Cinta Vania

Cinta Vania
Senyummu Manis lho


__ADS_3

Malam harinya, Mereka tidur di ranjang yang sama seperti kesepakatan tadi siang. Meski tidak ada aktifitas malam layaknya suami istri, namun Devan merasa cukup puas bisa tidur dengan memeluk istrinya dari belakang.


Pagi harinya, Vania bangun lebih awal untuk membersihkan diri. Devan yang masih memejamkan mata merasakan aneh saat menepuk bantal di sampingnya kosong. Ia dengan cepat membuka mata dan mencari keberadaan istrinya.


"Yang...." panggilnya. Namun tak ada jawaban. Samar-samar ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ia yakin istrinya sedang mandi.


Lima menit kemudian Vania keluar dari kamar mandi dengan memakai baju mandi.


"Yang, kok Kamu mandi sepagi ini?" tanya Devan ke istrinya karena melihat jam dinding masih menunjukkan angka setengah lima.


"Sekalian subuhan mas,,," jawabnya sambil menutup pintu kamar mandi.


"Oh begitu ya" Devan lupa kalau istrinya selalu sholat lima waktu tidak seperti dirinya. Ia menuruni tempat tidur hendak menghampiri istrinya.


"Eits...Mau apa?" tanya Vania mundur selangkah.


"Aku ingin memelukmu, sayang... " Kata Devan sambil merentangkan tangan.


"Enggak mas, aku udah wudhu lho" tolak Vania.


"Bentar doang yang..." pinta Devan merengek manja seperti anak kecil minta permen.


"Enggak sekarang mas, nanti aja ya habis sholat" Kata Vania senyum membuat Devan mendengus kesal karena tak lagi bisa memaksa.


"Ya sudah lah...kalau gitu tunggu aku mandi bentar, kita jamaah bareng" katanya lalu berlalu ke kamar mandi.


Tepat pukul lima kurang seperempat menit. Pasangan suami istri itu sholat berjamaah. Perasaan yang begitu teduh dan hangat terlintas di hati Vania. Ini adalah impiannya selama ini. Berjamaah sholat dan menjadi makmum dari imam yang menjadi suaminya.


Seusai mengucapkan salam dan memanjatkan doa, Devan menoleh ke belakang menghadap istrinya. Vania segera meraih tangan Devan dan mencium punggung tangan suaminya. Diikuti oleh Devan mencium kening istrinya. Devan melepas ciumannya dan akan turun ke bawah mencium bibir istrinya.


"Mas,,, Aku masih pakai mukena lho?" katanya malu-malu.


"Emang kenapa?"


"Embbb....Nggak enak aja" jawabnya ragu-ragu. Sebenarnya ia hanya mencari alasan saja karena gugup.


"Ya sudah, lepas" Kata Devan sambil membantu melepaskan pelan kerudung mukena istrinya.


Vania melepas bawahan mukena yang di gunakannya dan menyimpannya. Ia mendudukkan diri di tepi tepat tidur sambil memeriksa ponselnya.


Namun belum sempat Vania membuka kunci layar ponselnya, Devan sudah mengambil ponsel itu dan meletakkannya kembali di atas nakas. Vania terkejut dan menoleh ke suaminya. Devan menatap lekat wajah istrinya dengan jarak yang cukup dekat. Nafas mereka beradu membuat degup jantung Vania berpacu lebih cepat. Devan meraih tengkuk leher Vania agar pemiliknya tidak bergerak. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.

__ADS_1


Vania semakin gugup dengan jantungnya yang berdegup tak karuan. Ia berulang kali menarik nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Devan mendekatkan bibirnya dengan bibir Vania. Seketika Vania memejamkan matanya. Devan mencium dan mel*mat bibir istrinya dengan lembut. Vania yang belum terbiasa hanya bisa diam tak membalas. Devan mengajari istrinya dengan berusaha membuat Vania membuka bibirnya agar lidahnya bisa menjelajah ke dalam bibir istrinya. Tanpa Vania sadari, mulutnya terbuka dan dengan cepat Devan mengeksplorenya dengan lidahnya.


