
Vania bangun lebih awal. Ia bergegas membersihkan diri dan sholat anoa menunggu suaminya bangun. Bahkan ia juga tak berniat untuk membangunkan suaminya seperti hari-hari sebelumnya.
Seusai dengan aktifitas pribadinya, ia turun ke lantai bawah membantu Bu Tini yang sudah datang dan kini sedang memasak untuk sarapan pagi kedua majikannya. Meski tak bisa memasak, setidaknya ia bisa membantu biarpun sekedar mengupas dan memotong sayur.
Vania juga Tidak terlalu sering berada di dapur sepagi ini. Dan pagi ini ia sengaja berada di dapur untuk menghindari suaminya.
Tepat jam enam pagi, Bu Tini yang dibantu Vania sudah selesai dengan perkejaan dapur untuk membuat sarapan. Vania kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kantor. Dilihatnya tempat tidur sudah sepi. Itu artinya suaminya sudah bangun dan mungkin saat ini sedang berada di kamar mandi.
Vania beralih menuju jendela yang terletak di samping pintu penghubung balkon untuk membuka gorden lebar agar sinar matahari pagi bisa masuk. Ia juga membuka jendela dan pintu penghubung balkon untuk membiarkan udara pagi masuk ke dalam ruangan kamarnya. Dengan tangan masih saling memegang ujung pintu, Vania terpaku sejenak merasakan udara sejuk dari luar bersama suara kicauan sahutan burung-burung. perlahan ia memejamkan matanya. Ada buliran bening kristal yang jatuh dari pelupuk matanya.
Devan yang baru keluar dari kamar mandi hanya memakai boxer segara menghampiri Vania. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Tak ada perlawanan ataupun penolakan dari Vania. Wanita itu hanya diam merasakan kenyamanan saat tubuh kekar suaminya merengkuhnya meski hatinya begitu sakit mengingat kejadian tadi malam.
"Yang" panggil Devan lirih saat istrinya hanya diam saja. Namun Vania hanya diam saja tak menjawab.
"Yang, maafkan aku" lanjut Devan sambil menenggelamkan wajahnya diantara leher dan pundak Vania.
Vania dengan cepat menghapus air matanya dan berusaha bergerak agar Devan melepaskan pelukannya.
"Aku mau siap-siap ke kantor, mas" kata Vania tergesa-gesa. Ia tak memperdulikan lagi perkataan suaminya.
Devan yang mengerti jika istrinya itu sedang kecewa dan marah segera menarik pergelangan tangan Vania dan kembali merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.
"Yang, please maafkan aku. Aku benar-benar lupa kalau tadi malam_____"
"Aku tak ingin membahasnya sepagi ini, mas. Tolong biarkan aku bersiap ke kantor" sahut Vania datar memotong perkataan suaminya.
Devan terdiam. Dengan terpaksa ia melepas pelan pelukannya. ia merasa bersalah karena sudah mengecewakan orang yang dicintainya. Ia sangat menyesal. Jika saja tadi malam ia menepati janjinya pada istrinya, ia yakin tadi malam terjadi sesuatu yang sangat ia inginkan bersama Vania dan hubungan mereka kini pasti romantis dan bahagia.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Vania tetap diam. Meski begitu ia tetap melakukan kebiasaannya dengan mencium tangan suaminya sebelum turun dari mobil.
Jam makan siang tiba. Vania dan Maya berjalan keluar lobby untuk ke kantin. Langkah mereka terhenti saat seorang security memanggil nama Vania.
"mbak Vania, ya?" tanya security itu.
"Iya pak, betul. Ada apa ya?"
"Ini mbak, tadi pagi ada titipan nggak tahu dari siapa katanya sih suruh kasih ke mbak Vania" kata security itu sambil menyerahkan amplop coklat yang dibawanya.
Vania mengambil amplop itu dan mengucapkan terimakasih.
Vania membawa amplop itu menuju kantin bersama Maya. Mereka duduk di salah satu meja kosong setelah memesan makanan.
"isinya apa ya..." kata Vania sambil membolak+balikkan amplop itu.
"Kalau penasaran dibuka aja" jawab Maya memberi solusi.
"Van, tenang ya...ini pasti hanya salah paham" kata Maya mengusap pundak sahabatnya.
"Entahlah mbak... Aku hanya mencoba berusaha untuk tetap percaya padanya" kata Vania pelan.
"Aku yakin pak Devan nggak seperti itu"
"Aku pun juga berpikir begitu, mbak... Tapi sejak kedatangan wanita London itu, Sikapnya benar-benar berbeda dan berubah. Bahkan seluruh waktunya habis bersama wanita itu. Apalagi ini, foto-foto ini, Mbak lihat sendiri bagaimana kedekatan mereka. Istri mana yang nggak sakit hati mbak..." Vania mengeluarkan isi hatinya dengan berurai air mata sambil menunjuk lembaran foto yang ada di depannya. Foto dimana Devan dan Stella sedang bercanda dengan begitu akrab di sebuah kafe.
"Aku ngerti Van... kamu tenang ya... jangan sampai karyawan lain memperhatikanmu" kata Maya menenangkan Vania. Kemudian ia memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop sebelum orang lain melihatnya.
__ADS_1
Vania tak lagi berselera untuk menikmati makan siangnya. Ia hanya mengaduk-aduk tanpa memasukkan sesendok pun ke dalam mulutnya.
Vania kembali memasuki gedung kantor. Salah satu pegawai lobby memanggilnya dan memberikan titipan amplop lagi.
"Barusan ada security yang nitip amplop ke saya katanya buat mbak Vania" kata wanita lobby.
Vania diam tak bergerak. Matanya terus memandang amplop yang dibawa wanita itu tanpa menerimanya.
"Biar saya yang bawa saja...makasih ya mbak" sahut Maya menerima amplop itu. Kini dua amplop coklat itu ada di tangan Maya.
Maya dan Vania berjalan menuju ruangannya.
Maya terus memperhatikan Vania yang terus diam dengan wajah sedih.
"Van, mau dibuka nggak ini amplop yang kedua?" tanya Maya ragu-ragu.
"terserah Mbak Maya aja" kata Vania datar
seolah sudah tahu apa isi dari amplop kedua. Ia yakin isinya masih sama tentang Devan dan Stella.
Maya membuka amplop itu. Dan benar saja, isinya sama. Hanya saja pakaian yang digunakan dan tempatnya yang berbeda. Bahkan di amplop kedua ini mereka tampak sangat dekat dengan duduk bersampingan sambil tertawa.
Maya menghirup dan melepaskan nafasnya pelan. Ia ikut sedih melihat sahabatnya disakiti seperti itu. Dimasukkannya kembali foto-foto itu ke dalam amplop tanpa menunjukkannya pada Vania. Dan Maya yakin ini pasti ulah orang jahatyang tidak suka dengan rumah tangga mereka.
"Mbak, aku mau ijin pulang ya" kata Vania tiba-tiba.
"Aku anterin aja ya" jawab Maya
__ADS_1
"Enggak usah repot-repot mbak, aku naik ojek saja. Lagipula rumahku dekat dari sini" tolak Vania sopan dengan wajah yang pucat. Ia megambil tasnya yang ia letakkan di dalam lemari kecil bawah mejanya.
"Ya udah ayo aku anterin ke depan. Nanti biar aku yang bilangin ke Pak Romi" ajak Maya berdiri menggandeng tangan Vania. ia mengantarkan istri atasannya itu di luar gerbang sampai ojek pesanannya datang.