Cinta Vania

Cinta Vania
Pernikahan


__ADS_3

"Devan, bantu bunda, Vania pingsan" panggil bu Dewi ke putrinya.


Devan meraih tubuh Vania dari pelukan bundanya dan mengangkatnya ke sofa. Bu Dewi memijat-mijat jari Vania berharap gadis itu sadar.


Tak butuh waktu lama, Vania sadar diikuti oleh mamanya.


Pak Teguh segera menghampiri adiknya. "ikhlaskan suamimu, dia sudah tenang dan tidak lagi merasakan sakit"


Bu Karina memeluk kakaknya dan kembali menangis.


"aku akan ikhlas kak, aku ikhlas...." katanya lirih setelah melepaskan pelukannya.


Vania menguatkan diri bangun dan berjalan menghampiri mamanya. Ia menangis di pelukan mamanya.


Adit pun berdiri dan berjalan mendekati ibu dan anak itu. Ia ikut memeluk dua wanita yang ada didekatnya itu. berusaha memberikan kekuatan agar tetap tenang dan kuat menghadapi semuanya.


Dokter Kevin dan perawat mendekati ranjang pasien untuk melepas alat bantu yang ada di tubuh pasien. Semua orang duduk di sofa sambil menunggu dokter Kevin menyelesaikan pekerjaannya.


Isak tangis dua wanita penting bagi pak Firman masih terdengar jelas di telinga orang-orang yang ada disana. Namun tidak dengan bu Karina, ia mulai bisa menahannya. Wanita itu tampak tegar mencoba untuk ikhlas meski hatinya begitu hancur. Air mata yang semula mengalir deras kini mulai mengering. Ia sadar, kesedihannya hanya akan menambah beban bagi suaminya.


"Van" panggil Adit.


Vania pun menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah kakaknya. Ia melihat dengan jelas bagaimana kakaknya berusaha untuk kuat demi dirinya dan Mamanya.


"Sesuai permintaan Papa, sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Kakak yang kini sebagai walimu tidak akan memaksamu" Kata Adit menatap lekat adiknya.


Semua orang diam menunggu jawaban dari Vania.


"boleh aku bicara dengan kak Devan sebentar?" tanya Vania ke Devan.


Devan mengangguk. Mereka berdua keluar dari ruangan dan duduk di kursi depan ruangan yang ada di sepanjang koridor.


"kak,,,"panggil Vania membuat Devan menoleh.


"maaf jika permintaan papa memaksamu untuk masuk dalam maasalah keluatga kami" kata Vania lirih


"kamu bicara apa, aku sama sekali tidak merasa seperti itu"

__ADS_1


"aku bingung harus bagaimana" kata Vania dengan bahu yang bergetar karena menangis.


"Vania, dengarkan aku... Aku juga tidak bisa memaksamu untuk mengikuti apa yang orang tuamu minta. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak mau pernikahan ini terjadi karena adanya keterpaksaan" kata Devan


"kalaupun aku mengikuti permintaan papa, itu semua bukan karena terpaksa. Aku ikhlas menjalaninya demi papa"


"lalu apa masalahnya?" tanya Devan heran


"aku tidak mungkin menikahi calon tunangan wanita lain" kata Vania smbil menundukkan kepalanya.


Deggg....Devan terkejut dengan pernyataan Vania. Ia tak menyangka gadis itu memikirkan perkataan Alline.


"maksudmu Alline?"


Vania mengangguk.


Devan turun dari kursi dan duduk berjongkok di hadapan Vania. Ia menyentuh dan memegang kedua tangan gadis itu.


"Vania, kau tahu aku hanya mencintaimu. Tidak bisakah kau percaya padaku?"


"apa kau akan tetap melanjutkan permintaan Papamu?" tanya Devan lirih.


Vania mengangguk pelan dengan meneteskan airmata. Devan menghapus air mata itu dengan senyum getir. Sakit sekali hatinya melihat Vania menderita.


Ya, ini adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya. Menikah di tengah-tengah musibah yang menimpa keluarganya.


Vania dan Devan memasuki ruangan dan menemui keluarga yang menunggu. Vania dan duduk di tengah-tengah mereka. Semua orang menatap serius ke arah Vania.


