
Vania mengikuti arahan dokter itu untuk berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan. Dokter mulai memeriksa Vania mulai dari tekanan darah dan denyut nadi Vania.
"Suaminya ada disini?" tanya dokter setelah melakukan pemeriksaan.
"Dia tidak ikut, dok" jawab Vania bangun da turun dari tempat pemeriksaan. Ia berjalan mengikuti dokter Hesty dan kembali duduk di kursi pasien.
"Baiklah, begini Nyonya Vania. Saya belum bisa memastikan jelasnya, tapi melihat gejala yang anda alami, saya menyarankan anda untuk periksa ke spesialis obgyn untuk mendapatkan hasil yang akurat" jelas dokter Hesty.
"Spesialis obgyn?" tanya Vania mengkerutkan dahinya.
"Betul, Nyonya. Menurut perkiraan saya anda sedang mengalami gejala hamil muda. Jadi saya tidak bisa memberikan anda resep obat dan saya menyarankan anda untuk menemui spesialis obgyn"
"Baiklah, terimakasih dokter. Saya akan mengikuti petunjuk anda"
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya dokter Hesty.
"Tidak, dok. Terimakasih banyak. Saya permisi" Pamit Vania.
Vania keluar dari klinik setelah membayar biaya pemeriksaan. Ia menemui Bu Tini dan Pak Amin yang ada di ruang tunggu dan meminta mereka untuk mengantarkan ke Healthy Hospital. Ia berfikir hanya dokter Kevin saja yang tahu statusnya. Semntara nantinya kecil kemungkinan baginya akan bertemu dengan dokter itu mengingat tujuan Vania yang berbeda, jadi aman saja.
Sebelum sampai di rumah sakit, Vania meminta berhenti sejenak di salah satu minimarket untuk membeli minum karena haus.
"Biar saya yang turun saja, Non" kata Bu Tini saat mobil sudah terparkir di depan minimarket.
"Nggak usah, Bu. Biar saya saja sekalian lihat-lihat"
Vania turun dari mobil dan masuk ke dalam minimarket. Saat ia selesai membayar belanjaan yang diambilnya. Seseorang menepuk bahunya membuatnya menoleh.
"Vania, ya?" tanya Sherin.
__ADS_1
"Sherin... gue kangen banget sama Lo" kata Vania langsung memeluk temannya.
"Gila, Lo makin cantik aja. Beneran gue pangling banget sampe mau nyapa takut salah" kata Sherin setelah menarik diri dari pelukan Vania. Ia menatap sahabat lamanya itu dari atas sampai bawah.
"ah bisa aja Lo, Lo juga makin cantik. Sekarang tinggal dimana? Kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi?" tanya Vania antusias karena saking senangnya.
"Iya ponsel lama gue hilang. Jadi nggak ada yang bisa gue hubungi. Gue sekarang di Surabaya ikut suami" kata Sherin.
"Suami? Lo udah nikah?"
"Iya, tuh orangnya suami gue" katanya sambil menunjuk seorang pria yang datang mendekat dengan membawa belanjaannya.
Sherin memperkenalkan suaminya pada Vania. Mereka saling mengobrol singkat sambil bertukar nomor ponsel.
"Eh nanti gue calling ya, gue buru-buru soalnya" Pamit Vania.
"oke" jawab Sherin dengan senyum cerianya.
Sesampainya di rumah sakit, Vania meminta Bu Tini dan Pak Amin untuk menunggu di luar rumah sakit agar mereka tidak merasa jenuh.
Vania masuk ke ruang poli obgyn setelah mendapatkan panggilan dari nomor antreannya. Dimana ruangan itu tertulis nama dokter Risa sebagai spesialis obgyn di depan pintunya.
"Silahkan duduk, dengan Nyonya siapa?" tanya dokter Risa dengan senyum ramahnya.
"Saya Vania, dok" Vania menjawabnya dengan tersenyum dan duduk di kursi yang di sediakan di depan meja dokter Risa.
"Ada yang bisa di bantu?" tanya dokter Risa.
