
Tanpa aba-aba Devan langsung menyerbu bibir ranum istrinya. Vania yang terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba hanya membulatkan matanya. Namun sesaat kemudian ia mulai menikmati dan membalas ciuman bibir suaminya yang tak seperti biasanya itu dengan memejamkan mata.
Pikiran kacau dan kalut membuat nafsu Devan tak lagi bisa ia tahan. Ia mel*mat bibir istrinya dengan ganasnya. Devan menarik pangkal leher Vania agar memperdalam ciumannya. Sementara tangan satunya menyusup di balik kaos pendek yang Vania kenakan, me*emas dada istrinya bergantian. Lalu beralih ke punggung melepas kaitan bra milik istrinya yang terasa menganggu kesibukannya. Hingga kaitan itu terlepas, kini ia bebas melakukan aktifitasnya dengan me*emas dada Vania tanpa pengganggu.
Nafsu Devan mulai memburu saat erangan-erangan kecil lolos dari bibir istrinya. Devan semakin memeperdalam suaminya dan memelintir ujung dada Vania sehingga menimbulkan suara erangan yang semakin memecah seisi kamar, hingga membuat gairah dan nafsu Devan semakin memuncak.
Devan melepas ciumannya dan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang. Devan kembali memberikan sentuhan ke tubuh istrinya sesaat setelah keduanya saling menanggalkan pakaian masing-masing. Tak lupa Devan memberikan beberapa kecupan dan tanda c*pang di bagian dada istrinya. Ia sengaja tak melakukannya di leher karena mengingat istrinya pernah marah karena merasa malu atas kejadian tempo hari dimana lehernya penuh dengan tanda merah kecupan suaminya yang mudah dilihat oleh orang lain.
Puas memberikan kenikmatan pada istrinya yang entah sudah berapa kali mengerang karena sentuhan tangan dan bibirnya, kini Devan beralih menancapkan area sensitifnya yang sudah semakin mengeras ke milik istrinya hingga terjadi pergumulan yang ke sekian kali oleh pasangan suami istri itu.
Meski lelah dan merasa kurang mampu menandingi nafsu suaminya, Vania tetap berusaha untuk menyenangkan suaminya dengan tetap mengikuti permainan yang diaminkan suaminya. Toh ia hanya butuh terlentang dan menikmatinya, pikirnya😅😅.
Percintaan yang terjadi diantara mereka berlangsung cukup lama dan diakhiri dengan ciuman. Devan menarik selimut putih untuk menutupi tubuh keduanya yang polos.
"Makasih sayang, tidurlah" kata Devan lembut yang kemudian mengecup kening wanita yang ada disampingnya.
Vania yang merasa lemas tak lagi bisa menjawab perkataan suaminya. Ia hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Sedang Devan langsung memeluk tubuh Vania dan membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya.
Pasangan suami istri itu sudah tak lagi peduli dengan makan malam yang sudah orangtua mereka siapkan. Pun dengan Bunda Dewi dan Ayah Satria yang memahami kondisi putra dan menantunya yang sedang kembali di mabuk asmara itu memilih untuk membiarkan tidak mengganggu.
"Ya sudah Bund, mungkin mereka dedang bermesraan. Kalau mereka lapar juga pasti akan turun sendiri mengambil makan" kata Ayah Satria ke istrinya.
"Benar juga ya Yah. Ya sudah lah kita makan duluan saja" jawab Bunda Dewi yang kemudian menyantap makanan uang ada di hadapannya.
*****
Waktu subuh tiba, Devan bangun lebih awal dari istrinya. Ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya untuk bersiap menghadap sang pencipta.
Ia sengaja membiarkan istrinya terlelap dan akan membangunkannya tepat pukul lima. Selama menunggu istrinya bangun, ia mengambil sebuah laptop dan duduk memangkunya di sofa untuk melihat laporan pekerjaan yang saat ini mengalami penghambatan.
Tepat pukul lima subuh, Devan bangkit dan menghampiri Vania. Ia membangunkan istrinya untuk mandi dan sholat. Kemudian ia beralih kembali dengan laptop yang tadi ia biarkan.
__ADS_1
Vania selesai dengan aktifitasnya. Ia memperhatikan suaminya yang nampak serius dengan laptop di pangkuannya. Ia mendekati Devan dan duduk di sebelahnya.
"Mas" panggil Vania pelan.
"Hmm" jawab Devan tanpa mengalihkan pandangannya dan masih fokus menekan tombol alphabet di papan keyboard laptopnya.
