Cinta Vania

Cinta Vania
Kamu Kekuatan dan Kelemahanku


__ADS_3

Semua orang cemas sambil mondar-mandir menunggu bayi Adit dan Renata lahir. Namun tidak dengan Devan, pria itu hanya duduk menunduk dengan keringat dingin membasahi wajah dan tangannya. Jari-jari tangannya saling mer*mas karena rasa takut dan cemas.


Mama Karin yang melihat keanehan pada Devan memberitahukannya pada Vania.


Vania mencoba menghampiri Devan dan duduk di bangku sampingnya.


"Mas kamu kenapa? Kamu sakit?"


"Devan mengangkat kepalanya menghadap Vania. Ia menggeleng pelan. "Nggak apa-apa".


"Lalu kenapa kamu seperti ini? wajahmu pucat" kata Vania sambil menunjuk wajah suaminya.


"Van, ajak suamimu cari angin sebentar, mungkin dia kepanasan" kata Mama Karina menebak karena memang disana sangat panas.


"Ayo mas" ajak Vania dan Devan mengikutinya.


Mereka berhenti di taman kecil dekat ruang bersalin. Ada kursi panjang yang mereka jadikan tempat duduk.


"Kamu kenapa mas?" tanya lagi Vania yang masih penasaran.


"Apa kamu nantinya juga akan merasakan hal yang sama seperti kak Rena?" tanya Devan cemas.


"Maksudmu? melahirkan?"


Devan mengangguk pelan dengan wajah cemas.


"Semua wanita di dunia ini menginginkan itu mas" jawab Vania menyentuh telapak tangan suaminya.


."Tapi melihat Kak Rena kesakitan, aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padamu. Aku tidak mungkin tega melihatmu kesakitan".


"Mas, melahirkan adalah impian semua wanita. Apalagi bisa persalinan normal kaya kak Rena. Sakit memang... tapi semua rasa sakit itu akan terbayar saat bayi mungil yang dinantikan lahir ke dunia". katanya sambil senyum meyakinkan suaminya, "Kamu itu kuat lho Mas, badanmu keren, ototmu juga gede, masa iya kalahnya sama begituan" lanjutnya mengejek sambil menahan senyum.


"Yang... gitu sih... Aku ini khawatir lho"kata Devan kesal karena merasa ditertawakan oleh istrinya.


"Ya habisnya kamu lucu mas... Lagian apa yang perlu dikhawatirkan sih?" katanya sambil tertawa pelan. "Lebih khawatir itu kalau seorang wanita tidak bisa mempunyai keturunan, mas. Dan aku nggak mau kaya gitu" lanjutnya berbicara pelan.


"Yang, aku menerima apapun kondisimu. Kamu kekuatanku, kamu juga kelemahanku. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu" kata Devan menatap serius Vania.


Vania tersenyum haru mendengar pernyataan lelaki yang kini menjadi suaminya. Ia tak menyangka lelaki yang dulu sangat dibencinya menjadi sosok yang bisa membuatnya bahagia.


"Kita balik yu' mas ke ruangan,,,"

__ADS_1


"Enggak mau, nanti aja kalau bayinya udah lahir" jawab Devan manja.


Vania menoleh memandangi ruangan kakak iparnya dirawat. Luar ruangan itu sepi. Mama Karin dan kedua orangtua Renata tidak ada.


"Mas, kayanya udah lahir. Diluar nggak ada orang tuh" kata Vania sambil menunjuk ke ruangan bersalin dengan dagunya. Vania beranjak menuju ruang bersalin tanpa menunggu Devan.


Dengan ragu-ragu Devan melangkahkan kakinya pelan menyusul istrinya yang sudah lebih dulu sampai di ruang bersalin.


Devan membuka ruangan dimana istrinya berada. Tampak pemandangan yang begitu menyenangkan baginya. Ia melihat istrinya menggendong bayi Adit dan Renata sambil tersenyum lebar.


"Eh mas... lihat deh lucu banget" kata Vania saat melihat suaminya datang.


Devan berjalan mendekat sambil memperhatikan kebahagiaan yang ada di wajah istrinya.


"Kalian juga pasti akan segera mendapatkan yang sama lucunya dengan bayi kami" kata Renata dengan suara parau.


