
Malam itu Devan menyusuri jalanan setelah keluar dari pagar rumahnya untuk mencari keripik jamur yang istrinya inginkan. Beruntung makanan itu mudah ditemui di minimarket sehingga ia tak perlu jauh-jauh mencarinya.
Mengingat jam di tangannya yang sudah menunjukkan angka sepuluh, mobil yang dikendarai Devan berhenti tepat di sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Devan memarkirkan mobilnya diantara beberapa mobil dan motor yang sudah terparkir lebih dulu disana. Ia lekas masuk ke dalam minimarket dan mengambil beberapa makanan yang ditujunya sebelum kemudian menuju meja kasir untuk membayar.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Devan kembali melakukan mobilnya untuk pulang menemui istrinya. Ia pun menyerahkan sekantong plastik penuh keripik jamur di depan Vania.
"Banyak banget, mas" ucap Vania terkesiap karena melihat banyak makanan di depannya.
"Ya kan nanti aku juga ikut makan" jawab Devan terkekeh.
Tanpa ragu-ragu Vania membuka salah satu bungkus keripik pisang dan memakannya. Ia begitu lahap menikmati makanan yang belum pernah disentuhnya sama sekali. Sedang Devan hanya memperhatikan tingkah Vania dengan wajah cemas. Takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Kok cuma ngelihatin aku. Ayo ikutan makan" tegur Vania ke suaminya.
"Lihat kamu makan kaya gitu udah bikin aku kenyang, sayang. Kamu habiskan saja" ucap Devan tanpa berhenti memperhatikan istrinya.
Mendengar ucapan Devan, Vania dengan rakus membuka bungkus demi bungkus keripik jamur dan melahapnya sampai habis.
Malam semakin larut. Vania yang kekenyangan sudah tak kuat lagi menahan rasa kantuknya. Sedang Devan hanya menggeleng heran dengan tingkah istrinya yang tak seperti biasa. Devan menyuruh Vania untuk berbaring dan tidur di sebelah Juna. Sementara dirinya lebih memilih untuk tidur di sofa sebelah tempat tidur agar tidak mengganggu tidur putranya.
Pagi harinya, seperti janji semalam, Vania pergi ke rumah sakit bersama Juna diantar oleh Devan. Mereka menemui spesialis obgyn untuk memastikan pernyataan dokter Niko tentang kehamilan Vania.
__ADS_1
Setelah sampai di tujuan, Devan dan Vania mengikuti arahan dan petunjuk dari pihak rumah sakit. Ia pun menemui dokter Nisa untuk melakukan pemeriksaan. Setelah prosesi rangkaian tanya jawab, dokter Nisa meminta Vania untuk berbaring di tempat tidur yang telah disediakan agar dokter bisa lebih mudah memeriksa perutnya dengan alat USG. Alat itu diputar putar diatas permukaan perut Vania yang telah dioles gel oleh perawat yang membantu dokter Nisa. Pergerakan dokter Nisa berhenti di sebuah titik dimana terdapat sebuah gambaran sebesar biji kacang. Ya, dokter Nisa membenarkan tentang kehamilan Vania yang kini berusia enam Minggu. Sambil terus memeriksa, dokter Nisa menjelaskan secara detail tentang kehamilan Vania.
Devan yang duduk tepat di sebelah kepala Vania tersenyum penuh haru sambil mengusap rambut istrinya. Ia begitu bahagia dengan kejutan yang baru saja dokter sampaikan. Sedang Vania hanya diam dan terus menatap layar monitor besar yang ada di depannya. Wanita itu nampak kebingungan dan belum menyadari sepenuhnya penjelasan dokter Nisa, lebih tepatnya ia tidak percaya dengan kehamilan yang kini dialaminya. Karena tak ingin kecewa, ia memupuskan semua harapannya untuk mempunyai bayi dari rahimnya sendiri.
"Sayang, kamu hamil. Kita akan segera mempunyai anak" kata Devan lembut dan begitu bahagia. Ia mencium kening istrinya. Meluapkan seluruh kebahagiaannya disana.
"Kamu tidak bercanda kan, mas?" tanya Vania tidak percaya.
"Tidak, sayang. Juna akan mempunyai seorang adik" jawabnya sambil melirik kearah Juna yang sedang duduk di depan meja dokter Nisa.
