Cinta Vania

Cinta Vania
Kesal dan Cemburu


__ADS_3

Wanita itu mencium pipi kanan dan kiri Devan. wajahnya begitu riang bertemu dengan Devan. Begitu juga sebaliknya, Devan menyambutnya dengan senyum lebar.


"Aku sama sepupuku, kebetulan dia lagi beli makanan"


"kok kamu nggak bilang-bilang kalau mau ke Jakarta, kalau tahu kan aku bisa anterin kamu jalan-jalan keliling Jakarta" kata Devan.


"kemarin ponselku hilang, jadi kontakmu juga nggak ada. Kebetulan tadi aku liat kamu. Takut salah jadi coba aku deketin, eh nggak tahunya beneran kamu" wanita itu tersenyum manis.


Mereka nampak akrab, membuat Vania bertanya-tanya tentang wanita itu. Entah kenapa tiba-tiba hati Vania berubah kesal. Ia seolah tidak suka dengan keberadaan wanita lain yang begitu dekat dengan lelaki di depannya.


Vania terdiam. Wajahnya berubah datar. Ia mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang ada di hadapannya dengan membuang mukanya ke arah lain.


"eh tuh cewek kamu ya?" bisik wanita itu ke Devan yang masih bisa di dengar oleh Vania.


"bukan... dia temanku"


"tunggu...." kata Wanita itu. Ia mendekati telinga Devan dan membisikkan sesuatu "jangan bilang itu gadis yang kamu incar dulu"


Devan tersenyum mendengar bisikan Sita. Ia menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


"oh iya kenalin ini Vania" kata Devan ke Sita


"dan Vania, dia Sita. Teman SMA ku dulu di Bandung"


Keduanya saling berjabat tangan. Vania memaksakan senyumnya dan menyebutkan namanya "Vania"


"Sita" kata Sita senyum.


"sepertinya aku harus pergi, aku takut sepupuku mencariku" kata Sita melipat bibirnya menahan senyum. Sebenarnya ia hanya beralasan karena takut mengganggu dua sejoli itu.


"oh iya tolong tulis nomormu disini" katanya ke Devan sambil menyodorkan ponselnya.


Devan mengetikkan nomornya di ponsel milik Sita.


"makasih"


Sita pun mendekati Devan dan berbisik ke telinga Devan.


"sepertinya dia cemburu padaku" bisiknya sambil terkekeh membuat Devan melipat bibirnya menahan senyum dan melirik ke Vania.


Sita berlalu meninggalkan Devan dan Vania.

__ADS_1


Ada rasa kesal di hati Vania yang melihat kedekatan mereka. Bahkan dua kali mereka berbisik-bisik di depannya dengan senyum yang begitu senang.


"eh kok gue jadi kesel gini sih liat mereka. Lagian Kak Devan kan bukan siapa-siapa gue. Ngapain juga gue harus seperti ini" batin Vania.


"ngomong-ngomong hari ini kenapa kamu pakai baju resmi gini?" tanya Devan yang nerasa aneh dengan penampilan wanita di hadapannya saat ini


"emm itu...tadi aku habis melamar kerja"


"dimana"


"di... " Vania ragu-ragu menjawab pertanyaan devan karena tidak mempunyai jawaban untuk di sebutkan.


"ya sudah lah lupakan, nggak apa-apa kalau nggak mau jawab" Kata Devan yang tidak mau terlalu mempersoalkan sesuatu yang tidak begitu penting. "kamu sibuk nggak hari ini?" imbuhnya.


Vania menjawabnya hanya dengan menggelengkan kepalanya.


"mau ikut aku?"


"kemana?" tanya balik Vania


"pantai"


"iya" jawab Devan


"emm...boleh, tapi aku pamit dulu ke papa, takutnya nanti dicari karena pulang kesorean"


"tak perlu, biar aku yang pamitkan, aku harus tanggung jawab karena mengajakmu"


Devan mengambil benda pipihnya untuk menghubungi papa Vania.