Meski ini kedua kalinya ia mencium bibir Vania, namun baginya ini adalah ciuman pertamanya dalam keadaan sadar. Vania mulai menikmati lu*atan demi lu*atan dari sentuhan bibir Devan dan membalas ciuman suaminya.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Bahkan sesekali Devan meninggalkan gigitan kecil di bibir bawah Vania yang ranum.


Devan mulai melepaskan ciumannya saat merasakan istrinya mulai susah bernafas karena kelelahan. Ia beralih mencium kening istrinya.


"Terimakasih sayang, kau membuat rasa cintaku semakin besar padamu. Terimakasih atas ketulusan hatimu sudah bersedia menjadi istriku. Aku mencintaimu" katanya lirih menatap lekat wajah istrinya.


Vania memeluk Devan dengan begitu erat, "Terimakasih juga sudah mencintaiku selama ini, aku bahagia mas....sangat sangat bahagia" katanya dengan bahu yang bergetar karena tangis bahagia.


Devan mengusap punggung Vania dan mencium ujung kepalanya.


"Nangisnya udah ya yang... Kamu nggak capek dari kemarin nangis?" tanya Devan menggoda istrinya agar tersenyum dan berhenti menangis.


"Auuuww...."


Vania mencubit pelan perut suaminya. Ia merasa malu karena Devan selalu usil padanya. "Jangan nyebelin kenapa sih mas".


Devan hanya menjawabnya dengan terkekeh sambil kembali memeluk istrinya.


"Besok ya..."


"Sekarang, Mas" rengek Vania.


"Tapi kamu ini masih sakit lho yang"


"Udah enakan kok, boleh ya?"


"Ya udah, habis sarapan kita kesana. Tapi ingat, jangan terlalu lelah. Dokter Niko bilang kamu masih harus banyak istirahat. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." Kata Devan menasehati.


"iya bawel". Vania mencubit pelan pipi suaminya sambil tertawa.


Devan tersenyum melihat keceriaan pada wajah istrinya. Ini pertama kalinya ia melihat senyum bahagia di wajah istrinya setelah menikah. "Gitu donk... Senyummu manis lho, sayang kalau terus di sembunyiin" pujinya membuat Vania tersipu malu dan salah tingkah. "Ya udah buruan siap-siap, nanti habis sarapan kita berangkat".


Vania berangkat bersama Devan menuju rumah Mamanya. Di tengah perjalanan, ia mendapatkan telepon dari mama Karina.


"hallo assalamualaikum"

__ADS_1


"waalaikumsalam.. Vania kamu dimana, sayang " tanya Mama panik.


" Aku lagi di jalan mau ke rumah mama, kenapa Mama panik?"


"sama suamimu?"


"iya, Ma"


"Langsung ke rumah sakit dekat rumah saja ya, Nak... kak Rena mau melahirkan"


"iya Ma, aku kesana"


"ya udah kamu hati-hati, assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Vania memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah panggilan berakhir.


"Mas, kita langsung ke rumah sakit dekat rumah ya"


"Kenapa yang?" tanya Devan penasaran.


"Kak Rena mau melahirkan, jalannya cepat dikit ya mas".


Devan mengangguk. Ia menambah laju kecepatan mobilnya agar cepat sampai tujuan.


Sesampainya di rumah sakit, Vania setengah berlari menuju ruang bersalin.


"Yang, nggak usah lari" kata Devan karena khawatir dengan luka istrinya.


"Iya maaf, aku terlalu panik" katanya memperlambat langkahnya agar mengimbangi suaminya.


"Tenanglah...Semua pasti akan baik-baik saja"


Sesampainya di depan ruang bersalin, Vania melihat mama Karina dan kedua orangtua Renata berada diluar menunggu proses lahiran.


"Kak Adit mana, Ma?"


" Kakakmu menemani kak Rena di dalam"


Terdengar suara Isak tangis dan jeritan Renata karena merasakan sakit persalinan normal.

__ADS_1


Semua orang cemas sambil mondar-mandir menunggu bayi Adit dan Renata lahir. Namun tidak dengan Devan, pria itu hanya duduk menunduk dengan keringat dingin membasahi wajah dan tangannya. Jari-jari tangannya saling mer*mas karena rasa takut dan cemas.


__ADS_2