
LONDON
Setelah satu bulan berlibur di tanah air, hari ini adalah hari pertama Devan harus kembali ke kampus untuk mengurus bimbingan tugas akhirnya. Setelah memarkirkan mobil, ia dihampiri oleh Alline, gadis yang selalu mengejar-ngejar dirinya.
"Devan" panggil Alline berlari kecil mendekat
"sial, nenek lampir itu lagi" gerutu Devan mengumpat saat tahu suara itu berasal dari gadis yang selalu mengganggu kedatangannya. Devan masih berdiri di samping mobil dengan pintu mobil yang belum ditutup. Ia bahkan malas untuk menoleh.
"Devan" panggil ulang Alline karena tidak mendapat jawaban
Dengan cepat Devan berjalan menuju koridor kampus. Ia pura-pura tidak mendengar panggilan Alline.
Alline yang tidak pernah putus asa dengan sikap Devan yang selalu mengacuhkannya segera berlari mengejar Devan
Alline berhasil mendekati dan menepuk bahu Devan.
"eh kamu bikin kaget aja" kata Devan sambil pura-pura kaget dan memegang dadanya.
"habisnya kamu dari tadi dipanggil nggak dengar" sahut Alline cemberut sambil memonyongkan bibirnya.
"sorry aku nggak tau" jawabnya sambil terus berjalan beriringan dengan Alline.
"kamu kapan balik dari Indonesia?" tanya Alline yang tiba-tiba bergelayut manja di lengan Devan.
Devan lantas menghentikan langkahnya dan dengan cepat ia melepas tangan Alline karena merasa risih. Coba aja itu tangan Vania yang menempel di lengannya, Ia pasti akan diam saja dan mungkin justru mengeratkannya😁.
"tolong jangan seperti ini, nanti banyak yang lihat" kata Devan sambil melepaskan tangan Alline. Namun, Alline justru sengaja semakin mengeratkannya.
"biarin, biar yang lain lihat kalau kamu itu punya aku" jawabnya sambil ikut menempelkan kepalanya di lengan Devan
"hah? enggak....cepat lepaskan" perintah Devan sedikit menaikkan suaranya
"enggak mau"
"Alline" bentak Devan dengan suara semakin tinggi, spontan membuat Alline melepaskan tangannya karena takut dan kaget. Tak seperti biasanya Devan berbicara dengan nada tinggi seperti itu.
Alline menangis mendengar bentakan Devan. Devan menjadi terkejut. Ia tidak sengaja melakukan itu. Pikirannya sedang kacau karena hatinya masih resah sejak kemarin, ditambah Alline datang mengganggunya.
__ADS_1
"sorry Lin, bukan maksudku membentakmu. Aku sedang banyak pikiran. Aku harus segera menyelesaikan tugas akhirku. Aku tidak ingin diganggu dulu. Tolong mengertilah" kata Devan menenangkan tangisan Alline
"jadi maksudmu aku pengganggu? hiks...hiks...kamu jahat sekali" rengek Alline.
"huuuuu..... dasar gadis manja" umpat Devan dalam hati
"bukan begitu maksudku...aku hanya ingin sendiri" kata Devan mencoba berkilah. Ia tidak ingin menyakiti gadis manja itu meskipun dalam hatinya ingin membenarkan perkataan Alline bahwa ia memang seorang pengganggu.
"benarkah begitu?" tanya Alline sambil menghapus air mata yang menetes di pipimu.
Devan mengangguk pelan dengan senyum yang dipaksakan.
"baiklah kalau seperti itu. Aku bisa mengerti" kata Alline. Raut wajahnya berubah ceria mendengar jawaban Devan.
"oo iya nanti malam datang ya ke pesta ulang tahunku di bar AA" imbuhnya sambil berjalan mundur menjauh dari Devan.
"aku usahakan"
"harus datang"
Devan hanya menggelengkan kepala dengan sikap Alline yang begitu menempel padanya.
"aman....aman...." gumam Devan sambil mengelus dadanya setelah gadis itu berlalu.
Devan berjalan menuju ruang dosen untuk mengikuti bimbingan.
Sudah setengah jam ia berada di ruangan itu. Dan akhirnya ia keluar dengan senyum tersungging di bibirnya karena tugas akhirnya hanya butuh sedikit revisi.
Sudah cukup untuk mengurus tugas hari ini, ia akan memperbaikinya esok hari karena sore ini ia harus meninjau proyek barunya bersama Ronald.
Devan begitu bekerja keras selama di London. Antara bekerja keras untuk menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan bekerja keras untuk mengurus dan mengembangkan perusahaan milik orang tuanya disana.
Tiga tahun merupakan waktu yang singkat bagi pemuda seperti Devan untuk mempelajari tentang bisnis dan perusahaan besar. Dimana dia juga mempunyati tugas ganda sebagai pelajar dan pebisnis. Dan hebatnya, Devan mampu melakukan kedua tugas itu bersamaan. Bahkan ia mampu membuat perusahaan mencapai peningkatan yang cukup pesat.
Sepulang dari kampus ia langsung menuju ke proyek untuk menemui Ronald yang sudah lebih dulu berada disana.
Ia datang hanya untuk melakukan pengecekan langsung atas kinerja para pegawainya. Ia tidak suka melimpahkan tugas yang dianggap sepele itu pada orang lain. Ia lebih suka mengurus langsung agar tahu perkembangan proyeknya.
__ADS_1
Cukup lama ia berada disana. Hingga tak terasa waktu sudah mulai sore.
Yang awalnya hanya mengecek ternyata akhirnya ia harus turun langsung ikut membantu karena melihat para pekerjanya mulai kualahan.
Devan berharap dengan ikut membantu maka para pekerjanya akan semangat kembali.
Devan memberikan jas yang telah dilepasnya kepada Ronald.
"bawakan ini, aku akan membantu mereka" katanya sambil menyerahkan jas
"boss, tidak perlu ikut melakukan tugas ini" cegah Ronald
"sudah diamlah, ini kemauanku sendiri" jawab Devan melipat kemeja kerjanya.
"tunggu saja aku disana" lanjutnya sambil menunjuk bangku kosong dibawah pohon besar
Ronald mengikuti perintah bossnya. Ia membawa jas bossnya dan berjalan ke tempat yang dituju.
Devan mendekati para pekerja dan ikut membantu mereka.
Para pekerja itu sudah tidak kaget lagi dengan pemandangan itu. Ini bukan kali pertamanya bossnya itu membantu mereka.
Devan memang dikenal sosok boss yang baik dan bekerja keras Ia tak pernah segan-segan untuk membantu para pekerja dan pegawainya.
"boss" panggil Ronald tiba-tiba datang mendekati bossnya.
"ada apa" jawab Devan menghentikan pekerjaannya.
"ada telepon" kata Ronald sambil menunjukkan jas bossnya yang terus bergetar karena ponsel di kantongnya
"lihat dari siapa"
Ronald mengambil ponsel dari saku jas bossnya dan melihat nama yang tertera di layar ponsel
"Alline, boss" teriak Ronald
"angkat, bilang saja aku sibuk"
__ADS_1
Ronald kemudian menerima panggilan itu dan menyampaikan pesan yang diminta oleh bossnya.
Alline mendengus kesal mendengar suara penjawab panggilan itu bukan dari Devan. Ia begitu kecewa.