
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya , aku pulang sekolah bersama Nadya. Saat sedang menunggu Nadya di koridor sekolah, aku dikejutkan oleh suara Ditya "*Van, nanti malam ada acara?"
"eh enggak, ada apa Dit?"
"aku boleh main nggak ke rumah kamu?"
"emmm....boleh kog, nggak apa-apa, asal nggak kemaleman aja"
"oke, thanks ya..gue pulang duluan*" kata Ditya sambil berlalu.
****
Malam harinya, Seperti biasa aku menghabiskan waktuku membaca novel di kamar sebelum jam makan malam.
tookkk...tokkkk....
"sayang, ada temanmu Ditya menunggu diluar" suara mama mengetok pintu kamarku
"iya ma"
Aku meletakkan buku novelku diatas nakas dan beranjak membuka pintu kamar, kulihat mama berdiri dihadapanku.
"*itu temanmu sudah nungguin, kamu temui gih.. "
"siapa ma?"
"katanya sih namanya Ditya.. sekalian ajak dia makan malam aja"
"hah...dia beneran kesini*" gumamku pelan
"udah buruan malah bengong, kasihan lho temenmu nungguin"
Aku dan mama menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang tamu menemui Ditya. Ditya menepati janjinya. Ia benar-benar datang ke rumahku.
"Nak Ditya ikut makan malam dulu yu'.." ajak mama dari belakangku
"makasih tante" tolak Ditya sopan
"sudah nggak usah sungkan...ayo sayang ajak temanmu"
"iya ma"
Mama berlalu meninggalkan kami menuju meja makan.
"udah ayo Dit, nggak boleh nolak rejeki lho" ajakku dan dijawab dengan Ditya dengan senyum.
__ADS_1
Aku berjalan menghampiri keluargaku yang sudah berkumpul di meja makan. Dan Ditya mengikuti langkahku.
Di sela-sela menikmati makan malam, kami sesekali sambil mengobrol santai disana. Mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan kecil ke Ditya.
"jadi Ditya, kamu tinggal dimana?" tanya papa
"*saya tinggal nggak jauh dari sini oom, di jalan Pahlawan"
"oo...deket ya*" sela mama. Ditya mengangguk dan tersenyum. "udah lama temenan sama Vania?" lanjut mama
"baru 2 tahun tante, waktu kelas 3 SMP. karena saya pindahan dari Bogor" jawab Ditya, mama dan papa hanya mengangguk-angguk mendengarnya.
Selesai makan malam, aku mengajak Ditya untuk duduk di gazebo samping rumah, tempat yang biasa keluargaku gunakan untuk bersantai dan menikmati suasana malam.
Bi inah datang membawakan teh hangat dan camilan kepada kami. "makasih ya bi'..." kataku ramah. Bi Inah tersenyum dan kemudian kembali ke dalam.
Kami bercanda dan mengobrol tentang tugas-tugas sekolah. Kemudian kami saling diam karena merasa tidak ada bahan lagi untuk diperbincangkan.
"Van..." panggil Ditya tiba-tiba membuka obrolan kembali
"*hmmmm"
"aku suka sama kamu*" ucap Ditya tanpa basa-basi
"hah?"
"sorry ya, mungkin menurut kamu ini terlalu cepat, awalnya aku ragu buat ngungkapin tapi aku benar-benar nggak bisa nyembunyiin perasaanku sejak awal kita bertemu"
Aku terdiam mendengar apa yang ia ucapkan. Ku lihat kejujuran di matanya meski ia lebih sering menunduk karena rasa takutnya.
"nggak apa-apa kok kalau kamu nolak aku Van. . . yang penting kita masih tetep temenan. lupain juga kalau aku pernah ngomong kayak gitu ke kamu malam ini" lanjutnya dengan nada sedih.
"*eng...enggak gitu maksudnya Dit.. jujur aku juga memiliki perasaan yang sama..aku hanya kaget aja bisa secepat ini"
"sejak kapan kamu suka sama aku?"
