
Pak Firman terkejut mendengar pernyataan Devan. Ia tidak pernah menduga bahwa apa yang pernah dikatakannya dulu tentang gadis beruntung yang mendapatkan hati Devan ternyata putrinya sendiri.
"maksudnya, kamu sudah mencintai Vania selama itu? oom tidak salah dengar?" tanya pak Firman memastikan pendengarannya dan Devan hanya menjawabnya dengan mengangguk pelan.
"kenapa tidak pernah kau ungkapkan nak?" lanjut pak firman bertanya
"aku tidak punya cukup keberanian oom, mengingat Vania dulu sangat membenciku. dan disaat keberanian itu mulai muncul, di justru sudah menjadi milik orang lain"
"tapi orang lain itu kini sudah tiada nak, apa kamu masih akan tetap memendam perasaanmu?"
"entahlah... aku melihat rasa cintanya yang begitu besar pada Ditya membuatku semakin menciut. Saya begitu mencintainya oom, tapi saya tidak mungkin memaksakan kehendak karena ia tidak akan mungkin pernah memilihku"
"jangan bicara seperti itu nak.... Tenanglah, oom akan membantu mendekatkanmu dengannya. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja untuk dia memulai tersenyum kembali. Oom juga ingin melihat putri oom kembali seperti dulu. Gadis dengan senyum yang indah dan sangat ceria " kata pak Firman menahan air matanya yang hampir jatuh.
"maaf jika saya berbicara terlalu lancang seperti ini oom" kata Devan melemah
Pak Firman mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"oom bisa melihat ketulusan hatimu nak. Oom sangat bangga dan bahagia ternyata gadis beruntung itu adalah putri oom sendiri satu-satunya" Kata Pak Firman merangkul pundak Ditya memberikan semangat.
Ditya tersenyum penuh kemenangan mendapatkan lampu hijau dari orang tua Vania. Ia begitu tidak menyangka nasib percintaannya akan seberuntung ini. Mulai gadis yang dicintainya kembali sendiri sampai restu dan dukungan dari calon mertua. Ia berharap Tuhan mengirim Vania sebagai tulang rusuknya yang selama ini ia idam-idamkan.
"baiklah oom,,, sudah sore, saya mau pamit dulu. Terimakasih atas semuanya, Sampai bertemu lain waktu oom" pamit Devan menjabat tangan pak Firman.
Mereka saling merangkul. Pemandangan yang sungguh begitu menyejukkan hati.
"terimakasih sudah menjaga hatimu untuk putri oom" kata Pak Firman
Ditya melonggarkan pelukannya dan tersenyum "pasti oom, saya akan tetap menjaganya sampai kapanpun"
Ditya keluar dari gedung perusahaan diantar oleh ka Firman sampai di lobi.
Ia melajukan mobilnya menuju jalan raya. Hatinya berbunga-bunga setelah menemui pak Firman. Ia memutuskan malam ini akan pulang ke rumah setelah menghubungi bu Wati.
Bu Wati mengiyakan Devan. Ia tidak ingin terus menahan Devan demi keegoisannya. Ia sadar Devan punya keluarga sendiri yang merindukannya.
Sesampainya di rumah, Devan mencari keberadaan bundanya.
__ADS_1
"assalamualaikum bunda.... Devan pulang" teriamlk Devan.
"waalaikumsalam den, nyonya sedang di taman belakang bersama tuan besar" kata bi Sumi uang baru keluar dari dapur karena mendengar suara tuan mudanya.
Bi Sumi mengambil jas dan tas dari tangan Devan dan membawanya menuju kamar. Hanya bi Sumi saja asisten rumah tangga di rumah itu yang diperbolehkan masuk kamar Devan. Selain karena ia sudah bekerja sangat lama disana, bi Sumi juga yang membantu bu Dewi merawat Devan sejak lahir.
Bi Sumi sudah seperti ibu bagi Devan. Devan juga sangat menyayanginya.