Vania tersenyum getir.


"Selamat ya buat kalian, doakan kami bisa seperti kalian" kata Devan senyum.


"Pasti, Kita semua doakan yang terbaik untuk kalian" sahut Mama Karina.


"Permisi, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan, untuk keluarga silahkan bisa keluar dulu" kata perawat yang baru datang.


"Ma, kita langsung pulang nggak apa-apa ya" pamit Devan ke Mama Karin.


"Lho kok pulang, mas?" kata Vania terkejut karena tiba-tiba suaminya meminta pamit.


"Ingat pesan dokter Niko, kamu harus banyak istirahat".


"Kamu sakit, sayang?" tanya Mama khawatir


"Kemarin Ma, cuma kecapean... Tapi udah enakan kok" jawab Vania senyum agar mamanya tidak khawatir.


"Ya udah kamu pulang duluan aja, jangan sampai sakit lagi"


"Kami pamit dulu ya Ma, Oom, Tante" pamit Vania ke yang lain sambil menyalami mereka.


"sampaikan salamku pada Kak Adit ya Ma" lanjutnya menoleh ke Mamanya karena Adit sedang ijin ke toilet.


"Besok kamu ijin aja ya nggak usah kerja" kata Devan sambil menyetir saat perjalanan pulang.

__ADS_1


"Nggak bisa gitu dong, Mas. Aku udah sembuh kok, Aku juga sudah bisa jalan normal" Bantah Vania yang merasa tidak suka dengan perintah suaminya.


"Aku nggak mau kamu kenapa-napa, yang..." Devan mencoba membujuk istrinya agar mau mengikuti keinginannya.


"Mas, aku udah sehat Mas, aku bisa bosen seharian di rumah doang. Aku janji nggak akan terlalu capek besok"


"Gimana aku bisa percaya, pekerjaanmu akan melelahkan besok" kata Devan. Namun Vania hanya bisa diam tak menjawab. Memang benar apa yang dikatakan suaminya. Bagaimana mungkin ia bisa mengontrol aktifitas padat di akhir bulan besok.


"Ya udah gini aja, aku akan menghubungi pak Romi agar tidak memberikan pekerjaan terlalu berat padamu" lanjutnya memberi masukan.


"Bisa gitu?"


"Bisa lah, tinggal bilang kamu istriku, selesai" jawab Devan santai.


"Aku nggak mau beliau jadi sungkan sama aku mas"


"Ya udah terserah. Kamu tinggal pilih yang mana. Mau tetap di rumah apa pak Romi tahu yang sebenarnya" kata Devan dengan senyum menyeringai.


"Ya udah lah... Tapi janji hanya pak Romi ya... Aku nggak enak kalau yang lain tahu"


"Janji, sayang" jawab Devan dengan senyum kemenangan sambil mengusap rambut istrinya dengan tangan kiri.


******


Pagi harinya Devan dan Vania berangkat ke kantor. Seperti biasa Devan menepikan mobilnya dan menurunkan istrinya di tempat biasa sebelum sampai kantor.


"Janji jangan terlalu lelah, atau aku akan membuatmu resign dari kantor" kata Devan lembut namun terdengar seperti sebuah ancaman yang harus dituruti.


"Iya mas" Jawab Vania sambil mencium punggung tangan suaminya diikuti oleh Devan yang menarik tengkuk Vania untuk mencium keningnya.


"Aku turun dulu ya" pamit Vania setelah Devan melepaskan ciumannya.


Devan mengangguk dengan senyum.


Vania memulai pekerjaannya seperti biasa. Jadwal pekerjaan yang menumpuk memaksanya untuk tetap duduk di mejanya. Namun ada yang aneh dengan hari ini, tiba-tiba pak Romi datang ke ruangannya untuk mengambil berkas. Padahal sebelumnya lelaki itu lebih sering memanggil dan menyuruh asistennya itu untuk datang ke ruangannya.


"Nona, bisakah saya minta berkas kinerja karyawan?" pinta pak Romi.


Vania membulatkan matanya mendengar panggilan atasannya pada dirinya.


"Pak..." kata Vania pelan sambil merapatkan giginya karena takut didengar oleh Maya yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Romi yang mengerti maksud dari Vania itu mengangguk pelan sambil senyum.


__ADS_2