"Bismillahirrahmanirrahim.... Kak Adit, Mama, aku akan memenuhi permintaan terakhir papa. Aku akan menikah hari ini juga di samping jenazah Papa" katanya dengan air mata yang menetes kembali. Ia memantapkan hati dengan pilihannya meski sebenarnya kurang puas dengan penjelasan Devan sebelumnya.


Mama Karina memeluk erat putrinya. Ia mengecup pucuk kepala anak gadisnya itu. Ia tak menyangka putrinya yang manja itu mampu bersikap dewasa dengan hati yang begitu kuat mengikuti kemauan papanya.


"Mama menyayangimu sayang" kata mama Karina.


Adit mendekati Devan dan memeluk calon adik iparnya itu.


"terimakasih atas semua yang sudah kau lakukan untuk keluargaku. Kami tidak mengharapkan satu sen pun uang yang kamu punya. Yang aku harapkan adalah tolong bahagiakan adikku satu-satunya. Jangan sekali-sekali kamu menyakitinya, apalagi menduakannya. Karena sakit hatinya akan melukai jiwa keluargaku. Aku percaya kau bisa membimbing dan menjaganya. Jadikan dia bidadarimu di dunia dan surga kelak nanti" ucapnya lirih dengan air mata yang menetes membuat semua orang yang berada disana sedih dan terharu.

__ADS_1


Devan mengangguk setelah Adit melepaskan pelukannya.


"aku berjanji" kata Devan yang dijawab senyum oleh Adit.


Adit meraih ponsel dari sakunya untuk menghubungi Renata. Dengan lembut, Ia memberikan kabar akan kabar meninggalnya papa Firman agar istrinya tidak shock, ia juga menceritakan tentang pernikahan adiknya yang akan berlangsung di rumah sakit dan memintanya untuk menuju rumah duka untuk membantu Bi Inah mempersiapkan segala suatu untuk proses pemakaman.


Paman Teguh yang kebetulan juga seorang ustadz diminta oleh mama Karin untuk menikahkan putrinya.


Paman Teguh memberikan penjelasan kepada kedua calon yang akan menikah tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi. Ia juga meminta Devan untuk menyiapkan mas kawin sebagai syarat sah pernikahan.


"Vania, kamu mau mas kawin apa dari nak Devan?" tanya paman Teguh.


"terserah kak Devan saja, paman" jawab Vania lirih.


Devan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang begitu manis yang selalu dibawanya kemana-mana Ia berharap cincin itu bisa diberikannya pada Vania. Dan inilah saat yang tepat.


Mereka meminta dokter Kevin untuk menjadi saksi nikah dari pihak Vania dan oak Yanto saksi dari pihak Devan.


Semua orang sudah siap dan berkumpul tepat di samping pembaringan pak Firman.


Kedua mempelai duduk di depan paman Teguh dan Adit hanya terhalang meja sofa.


"baiklah, mari kita mulai akad nikah ini"


Paman Teguh membuka acara akad nikah dadakan yang sederhana di sebuah ruangan rumah sakit itu diikuti oleh Adit yang memulai ijab qabul.


"saudara Devan Satria Atmadja bin Bapak Satria Aji Atmadja, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik perempuan saya yang bernama Vania Ramadhani Wibowo binti Ahmad Firman Wibowo dengan mas kawin cincin berlian sebesar tiga karat dan uang sebesar lima juta rupiah dibayar tunai" kata Adit tegas. suaranya bergetar menahan tangis. Ia tak menyangka akan menjadi wali nikah dari adiknya menggantikan papanya. Sedang air mata Mama Karin dan Vania sudah mengalir deras sambil terus menatap jenazah lak Firman.


"saya terima nikah dan kawinnya saudari Vania Ramadhani Wibowo binti Ahmad Firman Wibowo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" suara lantang Devan menjawab dengan sekali ucap.


"para saksi, sah?" tanya paman Teguh.


"Sah" jawab para saksi serempak.


Paman Teguh menutup akad nikah dengan membacakan doa untuk kedua mempelai.


Vania menangis dalam pelukan ibunya setelah semua orang menutup doa.

__ADS_1


__ADS_2