
Devan menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya tentang penolakan perjodohan dan perasaannya yang belum diketahui oleh Vania karena dia belum sempat mengutarakannya.
"kenapa lu nggak langsung ngomong ke intinya aja kalau lu suka sama dia sejak pertama kali bertemu"
"bagaimana gue bisa ngomong kalau belum apa-apa dia udah nolak gue"
"ya kan, siapa tahu kalau lu jujur bilang cinta terus dia jadi luluh dan klepek-klepek gitu" sahut Andre.
"Nggak semudah itu bro, alasan dia menolak bukan karena tidak ada cinta. Tapi karena kehadiranku mengingatkannya akan Ditya. Dia sudah tahu kalau gue saudara angkat Ditya. Kalaupun nantinya kami bersama, dia takut akan semakin nyakitin perasaan gue karena semakin tak bisa melupakan bayangan Ditya. Gue nggak mungkin terus maksa dia untuk nerima apa yang tidak dia suka. Gue juga udah janji bakalan minta ke orangtua kita untuk membatalkan perjodohan" kata Devan panjang lebar menjelaskan.
"lo yakin?" tanya Andre memastikan yang diangguki oleh Devan.
"mungkin bukan dia jodoh yang ditakdirkan Tuhan" jawabnya pelan.
Andre merangkul pundak sahabatnya. Ia begitu kagum pada sosok pria yang duduk di sisinya kini. Begitu kuat dan sabar dalam menyimpan rahasia percintaannya.
"gue yakin kesabaran dan ketabahan lo bakal berujung manis nantinya" kata Andre pelan membuat Devan menoleh padanya.
"thanks ya, lu selalu bisa ngerti gue " jawabnya dengan senyum yang lembut.
Saat tiba waktunya Andre akan berangkat kuliah, Devan juga memutuskan untuk pergi. Ia memilih mengunjungi kediaman bapak ibunya.
"kok tumben nggak ngantor nak" tanya bi Wati
"kan minggu bu"
"oo iya ibu lupa. kamu sudah sarapan? kalau belum ibu siapin dulu" kata bu Wati saat putranya memasuki rumah dan duduk di kursi tamu.
"Devan lagi nggak lapar Bu" jawabnya lesu.
__ADS_1
Bu Wati yang melihat Devan tidak bersemangat itu segera menghampiri putranya dan duduk di sampingnya. Ia memperhatikan wajah Devan yang nampak lesu.
"ada apa? bilang sama Ibu, apa ini ada hubungannya dengan pertemuan keluarga kemarin?" tanya bu Wati menatap lembut putranya.
Devan terdiam. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit rumah.
"baiklah kalau kamu belum siap untuk cerita. Ibu siap mendengar ceritamu kapanpun. Istirahatlah saja dulu di kamar" kata bu Wati yang kemudian beranjak. Namun saat ia akan pergi, tiba-tiba langkahnya terhenti karena pergelangan tangannya dipegang oleh Devan. Bu Wati menoleh ke putranya itu dan kembali duduk.
"Devan mau batalin perjodohan bu" kata Devan pelan.
Bu Wati terkejut mendengar pernyataan Devan yang diluar pemikirannya. Awalnya ia berpikir Devan datang untuk memberikan kabar bahagia tentang perjodohannya dengan Vania. Tapi ternyata apa yang disampaikan Devan berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikirannya.
"kenapa begitu nak, bukankah kamu mencintainya? Atau kamu sudah menemukan pilihan lain?" tanya bu Wati penasaran.
Devan menggeleng kepalanya pelan. Ia bingung harus memulai darimana. Ia tidak ingin bu Wati semakin sedih mendengar cerita yang sebenarnya.
"lalu apa alasanmu membatalkan perjodohan itu"
"ibu selalu dukung apapun yang kamu anggap baik nak. Ya, meskipun ibu sedikit kecewa karena rencana perjodohan itu gagal... tapi percayalah Tuhan pasti sudah menyiapkan yang terbaik untukmu kelak" kata bu Wati memberikan semangat
Devan tersenyum mendengarkan nasehat ibunya yang begitu menyejukkan hati. Nasehat yang mampu menumbuhkan kembali semangatnya.
"ya sudah kamu makanlah dulu, jangan sampai kamu sakit karena terlalu memikirkan semua ini" lanjut bu Wati.
Devan mengangguk membuat bu Wati segera beranjak dari duduknya.
"sebentar ibu siapin dulu ya" imbuhnya sambil meninggalkan Devan menuju dapur.
Devan makan dengan lahapnya setelah bu Wati menghidangkan makanan di meja makan. Ini pertama kalinya Devan makan hasil olahan tangan bu Wati. Makanan rumahan yang begitu nikmat dan sesuai dengan selera lidahnya.
__ADS_1
Bu Wati yang ikut duduk di depan putranya hanya terhalang sebuah meja memandang Devan dengan senyum bahagianya. Ia begitu senang Devan menikmati hasil masakan olahannya.
Devan segera berdiri hendak membawa piring kosong bekas makannya menuju dapur. Namun, langkahnya berhenti saat bu Wati mengambil alih piring dari tangan Devan.
"Sudah biar ibu saja, kamu bersantailah dulu atau istirahat di kamar, setelah ini ibu mau bantu bapak di warung" kata bu Wati lembut lalu meninggalkan Devan menuju dapur untuk mencuci piring kotor.
Devan menuju teras untuk mencari angin. Banyak para ibu-ibu dan gadis yang datang ke warung bu Wati untuk belanja dan ada juga yang sekedar lewat karena mendengar desus-desus tentang putra angkat bu Wati yang datang.
Mereka ingin melihat wajah tampan Devan yang tiga bulan terakhir menjadi perbincangan para gadis dan ibu-ibu saat acara pengajian kematian Ditya.
Tak sedikit pula ibu-ibu yang berbasa-basi untuk sekedar mencari tahu tentang status lajang putranya yang tampan dan kaya itu. Ada juga yang langsung menyatakan ingin berbesan dengan bu Wati. Namun, bu Wati tidak pernah menanggapi mereka. Baginya itu hanya tindakan iseng para warga yang bergurau karena sekedar penasaran.
Devan memperhatikan warung bu Wati yang cukup ramai. Ia berinisiatif untuk ikut membantu. Saat ia memasuki warung dari pintu samping, belum juga Devan bicara satu kata, tapi para pembeli yang semuanya perempuan itu sudah mulai heboh sendiri.
"bu Wati, anaknya cakep bu, sudah punya pacar belum?" tanya salah satu ibu-ibu
"saya juga mau lho bu, punya mantu kaya dia" sahut ibu satunya lagi
"enak aja, saya juga mau lho" sahut yang lain.
para wanita itu heboh saling sahut menyahut. Namun tak satupun di respon oleh Devan. Sedang bu Wati hanya menanggapinya dengan senyum sambil melayani pembeli.
"e e e...ini ibu-ibu mau belanja apa cari mantu" sela pak Yanto sambil memasukkan belanjaan salah satu pembeli kedalam kantung plastik.
"ah pak Yanto, kan jarang-jarang ada yang bening begini" ucap salah satu dari mereka.
Pak Yanto hanya geleng-geleng mendengar pembicaraan para ibu-ibu itu.
"kamu butuh sesuatu nak?" tanya bu Wati pelan pada Devan
__ADS_1
"tidak bu, Devan hanya ingin bantu ibu dan bapak yang sepertinya kualahan"
"ibu dan bapak masih bisa mengatasi ini, kamu masuk saja nak, nanti kamu malah jadi perbincangan mereka" perintah bu Wati sambil melirik ke gerombolan ibu-ibu.