Cinta Vania

Cinta Vania
Merasa Malu dan Bersalah


__ADS_3

Devan terdiam menunduk. Namun otaknya terus berpikir mencari alasan yang tidak akan menyinggung perasaan pak Firman.


"nak...kenapa hanya diam?"


"emm... saya sudah menemukan pilihan lain Oom" katanya berbohong karena sudah kepalang tanggung tak ada ide lagi yang muncul di otaknya.


Devan sengaja membuat dirinya begitu jelek di mata pak Firman. Dia sengaka melakukannya agar tidak ingin nantinya lelaki paruh baya itu marah dan menyalahkan putrinya


Pak Firman merasa aneh dan curiga dengan cara bicara Devan yang menunduk saat mengucapkannya. Bahkan suaranya terdengar seperti orang gugup. Tidak mungkin Devan bisa melupakan Vania begitu saja dalam waktu yang begitu singkat sementara rasa cintanya sudah begotu lama terpendam. Ia tak bisa mempercayai ucapan Devan begitu saja. Baginya Devan hanya beralasan saja agar perjodohan mereka batal. Tapi kenapa?


Pak Firman terus bertanya dalam hati. Kekecewaan begitu nampak di wajahnya. Namun, ia tak punya pilihan lain selain diam dan menerima keputusan Devan. Ia tak mungkin memaksa pria itu untuk kembali mencintai putrinya. Namun, pak Firman tidak akan tinggal diam. Ia akan mencari tahu sendiri alasan Devan membatalkan perjodohan dengan putrinya.


Setelah selesai dengan urusannya. Devan kembali ke SA Group untuk menyelesaikan pekerjaannya yang semula tertunda dengan perasaan lega.


Devan pulang cukup larut karena harus menyelesaikan setumpuk file yang ada di atas meja. Tak lupa ia memberitahukan sekretarisnya akan kepergian dia petinggi perusahaan selama tiga hari ke London. Jadi, perusahaan akan sepi sementara akan ketidakhadiran dua orang penting itu. Namun, para karyawan masih tetap harus bekerja seperti biasanya karena untuk sementara perusahaan akan dikendalikan oleh orang kepercayaan pak Satria dan Devan.


Pagi harinya keluarga Pak Satria direpotkan akan kepergian mereka ke London. Mereka harus berangkat pagi-pagi sekali karena acara pernikahan Ronald berlangsung malam ini. Dan mereka harus menjamu tamu terlebih dahulu yang kebanyakan partner kerja mereka sebelum acara dimulai.


Ketiga orang itu memilih untuk berangkat menaiki jet pribadi agar lebih cepat dan nyaman selama perjalanan.


Mereka akan berada di London selama tiga hari dan selanjutnya akan pulang kembali ke tanah air beserta Ronald dan juga istrinya yang akan tinggal dan menetap di Indonesia untuk membantu Devan di SA Group.


*****


Di Jakarta pak Firman nampak gusar di ruangan kantornya setelah pernyataan Devan lain hari kemarin. Ia menghubungi sahabatnya pak Satria yang sudah dua hari berada di London lewat video call untuk menanyakan perihal perjodohan.


Pak Satria yang tengah berada di ruang kerjanya sendirian terkejut mendapat panggilan video dari rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.


"iya Firman, ada apa?"


"maaf apa aku mengganggumu?"


"tidak sama sekali, apa ada sesuatu?"

__ADS_1


"emm... aku ingin menanyakan tentang Devan, apa benar ia sudah pilihan lain hingga harus membatalkan perjodohan yang kita rencanakan? maaf sebelumnya jika aku lancang menanyakan ini"


Pak Satria kebingungan harus menjawab apa. Semua diluar pemikirannya. Sejauh itu Devan mencari alasan untuk membatalkan.


"ya seperti itulah... aku juga minta maaf pada keluarga kalian karena harus membatalkan sepihak" jawab pak Satria dengan ekspresi yang gelisah.


Pak Firman curiga dengan keanehan pada pak Satria. Karena ini adalah panggilan Video,Ia melihat dengan jelas ada keresahan pada wajah lawan bicaranya.


"Sat, kamu tidak sedang berbohong kan?"


"ti.. tidak" jawabnya gelagapan


"bersumpahlah demi persahabatan kita, maaf jika aku terlalu memaksakan kehendakku"


Pak Satria diam. Ia tidak punya alasan lagi untuk berbohong kepada sahabatnya. Namun, di sisi lain ia juga tidak ingin mengecewakan putranya.


"sebenarnya... "


"sebenarnya Devan membatalkan perjodohan ini karena putrimu tidak menyukainya. Devan hanya tidak ingin menyakiti putrimu dengan memaksanya untuk menerima perjodohan dengannya"


"jadi anakku yang sebenarnya menolak perjodohan ini?" tanyanya dengan perasaan bersalah


"seperti itu lah, tolong jangan katakan pada Devan kalau aku yang memberi tahu dirimu"


"tidak, aku tidak akan mengatakannya"


"lalu apa yang akan kamu lakukan? jangan sampai kau memarahi putrimu, dia tidak bersalah, dia hanya menyampaikan apa yang ada di hatinya"


"aku akan memaksa putriku untuk menerima perjodohan ini"


"maksudmu?"


"bukannya Devan mencintai Vania, aku yakin kau tidak keberatan jika aku memaksa putriku untuk menerima perjodohan dengan putramu"

__ADS_1


"tapi bagaimana dengan Vania, apa kau tidak kasihan padanya?"


"tidak, aku tidak pernah meminta apapun padanya, aku selalu mengikuti permintaannya. Dan sekarang sudah saatnya ia mengikuti perintah orang tuanya" kata pak Firman dengan wajah bersemu merah karena menahan kemarahan.


"baiklah, jika itu yang ingin kau lakukan. tapi tolong jangan terlalu keras padanya. Biarkan semuanya mengalir perlahan. Kasihan kalau sampai ia tertekan kembali"


"iya.. aku mengerti. terimakasih atas waktumu"


"iya, sampai jumpa di Jakarta"


Pak Firman mengangguk dan kemudian mengakhiri panggilannya. Ia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Rada malu dan emosi seakan bercampur jadi satu. Geram akan perlakuan Vania terhadap Devan, berusaha ia redam dengan menenangkan diri di meja kerjanya.


Setelah merasa tenang, ia memutuskan pulang ke rumah untuk menemui putrinya.


Sesampainya di rumah, Pak Firman melihat Vania yang tengah duduk lesehan dengan laptop di atas meja di ruang keluarga. Vania sedang mengerjakan tugasnya. Putrinya itu begitu serius dalam mengetik tugas-tugasnya hingga tidak menyadari kedatangan papanya yang sudah duduk di sofa belakangnya.


"eheemmmmmm" suara dehem papa Firman mengagetkan Vania yang tengah fokus menatap layar laptopnya.


"eh papa, sejak kapan papa duduk disini?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


"lima menit yang lalu"


"hah? benarkah? kok Vania nggak tahu ya"


"gimana bisa tahu kalau kamu begitu serius menatap layar laptop di depanmu. Kamu lagi sibuk?"


"nggak kog Pa, ini sudah selesai" jawabnya sambil menoleh kembali ke laptop dan menutupnya setelah menonaktifkannya.


"ada apa Pa?" imbuhnya bertanya.


"duduklah sini" kata papa Firman sambil menepuk sofa di sampingnya.


Vania mengikuti perintah papanya. Perasaannya mulai was-was melihat keseriusan di wajah papanya.

__ADS_1


__ADS_2