"sejak perpisahan sekolah kemarin. sejak kamu menyanyikan sebuah lagu di atas panggung dan terus menatapku...kau minta pada Tuhan untuk menjaga wanita yang menjadi milikmu...jujur aku cukup tersinggung saat itu karena segala bentuk perhatianmu selama ini membuat hatiku tersentuh*" kataku malu-malu
"jadi...." lanjut Ditya menggantung
"apanya?" kataku pura-pura bodoh
"kamu benar milikku kan?" lanjutnya dengan senyum yang mulai mengembang. Aku menganggukinya dan memalingkan wajahku karena menahan malu. Spontan membuatnya tersenyum lebar.
"aku janji akan menjagamu dan tidak membuatmu kecewa" katanya lembut membuatku menoleh kearahnya. Hatiku sangat berbunga-bunga mendengarnya. Ingin rasanya aku berlompat-lompat kegirangan sambil teriak. Tapi nggak mungkin, aku nggak mungkin memberikan kesan jelek di awal hubungan kami. Aku harus mencoba setenang mungkin.
__ADS_1
Kami saling pandang dan menyunggingkan senyuman.
"ya udah...aku pulang dulu ya...udah malem. sorry ganggu waktu kamu yang seharusnya buat belajar" lanjut Ditya pamit.
"nggak apa-apa kok, bentar aku panggilin mama papa"
Aku masuk kedalam rumah memanggil mama dan papa untuk mengajaknya menemui Ditya yang hendak berpamitan.
Selepas berpamitan dengan orang tuaku, aku mengantar kepulangan Ditya sampai di parkiran untuk mengambil motor maticnya
"aku pulang ya...makasih buat malam ini" katanya saat menaiki motornya.
"iya...kamu hati-hatinya" kataku melambaikan tangan. Dia pun membalasnya.Dia menyalakan dan melajukan motornya keluar pagar rumah.
Selepas kepergiannya yang sudah tak bisa dijangkau oleh mataku, aku kembali masuk ke rumah. Kulihat mama, papa dan kak Adit sedang berkumpul duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV.
"ada yang lagi seneng nih habis di apelin" celetuk kak Adit mengejekku karena melihat raut bahagia di wajahku.
"ih apaan sih sok tahu banget" jawabku sinis membuat mama dan papa tersenyum ke arahku.
"duduk sini sayang samping papa" kata papa menepuk sofa disampingnya. Aku menurutinya.
"anak prawan papa sudah makin dewasa ternyata" lanjutnya mengacak-acak rambutku
"iihhhh papa...jadi berantakan ni, kan jelek" aku merengek manja sambil membenarkan rambutku yang berantakan. Papa dan mama hanya terkekeh.
"Ditya itu pacar kamu? tanya mama dengan nada meledek. Seketika pipiku merah karena malu.
"wah....kayaknya bentar lagi kita punya mantu cowok ni mah..." goda papa
"ih papa apaan sih, Vania masih sekolah lho.." kataku mencubit perut buncit papa. Semua orang terkekeh mendengar candaan papa. membuatku semakin malu. aku menutup wajahku dengan kedua tanganku agar mereka tidak melihat pipiku yang semakin memerah.
"auwwww.... papa bercanda sayang".
Karena takut semakin menjadi bahan olokan, Aku berlari meninggalkan mereka menuju kamarku. Kudengar tawa mereka masih nyaring di telingaku. Kubuka pintu kamar dan ku tutup rapat-rapat. Saat hendak melangkahkan kakiku menuju ranjang, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ku buka pesan masuk WhatsApp. Aku tersenyum membaca nama yang pengirimnya. Ditya, nama yang beberapa menit lalu akan menjadi penyemangat hari-hariku selanjutnya.
Ditya: "kamu lagi apa?"
aku: "ini baru masuk kamar. . kamu udah nyampe rumah?"
Ditya: "ini baru aja, kamu udah mau tidur?"
aku: "iya nih...aku udah ngantuk"
Ditya: "mimpi indah ya... besok aku jemput kamu ya, kita berangkat bareng. I love U💗"
__ADS_1
Hatiku senang bukan main membaca kalimat terakhirnya. Sungguh ia sangat pandai membuatku luluh.
aku: "iya.... love U too 😊"