
Leo mengantarkan Vania pulang ke rumah sesuai janjinya setelah menyelesaikan tugas kelompok.
Di dalam mobil, mereka tidak banyak mengobrol karena Vania lebih sering diam dan hanya mengangguk dan senyum saat Leo mengajaknya ngobrol.
Vania mengucapkan terimakasih sebelum turun dari mobil Leo setelah mobil berhenti tepat depan rumahnya.
Leo hanya tersenyum kecut karena merasa tidak bisa menaklukkan hati Vania.
"sial" umpatnya memukul kemudi saat Vania sudah memasuki pagar rumahnya.
Cukup sudah baginya hari ini untuk meluluhkan Vania agar tertarik padanya. Ia akan berusaha kembali nantinya. Leo kemudian melajukan kembali mobilnya menjauh dari rumah Vania.
********
Sore ini Devan dan keluarganya kembali ke tanah air setelah menyelesaikan prosesi wisudanya.
Mereka kembali menggunakan jet pribadi. Sebenarnya Devan tidak begitu suka bepergian menggunakan jet pribadi. Ia lebih nyaman dan suka memilih penerbangan dengan pesawat kelas bisnis saat bepergian jauh. Di samping karena lebih hemat biaya, ia juga merasa tidak kesepian karena banyak penumpang disana.
Lega rasanya hari ini dan seterusnya bisa menghirup kembali udara di tanah air, bergabung sahabat lamanya kapanpun ia mau dan menghirup udara di kota yang sama dengan gadis incarannya.
"bi, tolong bantu masukin koper ke dalam ya" kata bu Dewi memerintah pada bi Siti dan asisten lain karena bi Sumi sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk majikannya.
"baik Nyah" jawab para asisten serempak. Mereka bergegas melakukan perintah majikannya.
Para asisten mengeluarkan beberapa koper dari dalam bagasi mobil majikannya. Ada 2 koper besar dan 3 koper kecil yang merek keluarkan. Mereka menyeret koper itu menuju kedalam rumah.
"bi, yang dua koper besar sama koper kecil warna silver itu taruh di kamar saya saja ya, biar nanti saya yang ngatur sendiri" kata Devan yang duduk di sofa bersama kedua orangtuanya menunjuk pada koper kecil yang dibawa oleh salah satu asisten rumah tangga.
"baik tuan"
Setelah para asisten rumah tangga itu kembali turun dari tangga setelah meletakkan koper di kamar, Devan berpamitan kepada ayah dan bundanya untuk beristirahat di kamar.
__ADS_1
*****
Hari berikutnya pagi-pagi sekali Devan berangkat setelah sarapan menuju rumah bu Wati dan suaminya. Ia ingin mengunjungi ibu dan bapaknya untuk melihat keadaan mereka dan melepas rindu.
Bu Wati dan pak Yanto terkejut dengan kedatangan putranya yang berdiri di depan pintu. Devan memang sengaja tidak memberikan kabar atas pulangnya ke tanah air karena ingin memberikan kejutan pada bapak dan ibunya.
"putraku....kapan kamu pulang nak?" kata bu Wati merentangkan tangannya sambil berjalan mendekat hendak memeluk Devan.
Devan langsung memahami maksud dari ibunya. Ia memeluk bu Wati dengan sayang.
"kemarin sore bu, Devan sengaja ingin memberi kejutan sama ibu dan bapak" kata Devan setelah melepaskan pelukannya.
Devan beralih memeluk bapaknya yang sudah semakin segar dari sebelumnya saat kepergian Ditya.
"kalian sehat?" tanya Devan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum lembut dan memandang kedua orangtuanya itu bergantian.
"alhamdulillah nak, seperti yang kamu lihat. Bapak dan ibu sehat dan bahagia semenjak semua yang kamu lakukan kepada kami. bagaimana denganmu.
"ayo kita duduk dulu" ajak bu Wati berjalan menuju kursi.
Mereka bertiga duduk di kursi tamu sambil mengobrol. Waktu itu warung sedang sepi karena para pembeli lebih sering belanja di jam-jam tertentu sehingga mereka bisa sambil bersantai dan mengobrol.
"pak,, bu,, Devan mau minta ijin sama kalian" kata Devan di sela-sela obrolannya"
"apa sayang" tanya bu Wati.
"ibu sudah tahu kan tentang Devan dan Vania seperti yang pernah Ditya ucapkan dulu waktu pertama kali Devan kemari"
Bu Wati mengangguk dan tersenyum karena memang ia masih ingat betul kejadian saat Ditya memaksa Devan untuk mengakui perasaannya pada Vania. Lain halnya dengan pak Yanto yang tidak tahu menahu tentang kejadian itu hanya diam mencerna setiap perkataan putranya.
"Devan ingin mengutarakan maksud Devan ke Vania" lanjutnya
__ADS_1
"maksudnya bagaimana nak, bapak tidak mengerti" kata pak Yanto mengerutkan keningnya.
"gini lho pak....Devan ini mencintai Vania. dan perasaan itu jauh sebelum Ditya mengenal Vania. Tapi sayangnya Vania tidak tahu itu" kata bu Wati menjelaskan ke suaminya.
Pak Yanto hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari istrinya.
"kebetulan ayah dan papa Vania adalah rekan bisnis, dan nanti malam keluarga akan mengadakan pertemuan untuk membahas perjodohan. Tapi Vania belum tahu kalau lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah saya"
"Vania pasti suka sama kamu nak" sahut pak Yanto
"Aamiin... saya juga berharap demikian pak, masalahnya Vania tidak begitu suka sama saya. Bahkan bisa dibilang dia sangat membenci saya"
"percayalah... jika dia jodohmu Allah akan semakin mendekatkan mereka. Perasaanmu terhadapnya sudah terlalu dalam, bahkan kesabaranmu dalam mencintainya telah melewati banyak ujian. Hingga Allah mempertemukan kamun dan dia kembali seperti ini, yakinlah dia memang diciptakan untukmu" kata pak Yanto menyentuh bahu Devan.
Devan tersenyum lembut mendengar kata-kata yang begitu menyentuh hati. Ia pikir mungkin ada benarnya juga. Ia memang begitu sabar mencintai Vania. Bahkan tak sekalipun ia berpikir untuk berpaling dan mencari wanita lain saat melihat Vania tengah bersama pilihannya dulu.
"jangan pernah putus asa nak, perjuangkan cintamu, kami mendukung apapun yang terbaik untukmu" kata bu Wati.
"Devan ingin mengajak bapak dan ibu kalau kalian berkenan" ajak Devan
"nak, maaf bukan kami menolak. Kami tidak bisa hadir disana. Lagipula ini pertemuan keluarga" kata pak Yanto
" tapi kalian juga keluargaku, kalian juga orangtuaku"
"tapi ini berbeda"
"apanya yang beda pak... Devan tidak pernah membeda-bedakan kalian"
"kami mengerti maksud baikmu nak, tapi percayalah... bapak dan ibu akan lebih merasa nyaman untuk tidak berada di pertemuan itu. Tak perlu berkecil hati, bukankah restu kami lebih penting dari kehadiran di pertemuan itu? Bapak janji, kalau nantinya kamu dan Vania resmi menikah, bapak dan ibu akan menemanimu dan berada di pernikahanmu" sahut bu Wati
Devan terdiam sejenak. Meski sedikit kecewa dengan jawaban yang ia dengar, tapi ia bisa menerima alasan kedua orangtua itu.
__ADS_1