Merasa suaminya seperti tak ingin diganggu, Vania dan melanjutkan obrolannya. Ia lebih memilih diam memperhatikan aktifitas suaminya.
Devan menoleh ke sebelahnya karena tak ada suara lagi yang keluar dari istrinya. Ia menyimpan filenya dan menutup kembali laptopnya. Kini laptop yang ada di pangkuannya dipindah diatas meja.
"Kenapa, sayang?" tanya Devan merangkul tangan kanannya di bahu istrinya.
"Sibuk banget ya?" tanya balik Vania.
"Enggak kok, sayang"
"Enggak usah bohong, mas. Aku tahu saat ini kamu lagi mengalami masalah serius di perusahaan. Aku mungkin tak bisa membantu. Tapi setidaknya berbagilah denganku, bukankah aku juga perlu tahu semua yang terjadi" kata Vania mengelak. Ia tahu betul suaminya itu sedang berbohong menutupi kegalauan hatinya
"Kenapa diam, mas?"
"Proyek pembangunan gedung kantor baru tiba-tiba mengalami masalah di bagian alat konstruksi. Semua alat berat itu tiba-tiba mengalami kerusakan, sebagian tak berfungsi lagi dan bahkan ada beberapa material yang rusak dan tidak bisa dipakai. Jalan satu-satunya harus membeli alat baru, dan jumlah dananya itu tidaklah sedikit karena semuanya harus diganti baru. Sementara tabunganku tidak mencukupi. Sebenarnya aku bisa saja minta ke ayah, tapi aku nggak mau. Ini gedung impianku. Aku ingin membangunnya dengan jerih payahku" kata Devan.
"Memang semuanya sekitar habis berapa, mas?"
"Banyak, sayang. Tapi kamu nggak usah mikirin ini, aku akan segera cari jalan keluar untuk ini"
"Mas, mengenai uang di brangkas dan kartu debit yang tempo hari kau berikan, aku tidak tahu berapa jumlahnya karena aku tidak punya waktu untuk mengeceknya. Bukankah kamu bisa menggunakannya" kata Vania memberikan solusi.
"Enggak, sayang. Itu uangmu"
"Tapi bukankah kita adalah pasangan suami istri, itu uang kita, mas" bantah Vania agar suaminya mau menurut.
__ADS_1
"Sayang, Yang sudah aku berikan, adalah milikmu"
Vania mengambil ponsel milik suaminya. Ia membuka aplikasi perbankan online yang sesuai dengan kartu debit miliknya diponsel suaminya.
"Aku mau kamu masukkan user sama password dari kartu debit yang kau berikan padaku" kata Vania sambil menyodorkan ponsel ke arah suaminya.
"Buat apa?" Devan bertanya bingung dengan permintaan istrinya.
"Aku mau lihat berapa nominalnya"
Devan melakukan sesuai perintah Vania. Ia mengetikkan informasi yang dibutuhkan di aplikasi itu dan setelahnya memberikan ponsel itu kembali pada istrinya setelah akunnya terbuka.
Vania terbelalak saat menatap deretan angka yang ada di layar ponselnya. Ia bahkan sedikit kebingungan menghitung digit angkanya. Ini pertama kalinya ia melihat jumlah uang yang begitu banyak di rekening apalagi miliknya.
"Ini kenapa banyak sekali, mas? Belum juga nominal uang yang ada di brankas" tanya Vania mengerutkan alisnya tak percaya.
"Aku sengaja memberikan semua jumlah keuntungan perusahaan per bulannya ke rekening ini, sayang"
"Huh? Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku memegang tabungan dari hasil panggilan undangan wawancara dan seminar-seminar untuk keperluan pribadiku"
"Tapi itu nggak seberapa, mas" bantah Vania yang kesal.karena suaminya itu bahkan tak memperdulikan diri sendiri dan hanya memikirkan kehidupan seorang istri.
"Yang, itu cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keseharian aku, bahkan lebih".
"Aku nggak mau tahu, kamu harus pakai semua ini" kata Vania lembut namun terdengar seperti sebuah perintah.
"Sayang..."
"Ini permintaanku, mas. Dan aku nggak suka ditolak. Aku seperti ini karena aku mencintaimu, mas. Aku nggak mau kamu banyak pikiran memikirkan semua ini" pangkas Vania menirukan perkataan Devan tempo hari.
__ADS_1
Devan hanya mengehembuskan nafas pelan dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Kemudian ia tersenyum kecil karena melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.