"makasih ya bi" kata Devan
"iya den" senyum bi Sumi mengembang. Ia segera menuju ke kamar tuan mudanya untuk meletakkan barang bawaannya.
Devan melangkahkan kaki menemui orangtua ya di taman belakang.
"kamu kapan pulang sayang?" tanya bu Dewi beranjak setelah melihat sosok Devan berdiri di samping pilar putih di teras belakang.
"apa Devan mengganggu kemesraan ayah dan bunda?" tanya balik Devan mengejek kedua orangtuanya dengan mengangkat sudut bibirnya. Ia begitu bahagia melihat kehangatan yang selalu ayah dan bundanya ciptakan. Menjalin ikatan pernikahan selama hampir 24 tahun membuat mereka saling memahami kepribadian masing-masing. Mereka nyaris tak pernah bertengkar. Kehidupan yang sungguh harmonis dalam sebuah rumah tangga.
"kamu ini...kelamaan tinggal di London jadi suka meledek ayah sama bunda ya....kemarilah" kata bunda melambaikan tangan.
Devan mendekati kedua orangtuanya dan duduk di sebelah bunda.
"Alhamdulillah bund, pelan-pelan ibu dan bapak sudah mulai melakukan aktifitas seperti biasa. Devan harap sampai seterusnya mereka akan bisa mengikhlaskan kepergian Ditya"
"bunda senang mendengarnya" kata bu Dewi tersenyum lembut.
"nak, kami sudah tahu semuanya sayang" lanjut bunda
"maksud bunda?" tanya Devan yang tidak mengerti dengan arah pembicaraan bunda.
"kami mengerti jika gadis yang mrnjadi incaranmu itu putri oom Firman" sahut ayah menjelaskan
"aku juga baru tahu kemarin yah, jika Vania itu putri oom Firman" jawab Andre menunduk
"bukankah seharusnya kamu merasa senang"
"maksud ayah?"
__ADS_1
"Vania sekarang sudah tidak punya kekasih lagi. Terlebih akan mudah bagimu untuk mendekatinya karena orangtuanya sahabat ayah"
"tidak semudah itu yah"
"tidak semudah itu bagaimana" kata bunda mengulang perkataan Devan
"dia begitu terpuruk dengan kepergian Ditya. Dia sangat mencintai kekasihnya itu. Devan tidak yakin mampu menggantikan posisi Ditya di hatinya" Devan mulai melemah
"jangan seperti itu sayang...kamu harus yakinkan hatimu. optimis kalau Vania pasti tertarik padamu. Bukankah sudah tak ada lagi penghalang bagimu" kata bunda
"bunda benar nak... kamu jangan melemah seperti itu. Haruskah ayah ikut andil dalam hal ini?"
"maksud ayah?"
"ayah akan menjodohkanmu dengan putri oom Firman"
Kata-kata yang keluar dari pak Satria membuat hati Devan bahagia sekaligus takut. Takut akan penolakan yang akan Vania berikan.
"tidak secepat dan semudah itu yah"
"sudah diamlah... ayah akan lakukan yang terbaik untuk putra ayah" kata pak Satria begitu yakin.
"terserah kalian saja lah" jawab Devan pasrah
"nah....gitu dong" kata bunda menimpali.
"kamu belum makan kan? mandi dan makanlah dulu" lanjut bunda
"bunda kenapa tahu sekali isi hatiku" kata Devan cengengesan. Bunda hanya tersenyum melihat tingkat putranya.
Devan beranjak memasuki rumah.
"malam ini tidur di rumah kan?" tanya bu Dewi membuat langkah Devan berhenti. Devan menoleh ke arah ayah dan bundanya.
"iya bund, Devan sudah bilang tadi sama bapak dan ibu" jawabnya sambil tersenyum.
Devan melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya yang begitu luas. Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Devan keluar kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di bagian pinggang seperti yang biasa ia lakukan. Ia segera menuju ruang ganti untuk mengambil pakaian rumahannya.