Vania menceritakan keluhan yang ia rasakan detail dengan permintaan dokter sebelumnya yang menyuruhnya untuk menemui dokter obgyn.
__ADS_1
"Bisa tahu kapan terakhir anda menstruasi?" tanya dokter Risa.
"Seingat saya sudah hampir dua bulan lalu, dokter"
"Suaminya ikut kesini?"
Lagi-lagi pertanyaan itu terdengar di telinga Vania. Dengan berat ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, dokter. Dia sedang di luar kota" jawabnya berbohong.
"Baik silahkan berbaring dulu disana biar dibantu sama perawat. Saya akan memeriksa anda" katanya sambil menunjuk ke tempat tidur dengan tangan kanannya.
Dokter Risa meminta perawat untuk membantu Vania naik ke tempat tidur dan memeriksa tekanan darah Vania. Perawat juga menutup sebagian tubuh Vania dengan selimut dan menyingkap dress yang Vania pakai sampai diatas lutut. Ia juga mengoleskan gel khusus ke perut Vania sesuai permintaan dokter Risa.
Setelah itu dokter Risa memeriksa Vania dengan mengarahkan sebuah alat di perut Vania yang sudah dioles gel.
"Nyonya Vania silahkan lihat ke arah layar TV atas" kata dokter sambil mengarahkan matanya ke arah TV besar yang tergantung di dinding agar Vania mengikutinya. Kemudian dokter Risa beralih menatap layar monitor di meja sebelah tempat tidur Vania.
"Nah,,, bisa dilihat ini ya Nyonya. Disini ada janin dalam rahim ibu, Usianya sudah memasuki Minggu ke delapan ya... Disini meskipun masih terbilang kecil, tetapi otak, tulang belakang, jantung, otot, dan tulangnya sudah mulai berkembang" Jelas dokter Risa sambil mengarahkan ke layar monitor. Seketika itu juga air mata bahagia Vania menetes. Ia tak menyangka di dalam perutnya sudah ada janin yang hidup di dalamnya.
Perawat membersihkan kembali sisa gel di perut Vania dan kemudian meminta Vania untuk kembali duduk di kursi depan meja dokter Risa.
"Ibu hamil jaga kesehatan baik-baik ya, mengingat hamil muda ini sangat rentan. Jadi harus benar-benar menjaga kesehatan dan pola makan. Jangan terlalu lelah dan stress karena bisa mempengaruhi kondisi janin. Ini saya kasih resep vitamin dan beberapa yang anda perlukan untuk mengurangi mual dan lain-lain. Dan ini nomor saya, jika ada sesuatu yang perlu di tanyakan bisa konsultasi di nomor ini" kata dokter Risa menjelaskan sambil menunjukkan selembar kertas resep dan buku petunjuk kehamilan.
Vania menerima pemberian dari dokter Risa dengan senyum lembutnya. "Baik dokter, makasih banyak. Saya permisi kalau begitu"
"iya nyonya. Ingat jaga kesehatan anda ya. Dan untuk pemeriksaan selanjutnya tolong ajak suaminya juga" kata dokter Risa mengingatkan dan dibalas anggukan dan senyuman oleh Vania.
Vania berjalan menuju ruang farmasi untuk menebus resep. Namun salah satu obat yang ada di resep itu habis sehingga membuatnya harus membeli di apotek terdekat.
Vania kembali ke mobilnya dan meminta Pak Amin menuju apotek terdekat. Kemudian Vania dan Bu Tini turun menuju apotek. Karena lelah, Vania meminta Bu Tini untuk membelikannya. Sedang ia menunggu di taman depan apotek.
__ADS_1
Vania duduk di sebuah bangku taman yang cukup ramai orang-orang. Tak sedikit juga anak-anak yang tengah bermain dengan orangtuanya. Senyum bahagia Vania tersungging di bibir manisnya melihat keceriaan seorang anak bermain dengan ayah ibunya. Ia membayangkan kelak keluarga kecilnya akan seperti itu dengan kehadiran bayi mungil mereka. Vania merasa sangat bahagia memperhatikan pemandangan di hadapannya hingga membuatnya hampir lupa dengan permasalahan rumah tangganya.