Cinta Vania

Cinta Vania
Tak ada yang berubah


__ADS_3

"Kamu nyogok dia, mas" Kata Vania tersenyum.


"Semua sudah aku prediksi dan siapkan sejak awal, sayang" kata Devan bangga membuat Vania melipat bibirnya dan memukul pelan lengan suaminya.


Devan menyentuh jemari Vania dan menggenggamnya. Ingin rasanya mencium dan memeluk.erat wanita di sampingnya. Sayangnya terlalu fulgar jika harus dilakukan di tempat umum seperti taman resto.


"Kenapa nggak bilang sih kalau pulang hari ini?" tanya Vania tanpa mengalihkan pandangannya dari Juna.


"Aku ingin memberi kejutan, sayang. Apa kau sudah berkemas?"


"Sudah. Tapi jangan bilang kau akan segera membawaku kembali" kata Vania menatap lembut suaminya.


"Lebih tepatnya sore ini, sayang. Aku harus segera kembali karena besok ada meeting rutin anak cabang"


"Kenapa mendadak sekali, mas. Aku masih ingin kita menghabiskan waktu disini bersama Juna" jawab Vania kecewa.


"Akita akan sering mengunjungi Juna kemari, sayang. Please ikut aku sore ini kembali" Devan memohon agar Vania mau mengikuti permintaannya.


"Tapi resto ini______"


"Kembalilah bersama suamimu, Van. Jangan sia-siakan kesempatan kalian untuk kembali bersama. Masalah resto aku yang akan menanganinya" pangkas Sherin yang baru kembali dari depan.


"Noh, Sherin aja oke" kata Devan bangga karena merasa didukung oleh sahabat istrinya.


"Baiklah..." Jawab Vania mengalah. Ia tak punya alasan lagi untuk mengelak.


Vania dan Devan berpamitan dengan Sherin dan beberapa karyawan lain sebelum kembali ke rumah kontrakan mengambil beberapa barangnya.


Meski terasa berat, namun Vania harus mematuhi perintah suaminya. Ya, tiga tahun Vania susah payah menjalankan dan membesarkan resto milik sahabatnya hingga sebesar ini. Baginya resto ini adalah tempatnya melupakan kesedihannya.


Vania dan Devan keluar dari resto menuju tempat parkir.


"Lho..." kata petugas parkir terkejut menunjuk ke Devan. Sedang yang dimaksud hanya melipat bibir menahan senyum.


"Kenapa, mas Tono?" tanya Vania ke petugas parkir yang dikenalnya bernama Tono itu.


"Wah...mas nya hebat bisa naklukin mbak Dhani" ucap Tono penuh pujian.


"Kalian saling kenal?" tanya Vania.


"Enggak, yang. Cuma tadi kebetulan ngobrol aja" jawab Devan.


"Oo....e iya, mas Tono. Saya mau pamit kembali ke Jakarta"

__ADS_1


"Lho maksudnya mbak Dhani udah nggak disini lagi to?"


Vania tersenyum, "Saya sudah dijemput suami saya untuk pulang, mas Tono".


"Ini suaminya mbak Dhani? Oalah... pantas saja nekat ketemu mbak Dhani" jawab Tono sambil menepuk jidatnya.


"Kamu ini ngomong apa sih mas" kata Vania ke Tono sambil terkekeh. "Ya sudah saya pamit dulu ya" lanjutnya undur diri sambil mengulurkan tangan.


Tono menyambut uluran tangan Vania, "Iya mbak Dhani, hati-hati ya" jawabnya diikuti oleh Devan yang bergantian bersalaman dengan Tono.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah kontrakan untuk mengambil barrang.


Vania membereskan sisa barangnya kedalam sebuah koper yang ia letakkan di kursi tamu.


Tanpa disadari kesibukan mengemasi barang-barang membuatnya mengabaikan keberadaan. Devan mendekati Vania dan melingkarkan kedua tangannya di perut Vania.


"Astaghfirullah" pekik Vania karena terkejut. "Eh maaf, mas. Aku lupa kalau ada kamu disini" lanjutnya meminta maaf dan menghentikan aktifitasnya.


"Aku merindukanmu" kata Devan tiba-tiba sambil membenamkan wajahnya di bahu Vania.


"Kita kan udah ketemu, Mas juga udah bisa peluk lho sekarang".


