devan perlahan menyusuri rerumputan yang tingginya seukuran dadanya. Bisa dibilang tempat itu cukup asing dan tak ada orang yang tahu banyak. Ia bersembunyi di balik sebuah jendela yang ada di dekat posisi Vania dan Leo.
"Kau seharusnya pasrah saja. Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu seperti dulu. Apalagi suamimu" kata Leo diiringi tawanya yang menggema ruangan. Sedang Vania hanya bisa meronta dan menggerakkan pantatnya karena kini kakinya pun juga diikat sehingga ia hanya bisa duduk dan meronta tanpa bIsa bersuara.
Sesaat kemudian datang sebuah mobil sedan. Seseorang turun dan berjalan memasuki gudang.
"Boss, saya sudah mengatur dan mengubah beberapa laporan milik SA Group di London. Sebentar lagi perusahaan itu akan bangkrut dan menjadi milik kita" kata pria berumur sekitar empat puluhan ke Leo membuat Devan penasaran. Ia yakin betul pria itu adalah mata-mata Leo yang berada di perusahaan Devan. Ia menelisik dan sedikit mengintip ke jendela agar bisa melihat dengan jelas siapa lelaki yang baru datang dan berbicara dengan Leo.
Devan terkejut saat mendapati lelaki itu adalah orang yang dikenalnya dan memiliki peran penting di perusaahannya yang berada di London.
"*Ba*ingan. Kali ini aku tak akan membiarkanmu lepas begitu saja*" umpat Leo dalam hati.
"Bagus" kata Leo tersenyum dan bertepuk tangan menanggapi perkataan orang suruhannya. "Kau memang sepupu yang selalu bisa ku andalkan. Sebentar lagi kau akan hancur, Devan. Wanita dan perusahaanmu akan menjadi milikku" lanjutnya diikuti tawa yang semakin menggema di seluruh ruangan gedung.
"Hey, kalian. Cepat buka mulut wanitaku. Aku ingin mendengar suara merdunya" perintah Leo ke anak buahnya.
Salah satu dari mereka pun membuka ikatan di belakang kepala Vania. Kini tak ada lagi kain yang menutup mulut Vania. Sehingga ia merasa sedikit lega. Ia mengatur nafasnya yang sedikit berantakan karena lelah memberontak dengan mulut di bekap.
"Kau gila. Kau sudah gila, Leo" umpat Vania pada lelaki yang pernah menjadi teman kuliahnya itu.
"Ya, aku gila. Aku gila karena dirimu. Karena kau lebih memilih lelaki sialan itu dari pada aku" jawab Leo sedikit berteriak. Ia berjalan mendekati Vania yang berada di depannya. Tangannya bergerak membelai pipi mulus Vania. Dengan cepat Vania memalingkan wajahnya menolak sentuhan itu.
Leo menampar pipi kanan Vania yang tadi di senyumnya karena penolakan dari Vania. Ia sangat benci sebuah penolakan. Seketika pipi Vania memerah dengan sudut bibir yang sedikit berdarah.
"Wanita j*lang. Tidak tahu diri" kata Leo geram.
Devan yang sedari tadi memperhatikan tak mampu lagi menahan amarahnya karena wanita yang dicintainya terluka. Ia segera bergerak menuju pintu berbahan kayu yang sudah hampir rapuh di sebelahnya. Ia mendobrak dan masuk lewat pintu itu.
"Siapa itu" teriak Leo membuat semua orang yang ada disana beralih menatap ke arah pintu yang sudah didobrak.
__ADS_1
"Lepaskan istriku" kata Devan melirik ke arah Vania. "Dan, kau baj*ngan" katanya menunjuk ke arah lelaki yang tadi datang. "Aku tak menyangka kau berani mengkhianati ayahku dan perusahaan".