Setelah mendapatkan ijin, dia langsung menyampaikannya ke Vania dan mengajaknya ke tempat yang dituju. Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran taman.


Saat perjalanan menunju parkiran mobil, Devan disapa oleh seorang lelaki paruh baya yang dikenalnya. Lelaki itu bersama seorang gadis cantik yang tak lain adalah putrinya.


Pak Ali memperkenalkan Devan pada putrinya yang bernama Katie. Pak Ali merupakan salah satu pemimpin anak cabang SA Group seperti pak Firman.


Devan tersenyum ramah menyambut uluran tangan gadis yang ada di hadapannya. Mereka berhenti sejenak saling sapa.


Vania yang semakin kesal karena merasa diabaikan berjalan begitu saja mendahului Devan menuju mobil.


Devan kemudian berpamitan pada pak Ali dan putrinya menyusul Vania yang sudah duduk di kursi depan mobilnya

__ADS_1


Devan melihat ekspresi wajah Vania yang kesal. Ia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengetahui perasaan Vania terhadapnya.


"sorry ya" kata Devan sambil memasuki mobilnya.


"nggak apa-apa kok, justru aku yang takut ganggu" kata Vania dengar ekspresi datar.


"enggak kog, lagian tadi juga nggak sengaja bertemu" kata Devan yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju pantai yang dituju. Jalanan siang itu tampak macet karena kendaraan yang berjejer.


Devan terus memperhatikan Vania setiap menghentikan mobilnya sambil menunggu jalanan lengang. Gadis itu masih cemberut dan membuang muka ke luar jendela. Keadaan itu justru membuatnya senang. Mungkin ini langkah awalnya untuk mendapatkan gadis itu. Ia tahu betul Vania sedang cemburu dan kesal setelah bertemu Sita dan Katie.


Ya, sesampainya di pantai nanti ia akan berusaha mengambil hati Vania. Dan setelah dari pantai nanti ia akan berusaha sedikit menjauh kembali untuk melihat reaksi gadis itu.


Devan berharap perasaannya benar. Gadis yang dicintainya akan tergila-gila padanya. Ia hanya perlu sedikit bersabar dan mengerti keadaan asal gadis itu bersedia menerima cintanya. Ia tak peduli lagi janji yang pernah diucapkannya pada Vania dulu. Setelah apa yang papa Vania sampaikan, semangatnya untuk memiliki Vania tumbuh kembali.


Vania mulai memperlihatkan sikap cemburunya. Kali ini ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu karena yakin semakin dekat dengan tujuannya.


Mereka sampai di pantai menjelangsore hari karena jalanan yang seharusnya memakan waktu satu setengah jam dari pantai berubah menjadi tiga jam karena macet.


Suasana pantai begitu teduh dan nyaman. Tak begitu banyak orang berlalu lalang menikmati pemandangan laut dan pantainya.


Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon besar sambil menunggu kelapa muda yang dipesannya dari pemilik warung datang.


"bagaimana keadaan bu Wati dan pak Yanto?" tanya Vania.


"Alhamdulillah mereka sehat"


"sering kesana ya?"


"enggak juga, akhir-akhir ini banyak pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggal. Terakhir aku kesana minggu lalu"


Mereka diam sejenak saat penjual kelapa muda membawakan pesanan mereka. Setelah menyerahkan kelapa muda itu ke pembelinya, penjual itu pun kembali ke warungnya.


"kata Nadya, kamu sering ngajak dia ke makam Ditya, benar?"


"itu dulu... sekarang papa melarangku. Ia ingin aku melupakannya pelan-pelan. Katanya semakin sering aku kesana, aku juga akan semakin ingat tentangnya" kata Vania sedih karena mengingat sosok yang pernah dicintainya itu.


"cinta memang rumit. Terkadang kita harus merelakan apa yang kita inginkan untuk bahagia" kata Devan tiba-tiba


Vania menoleh ke sampingnya dan menatap pria yang ada di sampingnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2