Cinta Vania

Cinta Vania
Lupakan Aku


__ADS_3

Sudah cukup Alline. Kau tak tahu apa-apa. Dan kau tidak berhak menilai apapun tentangnya" Marahnya lalu mendekati Alline. "Dan satu lagi, aku tidak akan segan-segan memberikan perhitungan padamu jika kau berani menyakiti istriku. Ingat itu!!!" Kata Devan pelan namun terdengar seperti sebuah ancaman yang menakutkan.


Devan menarik lembut tangan istrinya dan mengajaknya untuk pergi meninggalkan Alline.


Sementara Alline yang masih diam dalam posisinya hanya bisa menahan emosi dan malu saat semua orang membicarakannya dan melihatnya dengan tatapan jahat karena merasa wanita itu sudah mengganggu rumah tangga orang lain.


"Sialan kau Vania. Aku tidak terima dipermalukan seperti ini di depan umum. Aku nggak akan diam. Gara-gara kamu Devan menjauhiku. Aku akan balas semua yang sudah kau lakukan" umpat Alline yang merasa tidak terima. Ia beralih menatap sekitar dengan kemarahan. "Lihat apa kalian... Kalian pikir aku tontonan? huh?" Bentaknya pada orang-orang yang masih memperhatikannya.


Semua orang yang tadinya melirik tajam kearahnya langsung melanjutkan kembali aktifitasnya dan kemudian Alline pergi.


Devan yang masih merasa kesal karena sikap Alline pada istrinya tadi hanya diam dan terus berjalan menggandeng erat tangan istrinya.


"Mas.." Panggil Vania membuat Devan menoleh.


"Hemm"


"Sekarang aku mengerti apa hubunganmu dengan Alline. Dia yang terus ngejar-ngejar kamu?"


"menurutmu?" tanya Devan menoleh dengan seulas senyum.


"Dia suka kamu" jawab Vania namun hanya dibalas senyum oleh Devan.


"Lalu ngapain kamu waktu itu makan siang bareng dia?"


"Kami tidak hanya berdua, Yang. Kami menunggu papanya Alline yang belum datang. Kebetulan perusahaan kami saling bekerja sama sejak beberapa tahun yang lalu waktu aku masih tinggal di London".


"Oo..." Vania membulatkan bibirnya mengerti dengan penjelasan suaminya.


"Emang kenapa, waktu itu kamu cemburu?"


"Apa sih mas... kepedean banget jadi orang" Jawab Vania ketus membuat Devan hanya menahan tawanya.


"Terus waktu itu bukannya kamu marah-marah sampai rela nungguin aku pulang cuma demi minta penjelasan doang"


"Jangan ingetin peristiwa itu lagi, Mas" kata Vania datar. Ia tidak ingin mengingat peristiwa dimana Devan menyentuhnya dengan begitu emosi.


"Maaf sayang..." kata Devan lembut menenangkan istrinya yang sedikit gusar karena pengakuannya.


"Mas..."


"hemm"

__ADS_1


"Makasih ya"


"Buat apa?"


"Sudah melindungiku" Kata Vania pelan.


Devan menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menghadap istrinya.


"Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungimu. Jangan pernah berfikir kamu sendiri. Ada aku yang sekarang akan selalu ada untukmu". Kata Devan lembut.


"Aku beruntung punya kamu mas" jawab Vania lirih.


"Kita sama-sama beruntung, Yang. Kita akan saling melengkapi" kata Devan senyum. "Ya sudah ayo jalan" lanjutnya.


"Kita langsung pulang aja ya mas, lagian udah malam juga" ajak Vania karena melirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan.


"Tapi aku belum beliin kamu apa-apa lho".


"Besok-besok aja sekalian beli hadiah buat babynya kak Adit"


"Ya sudah kalau itu maumu, kita ambil barang di penitipan dulu, lalu pulang" kata Devan dan Vania mengangguk.


*****


Di tengah-tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba David datang menghampiri dua wanita itu.