Seketika air mata Vania menetes mendengar ucapan suaminya. Kali ini bukan air mata kehilangan seperti yang sebelum-sebelumnya. Air mata kebahagiaan yang sekian lama ia nantikan.
Devan mengangguk dengan senyum bahagianya.
Dokter Nisa meminta Vania dan Devan kembali duduk di tempat sebelumnya setelah pemeriksaan selesai. Dokter memberikan pengarahan-pengarahan kepada calon ibu yang kini kembali menjadi pasiennya.
"Mengingat kehamilan nyonya Vania sebelumnya sangat lemah, saya menyarankan untuk lebih berhati-hati. Jangan terlalu banyak aktifitas yang dapat menyebabkan cepat lelah. Perbanyak makan makanan yang memiliki banyak gizi dan baik untuk perkembangan janin. Jangan terlalu banyak pikiran. Karena emosi seorang ibu hamil dapat berpengaruh pada janinnya".
"Tapi kondisi kehamilan istri saya baik-baik saja kan, dok?" tanya Devan yang sedang memangku Juna.
"Kondisi janin dalam keadaan baik, dimana ibu yang mengandung juga sehat. Jadi tidak ada masalah dalam hal ini" jawab dokter sambil mengalihkan pandangannya ke arah Vania dengan senyum. "Dan ini adalah resep vitamin dan kalsium yang harus nyonya konsumsi untuk kesehatan janin" lanjutnya memberikan sebuah foto hasil USG dan selembar kertas berisi resep obat yang harus mereka tebus di apotek rumah sakit.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, dokter" jawab Vania.
Selepas berpamitan dengan dokter Nisa, Devan meminta Vania dan Juna untuk duduk di ruang tunggu, sementara dirinya menuju apotek untuk menebus obat.
Sambil menunggu apoteker menyiapkan pesanannya, Devan memberikan kabar tentang kehamilan istrinya pada orangtuanya, ibu mertuanya dan juga orangtua angkatnya. Karena saking senangnya, ia tak mau melewatkan kebahagiaan itu sendiri. Terlebih pada ayah bundanya yang selama ini selalu mendambakan seorang cucu meski tak pernah mereka ungkapkan demi menjaga perasaan menantunya. Bunda Dewi dan ayah Satria sangat amat bahagia saat mendengar berita tentang kehamilan menantunya. Hingga mereka memutuskan untuk melakukan penerbangan saat itu juga demi mengungkapkan kebahagiaannya secara langsung dengan bertemu putra dan menantunya.
"Minumlah dulu", ajak Devan setelah kembali dengan membawa kantung plastik berisi obat di tangannya. Ia memberikan dua botol air mineral yang baru saja dibelinya di kantin sebelah apotek untuk Juna dan Vania.
Vania membantu Juna membukakan tutup botol yang sebelumnya segelnya sudah dibuka oleh suaminya untuk mempermudah dirinya. Kemudian ia berganti ke botolnya sendiri. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih dan meminumnya.
"Ayo kita pulang. Sebentar lagi Sherin akan sampai di rumah untuk menjemput Juna", ajak Devan setelah melihat istri dan anaknya selesai minum.
"Kenapa Juna hanya sebentar bersama kita?"
"Aku bisa membawanya ke Jakarta karena hari ini maminya ada urusan disini, sayang. Kalau tidak mana boleh aku membawanya kemari" jelas Devan. "Sudah, ayo" lanjutannya mengulurkan tangan ke arah Vania untuk membantunya berdiri. Kemudian ia beralih meraih Juna dan menggendongnya.
Sesampainya di rumah, Pasangan yang tengah berbahagia itu disambut dengan sederhana oleh keluarga besar Vania dan juga orang tua kandung Juna. Mereka semua sangat amat terharu dengan kebahagiaan yang tengah dialami oleh Devan dan Vania.
"Selamat, sayang. Mama sangat bahagia. Jaga selalu kesehatanmu" ucap mama Karina memeluk putrinya dengan tangis haru.
Adit dan istrinya pun menyampaikan ucapan selamat dan beberapa nasehat untuk adiknya. Begitu juga Sherin yang tak kalah antusiasnya mendengar kehamilan sahabatnya. Sherin adalah saksi dari semua penderitaan Vania selama sakit di Surabaya. Ia begitu bangga dengan kesabaran dan perjuangan sahabatnya sampai di titik sekarang.
__ADS_1