Cinta Vania

Cinta Vania
Selalu Saja Mengancam


__ADS_3

Dokter Niko menarik kembali tangannya dan menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan bu Tini.


"bisakah tolong bawakan air es dan washlap untuk mengompresnya" pinta dokter Niko ke bu Tini.


"baik dokter"


Bu Tini bergegas mengambilkan apa yang diminta oleh dokter san segera menyerahkannya.


Dokter Niko mengompres dahi Devan dengan air es itu dan mulai memeriksa.


"anda hanya kelelahan tuan, tolong lebih perhatikan untuk tidak terlalu stress dan tidak banyak pikiran. Anda harus banyak istirahat dan ini vitamin yang harus diminum" kata dokter Niko memasukkan alat medisnya kedalam tas dan menyerahkan beberapa vitamin dan obat.


Devan mengangguk. Bibirnya terasa lemas dan kaku untuk sekedar menjawab perkataan dokter Niko. Bu Tini yang berada tidak jauh dari dokter Niko segera berjalan lebih dekat dan menengadahkan tangannya ke arah dokter itu.


"biar saya saja yang menyimpannya dokter" kata bu Tini karena melihat tuannya tampak lemas dan tidak mampu meraih obat dari tangan dokter Niko.


Dokter Niko tersenyum dan menyerahkan obat itu ke Bu Tini. Setelah itu ia berpamitan untuk kembali pulang.


Setelah kepergian dokter Niko, Bu Tini segera membuatkan bubur untuk tuannya agar bisa meminum obat setelah makan. Ia meminta suaminya, pak Amin untuk pulang terlebih dahulu memberikan kabar pada putrinya kalau mereka tidak bisa pulang karena harus menemani majikannya yang tengah sakit. Ya, disana sepasang suami istri paruh baya itu hanya bekerja setelah subuh sampai malam hari. Setelah itu ia akan pulang karena rumah mereka cukup dekat. Mereka hanya akan menginap di saat-saat tertentu termasuk malam ini.


Bu Tini segera membawakan bubur itu setelah makan dan memberikannya pada tuannya. Devan yang menerima semangkuk bubur itu segera memakannya meski sebenarnya tidak berselera. Ia hanya ingin kesehatannya cepat pulih dan bisa kembali menyelesaikan urusannya tentang perjodohan itu.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar. Bi Tini segera membukakan pintu untuk melihat siapa yang berkunjung malam-malam.


"nyonya....tuan besar... silahkan masuk" sapanya saat melihat sepasang suami istri yang orangtua dari majikannya.


"kenapa di luar sepi bu, pak Amin kemana?


"pak Amin pulang sebentar nyonya, ngasih tahu anak saya dulu kalau kami tidak pulang malam ini"


"oo begitu... " diam sejenak "bagaimana keadaannya bu" tanya bunda Dewi ke Bu Tini. Ia mencoba mencari tahu info tentang putranya dari bu Tini


"sudah lumayan baik nyonya, tuan sedang istirahat di kamar setelah minum obat dari dokter Niko"

__ADS_1


"baiklah terimakasih banyak bu Tini, kami mau lihat keadaannya dulu" kata bunda Dewi ramah dengan senyum lembutnya.


"iya nyonya, silahkan... saya mau melanjutkan pekerjaan saya di dapur dulu"


"iya bu" jawab bunda Dewi yang kemudian berjalan bersama suaminya menuju ruangan kamar putranya yang ada di lantai atas.


Bunda Dewi sedih melihat putranya yang terbaring lemah diatas ranjang besarnya. Ia terdiam di depan pintu. Ayah Satria menguatkan hati istrinya dengan mengusap-usap punggung istrinya.


Bunda Dewi berjalan mendekati ranjang diikuti oleh suaminya. Ia duduk di tepi ranjang , sedang suaminya menarik sebuah kursi agar bisa duduk di dekat ranjang.


Bunda Dewi mengusap kepala putranya dengan kasih sayang. Matanya mulai berair. Sekali kedip saja dipastikan butiran kristal itu pasti jatuh di pipinya.


Gerakan tangan di kepala Devan membuat pemiliknya terbangun karena terganggu. Bunda Dewi segera menghapus air matanya sebelum dilihat oleh putranya.