"Van, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" kata David dan sambil duduk di bangku kosong samping Maya.


"ngomong apa?" tanya Vania.


David melirik ke arah Maya seolah meminta saudara sepupunya itu untuk mengerti jika ia ingin berbicara empat mata dengan Vania.


"Ngapain lihatin aku. Aku harus pergi nih?" tanya Maya sambil menunjuk dirinya sendiri yang mengerti maksud tatapan dari David. David sudah cerita padanya jika ia telah mengungkapkan perasaannya pada Vania beberapa hari yang lalu namun belum juga mendapatkan jawaban.


David mengangguk pelan.


"Ya udah kau ke musholla dulu kalau gitu" kata Maya sambil beranjak.


"Lho mbak... ngapain harus pergi sih. Kan kita juga bisa ngomong bertiga disini" sahut Vania karena merasa gugup jika David menanyakan kembali jawaban atas perasaannya.


"Nggak apa-apa kok, lagian juga makan siangku udah selesai, aku tunggu di musholla ya" kata Maya lalu menjauh dari mereka.

__ADS_1


Vania tak punya alasan lain untuk menghindari David. Mau tidak mau ia harus menghadapi lelaki itu yang sedari tadi menatap serius padanya.


"Van, kamu punya hubungan apa sama pak Presdir?" tanya David dengan tatapan tajam.


"Maksudmu pak Devan?"


"Iya, siapa lagi. Aku melihatmu kemarin pulang naik mobil beliau. Kalian nggak pacaran kan?" tanya David menginterogasi.


Vania terkejut dengan pernyataan David. Ia pikir kemarin tidak ada yang memperhatikannya. "Kamu ini ngomong apa sih, Kamu kan tahu aku sudah lama mengenalnya. Apa salah jika Pak Devan mengantarkan aku pulang?" kata Vania berbohong. Ia tidak ingin orang-orang tahu statusnya sebenarnya karena bisa membuat para karyawan sungkan padanya dan meremehkan hasil kerjanya.


David merasa puas dengan jawaban Vania. Baginya tak ada lagi penghalang untuk mendapatkan hati wanita itu.


"Ya sudah aku mau menyusul mbak Maya dulu" Kata Vania sambil berdiri. ia tak ingin berlama-lama berdua dengan David karena takut Devan tahu dan marah.


"Tunggu Van" cegah David.


"Apa lagi" tanya Vania kembali duduk


"Sudah beberapa minggu. Apa kamu masih belum punya jawaban untuk perasaanku tempo hari"


Degg!!!


"Bagaimana ini, dia benar-benar meminta jawaban" batinnya dalam hati.


"Van, kenapa malah bengong?" tanya David karena melihat Vania hanya diam.


"emm.. Maaf Vid, aku nggak bisa" kata Vania ragu-ragu takut menyakiti hati lelaki yang ada di depannya.


"Maksudmu? Apa kau sudah punya pilihan lain? Apa dia pak Presdir? Apa kau mencintainya?" tanya David mengintimidasi.


"Kau ini bicara apa. Maaf Vid, aku tidak suka caramu memojokkanku" kata Vania karena merasa David seperti detektif yang memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Maafkan aku Van... Aku hanya merasa kecil jika harus bersaing dengan Presdir" kata David melemah.


"Vid, terimakasih atas perasaan yang kau punya padaku. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat sama seperti mbak Maya. Maaf jika aku mengatakan ini, aku hanya ingin kamu mengurungkan niatmu kembali untuk tidak melangkah lebih jauh mencintaiku. Masih banyak wanita cantik dan baik yang siap menerima cintamu" kata Vania lembut.


"Tapi hatiku sudah memilihmu, Van"


"Cobalah untuk menepis itu. Lupakan aku, jika kau tak ingin sakit nantinya"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Karena aku tidak akan mungkin mencintaimu" katanya pelan. Vania beranjak dari duduknya, "Maafkan aku, aku harus pergi" lanjutnya sambil meninggalkan David tanpa persetujuan darinya.


__ADS_2