
"Sudah bangunlah...aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi"
"Enggak perlu repot-repot, yang" katanya beralasan agar tetap bisa memeluk istrinya.
"Bukan repot, mas. Tinggal mengatur tombol aja Mas, sementara kamu siap-siap keburu airnya udah bisa dipakai" kata Vania mencoba menjelaskan agar suaminya tidak mencegahnya.
"Baiklah" Devan menegakkan duduknya dan berdiri meraih tangan istrinya untuk mengajaknya naik ke lantai atas kamarnya.
Vania bergegas menuju kamar mandi untuk mengatur suhu air yang akan dipakai mandi oleh suaminya. Sedang Devan bersiap melepaskan pakaian kerjanya hingga hanya meninggalkan celana dalam yang ia lilit dengan handuk putih.
"Udah, mas" Kata Vania keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Makasih sayang" jawab Devan sambil berjalan memasuki kamar mandi.
Menjelang tidur, seperti biasa Devan duduk bersandar di sandaran tempat tidur dan meminta istrinya untuk bersandar di dadanya. Devan membelai lembut rambut istrinya sambil sesekali mencium ujung kepala yang begitu wangi dengan parfum shampo istrinya.
"Mas, besok kita belanja buat kado babynya kak Adit ya" kata Vania sambil memainkan tangannya lengan suaminya.
"Kalau besok sepertinya aku nggak bisa, yang. Besok aku harus ke luar kota untuk meninjau langsung proyek baru". kata Devan berusaha lembut agar istrinya tidak tersinggung dengan penolakannya.
Vania mengangkat kepalanya dan memutar posisinya menghadap suaminya. "Pulangnya? Apa harus menginap juga?" tanya Vania yang tampak tidak rela jika harus ditinggal sendiri.
"Enggak sayang... aku pasti pulang. Tapi mungkin akan lebih malam dari hari ini" jawab Devan mencoba senyum. Namun bukannya ikut senyum, Vania justru merasa kecewa karena suaminya mulai sibuk.
"kenapa?" tanya Devan yang melihat wajah istrinya berubah masam.
"Enggak... Aku cuma takut kesepian" jawab Vania pelan sambil menunduk.
Devan meraih dagu Vania dan menggerakkannya agar wajah cantik istrinya bisa terlihat jelas olehnya.
"Aku akan meminta pak Amin mengantarmu pulang ke rumah Mama dulu, Nanti sepulang dari luar kota aku akan menjemputmu" kata Devan lirih.
Ekspresi Vania langsung cerah seketika. Senyum bahagia tersungging di wajah cantiknya. "Benarkah?"
Devan mengangguk pelan dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Makasih mas, aku mau" jawabnya sambil memeluk tubuh kekar suaminya.
Devan membalas pelukan istrinya lebih erat. Ia tak ingin masa-masa seperti ini berakhir begitu saja.
Vania yang mulai merasa sesak karena dekapan tubuh kekar suaminya segera melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Kalau begitu besok aku belanja buat kado sama mbak Maya di jam istirahat kantor aja nggak apa-apa kan?" tanya Vania meminta ijin.
"Terserah kamu saja. Yang penting hati-hati dan pilih Mall yang dekat-dekat aja"
"He'em... makasih ya mas"
Vania kembali memeluk suaminya.
"Ya sudah, ini sudah malam... tidurlah dulu." kata Devan membuat Vania melepas pelukannya.
"Kamu sendiri nggak tidur?" tanya Vania heran karena melihat suaminya justru tidak merubah posisinya untuk bersiap tidur.
"Aku akan olahraga sebentar, setelah itu baru tidur"
"Baiklah...."
Vania memposisikan dirinya agar lebih nyaman beristirahat. Tak butuh waktu lama kedua matanya mulai terpejam. Devan mencium lembut kening istrinya sebelum meninggalkannya menuju ruang gym yang ada di sebelah kamarnya.
*****
Hari berikutnya Vania diantar oleh pak Amin menuju rumah Mama Karina dengan membawa box besar untuk kado yang akan di berikan pada keponakan barunya.
"Assalamualaikum, Mama" saosnya saat melihat Mama Karina sedang duduk di teras. Ia berlari kecil menghampiri wanita yang begitu ia rindukan.
Sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan melepas rindu. Ya, Vania adalah putri yang begitu manja terhadap seluruh keluarga. Tak heran semenjak pindah ikut dengan suaminya, rumah keluarga Wibowo berubah menjadi sepi dan gak lagi terdengar suara rengekan putrinya yang manja.
"Mama ngapain diluar sih, kan dingin udah malam" keluh Vania setelah melepaskan pelukannya.
"Mama nungguin kamu, Nak" jawab Mama sambil menyelipkan anak rambut putrinya yang sedikit berantakan ke belakang telinga.
"Mama tahu aku mau kemari?" tanya Vania heran.
"Suamimu tadi telepon Mama. Dia menitipkanmu disini sampai ia menjemputmu nanti"
"Oo..." Vania membulatkan bibirnya. Ia berfikir mungkin Devan sengaja melakukan itu agar Mamanya tidak berpikiran macam-macam.
"Permisi Non, ini Kotaknya saya taruh dimana?" Tanya pak Amin membawa kotak kado besar.
"Eh iya tolong taruh di dalam aja ya pak"
"Baik Non". Pak Amin membawa kotak kado itu kedalam rumah dan meletakkannya di atas sofa. Setelah itu ia meminta ijin untuk kembali pulang.
__ADS_1
"Makasih ya Pak... Hati-hati di jalan"
"Iya Non" Pak Amin undur diri dan meninggalkan kediaman orangtua majikannya.
Vania merebahkan tubuhnya setelah puas mengobrol dan berbagi cerita dengan Mama dan saudara iparnya sambil menggendong keponakan bayi. Dilihatnya jam dinding menunjukkan angka sepuluh. Namun suaminya belum juga pulang.
Vania mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas. Tak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Devan.
"Apa sesibuk itu sampai ia tak menghubungiku" katanya sambil menatap layar ponselnya uang menyala.
Rasa kantuk dan lelah yang menyerangnya membuatnya memposisikan diri untuk beristirahat. Ia meletakkan kembali ponselnya diatas nakas dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya agar tak kedinginan oleh suhu pendingin ruangan. Meski ia tak kuat dengan suhu dingin karena bisa menyebabkannya alergi, tapi Vania suka sekali mengecilkan suhu ruangan agar ia bisa tertidur dengan nyenyak. Selimut tebal.menjadi penolongnya untuk melindungi dingin yang menyeruak ke dalam tubuhnya.
Tepat jam setengah satu dini hari, Devan baru sampai di rumah mama mertuanya. Ia mengetuk pintu utama dan dibuka oleh Bi Inah.
"Assalamualaikum Bi, Maaf mengganggu istirahat bibi"
"Waalaikumsalam Den, tidak apa-apa. Kebetulan tadi pas bibi ke dapur mau ambil minum. Monggo masuk, Den"
Devan masuk ke dalam rumah sementara Bu Inah menutup dan mengunci kembali pintu.
Devan berjalan melewati ruang keluarga dan melihat Mama Karin masih berada disana. Ia pin mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga dan membalikkan tubuhnya menghampiri wanita yang kini menjadi mama mertuanya untuk sekedar menyapa dan menyalaminya.
"Mama belum tidur?"
"Sudah, Nak. Mama tadi terbangun untuk sholat malam"
"Oo....
"Duduklah...mama ingin tanya sesuatu sama kamu"
Devan memilih duduk di sofa single yang berada di samping tempat duduk mamanya.
"Bagaimana kabar bunda dan ayahmu? Kapan mereka akan kembali dari London?
"Alhamdulillah semuanya sehat, Ma. Rencana bulan depan mereka akan pulang"
"Apa Kalian tidak ingin bulan madu?" tanya Mama Karina tiba-tiba
"Belum tahu, ma. Aku masih belum bisa meninggalkan pekerjaanku" jawabnya sopan.
"Nak Devan,,," panggil Mama Karin pelan
__ADS_1
"Iya Ma"
"Apa kamu bahagia dengan putri mama?" tanya Mama Karina ragu-ragu. Ia tahu betul perangai putrinya yang manja dan cengeng. Ia takut karena sifat itu akan membuat menantunya merasa risih dan kecewa.