"bunda ...ayah..." kata Devan dengan suara seraknya


"iya sayang" jawab bunda Dewi sambil mengangguk.


"baru saja, untung Ronald memberitahu ayahmu. Kalau tidak, bunda akan merasa bersalah karena tidak bisa mengurus putranya" kata bunda kembali meneteskan air mata.


"bunda... ini hanya demam biasa. Devan hanya kurang istiraha. Lagi pula Devan sudah Dewasa. Sudah saatnya Devan mandiri"


"tapi kenyataannya kamu belum bisa jaga diri kamu sendiri, bahkan hari ini kamu lalai menjaga kesehatanmu" kata bunda membantah perkataan anaknya.


Devan terdiam. Ia mengakui kesalahannya yang tidak terlalu memikirkan kesehatannya.


"bunda nggak mau tahu. kamu nggak boleh kemana-mana dulu sebelum kesehatanmu benar-benar pulih, termasuk untuk ke kantor" lanjutnya berbicara dengan nada yang tegas


"tapi bund...."


"nggak ada tapi-tapian"


"besok Devan ada pertemuan dengan klien penting"

__ADS_1


"bunda tidak suka dibantah. Bunda yakin Ronald mampu menghandle semua pekerjaan besok, lagi pula ada ayahmu yang bisa menggantikanmu untuk sementara waktu sampai kamu sehat. Para klien itu pasti bisa mengerti" kata bunda dengan intonasi yang cukup tinggi karena kesal dengan putranya yang keras kepala dan tidak mau mendengarkan perintah bundanya.


Devan tak punya alasan lagi untuk membantah perintah bundanya. Ia hanya bisa mengangguk dan menerima ultimatum bundanya.


"baiklah...istirahatlah lagi biar tubuhmu kembali pulih. Kami akan bermalam disini dan tidur di kamar bawah" kata ayah Satria


"baik Yah..."


Sepasang suami istri itu kemudian keluar dari kamar Devan dan menuruni anak tangga untuk berpindah di kamar bawah. Mereka memilih kamar bawah karena di lantai atas hanya ada satu kamar berukuran besar yang dipakai Devan dan dua ruangan lain yang dijadikan ruang gym dan ruang kerja.


******


Sudah Dua hari Devan berdiam diri di rumah barunya karena harus memulihkan kesehatannya seperti perintah dari bundanya. Selama itu juga ia istirahat dari pekerjaan kantornya. Sebenarnya ia bisa saja mengabaikan perkataan bundanya dan berangkat bekerja. Namun sayangnya, Bundanya seolah menjadi bodyguardnya yang selalu mengintai dan menjaganya. Bunda Dewi belum sampai pulang ke rumahnya. Ia lebih memilih untuk mengurus dan menemani putranya yang tengah sakit.


"ah... aku sudah seperti bayi besar yang kemana-mana harus dibuntuti sama bunda" gerutu Devan karena merasa bosan terus-terusan di rumah dan tak bisa kemana-mana.


Devan mendengus kesal karena tidak bisa melakukan apa-apa selain tidur dan makan. Bundanya selalu mengontrol apapun yang dilakukan oleh putranya.


"please bunda... Devan sudah sehat lho... Devan jenuh kalau terus di rumah dan nggak boleh ngapa-ngapain" pinta Devan memelas saat melihat bundanya memasuki kamarnya membawa nampan dengan sepiring makanan dan segelas susu diatasnya.


"habiskan ini dulu" kata bunda menyodorkan nampan yang dibawanya ke hadapan Devan tanpa memperdulikan permintaan putranya itu


"Devan masih kenyang bund..." tolak Devan memelas.


"pokoknya cepat dihabiskan, atau besok kamu tidak akan ke kantor lagi"


"huh? susu lagi? Devan mual sama susu bund...pagi siang sore minum susu melulu. Bunda kan tahu Devan nggak begitu suka susu" keluh Devan masih memelas.


"bunda nggak mau tahu, atau ini bunda bawa balik dan kamu nggak usah ke kantor besok" ancam bunda


"baiklah, selalu saja mengancam" jawab Devan pasrah membuat senyum di bibir bunda semakin melengkung.


Ia menghabiskan makanan dan susu itu dengan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2