"Aku pengen, yang" Devan mencium leher Vania membuat pemiliknya geli. Bahkan Vania bisa merasakan bagian bawah suaminya yang sedikit menonjol karena digesekkan ke rok yang digunakan Vania.


"Tapi aku udah nggak tahan, sayang" jawab Devan dengan suara berat karena menahan hasrat.


"Mas, waktu kita cuma tinggal satu jam lho buat ke bandara. Kamu nggak mungkin kan melakukannya singkat" kata Vania mengingatkan.


"Kita pakai jet pribadi, sayang. Nggak perlu khawatir telat" jawab Devan terus mengelak karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun


Vania membalikkan tubuhnya menatap lembut kedua mata suaminya yang mendamba.


"Mas, please... di Jakarta aja ya, kamu bisa puas lakuin selama yang kamu ingin"


Devan mendengus dan mencebikkan bibirnya. Ada rasa kesal karena keinginannya tak tersalurkan. Namun dengan cepat Vania mampu menggantinya dengan senyum kesenangan.


"Baiklah. Janji ya... Kamu harus menurut" kata Devan lembut namun terdengar seperti sebuah peringatan.


"Iya, mas. Janji" jawab Vania asal. Ia berfikir paling juga suaminya itu hanya akan melakukan seperti kebiasaan dulu waktu mereka masih mesra di Jakarta.


Mereka bersiap menuju bandara. Disana sudah ada petugas kantor cabang yang menunggu kedatangan mereka untuk membawa kembali mobil yang dikendarai Devan.


"Makasih ya Pak" kata Devan ramah ke sopir yang biasa mengantar jemput Devan saat di Surabaya.

__ADS_1


Sopir itu mengangguk dan mengucapkan ucapan selamat tebang untuk orang terhebat di tempatnya bekerja.


Waktu petang membuat suasana bandara Soekarno-Hatta tidak begitu ramai. Sepasang suami istri itu disambut oleh pak Amin yang sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu.


"Pak Amin... Sehat?" tanya Vania ke pak Amin.


"Alhamdulillah, non. Kalau saya insya Allah sehat" kata Pak Amin dengan senyum bahagianya karena bisa kembali bertemu dengan istri majikannya.


Mereka menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh pak Amin.


"Pak, kita mampir Maghrib di musholla atau masjid terdekat ya" kata Devan membuat Vania terkejut senang karena suaminya mulai rajin sholat tanpa diingatkan.


Mobil yang membawa mereka melaju ke rumah yang sudah beberapa tahun belakangan Vania tinggalkan.


Rumah itu masih sama. Bahkan tata letak furniturenya juga tak ada yang berubah.


"Kamu lihat apa?" tanya Devan


"Enggak, ternyata semuanya masih sama" jawab Vania sambil mengedarkan pandangannya.


"Aku tak ingin merubah sedikitpun disini tanpa dirimu" kata Devan lembut diikuti dengan senyum di bibir Vania.


Mereka berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Dan benar saja. Tak ada yang berubah disana.


"Mandilah dulu, aku akan mandi di bawah. Nanti jamaah isya' bareng" kata Devan


"Iya, mas"


Seusai melakukan aktifitasnya, Devan segera mengajak istrinya untuk naik ke kamarnya.


"Mau apa mas?" tanya Vania bingung setelah memasuki kamar.


Devan memeperdulikan lagi pertanyaan istrinya. Ia hanya sibuk memeluk dan menciumi wajah istrinya.


"Mas, ini masih jam delapan lho, Bu Tini sama pak Amin juga baru aja pulang"


"Empat tahun aku nahan, yang. Please... Lagi pula biasanya juga mereka pulang sore" kata Devan memohon penuh harap. Bahkan matanya sudah tampak sayu karena hasratnya yang sempat tertunda.


"Nggak usah dilebih-lebihin, mas. Nggak nyampe empat tahun juga" jawab Vania ketus membuat Devan terkekeh.


"Berarti sekarang bisa, ya?" tanya Devan.


"Dasar mesum... Bentar aku ganti baju dulu" jawab Vania melepaskan tangan suaminya.

__ADS_1


"Enggak usah, aku juga nggak butuh pakaian" jawab Devan semaunya. Ia sudah tak lagi bisa menahan hasratnya untuk menyetubuhi Vania.


__ADS_2