Cinta Vania

Cinta Vania
Aku Kecewa Padamu


__ADS_3

Sudahlah, pergilah... lakukan apapun yang kau suka, aku tak akan mengganggumu apalagi menahanmu" kata Devan pasrah dengan membalikkan badannya membelakangi Vania.


Spontan air mata Vania lolos begitu saja. Ia tak mampu menahan rasa sakit hatinya dan berjalan keluar dari ruangan Devan.


Vania menghapus air mata di pipinya dan berlari kecil meninggalkan gedung SA Group. Ia pergi ke sebuah taman yang ada di sebelah gedung kantornya.


Vania mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi panjang yang membelakangi jalan. Ia menatap kosong pemandangan di depannya. Hatinya begitu kalut dan hancur. Ia bahkan tak lagi memperdulikan pekerjaan kantornya.


"Minumlah ini" kata David sambil mengarahkan sebotol air mineral ke arahnya.


Vania menoleh ke arah David dan mengambil botol minum itu. Ia membuka tutup botol dan meminumnya.


"Boleh aku duduk?" tanya David dan Vania mengangguk


David ikut mendudukkan tubuhnya di samping Vania. Mereka saling diam sejenak.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku disini?"


"Aku tidak sengaja melihatmu berlari saat keluar dari pintu lift sambil menangis. Dari sana aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja" jawab David.


Vania hanya diam saja tak menanggapi.


"maaf jika aku lancang, boleh aku tahu kenapa kau bisa seperti ini?" lanjut David bertanya.


"Aku tidak bisa menceritakannya padamu, maaf"


"Baiklah...aku bisa mengerti. Kau bisa membaginya kapanpun kau mau padaku"


David ingin menanyakan kembali pertanyaannya tadi pagi saat mereka bertemu di lobby. Namun ia urungkan karena melihat kondisi Vania yang nampak tidak baik.


"Kau kembalilah ke kantor" kata Vania karena tidak ingin menganggu pekerjaan lelaki itu.


"Lalu bagaimana denganmu? bukankah kau pun juga harus bekerja hari ini?" tanya balik David.


"Jangan hiraukan aku, aku masih ingin disini. Aku akan kembali saat hatiku sudah tenang" kata Vania.

__ADS_1


"Baiklah, aku ke dalam dulu ya... Kamu cepatlah balik" pamit David yang diangguki Vania.


Tanpa mereka sadari sepasang mata tak sengaja memperhatikan kedekatan keduanya dari atas gedung.


Devan menatap keluar jendela ruangannya. Awalnya ia hanya berniat mencari angin segar agar bisa mengembalikan moodnya. Tapi ternyata dia justru melihat pemandangan yang tak mengenakkan.


Devan mendengus kesal dengan rahang yang mengeras. Ia kembali ke meja kerjanya dan menghempaskan badannya diatas kursi dengan kasar. Ia menggebrak mejanya sehingga membuat apapun yang ada diatasnya bergetar.


Ya, Devan benar-benar sedang marah pada istrinya.


Devan mengambil benda pipihnya untuk menghubungi Vania.


Panggilan tersambung, tak lama kemudian Vania menyapa.


"Kak..."


"Awalnya aku ingin menepis anggapan burukku terhadapmu, tapi setelah aku melihat langsung bagaimana kedekatan kalian dan lelaki itu memberikan perhatian padamu, semakin meyakinkanku jika kalian punya hubungan khusus. Bahkan aku yakin kau tidak pernah merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi" kata Devan marah


"Apa maksudmu?"


"Kak, itu tidak seperti yang kau lihat"


"Aku benar-benar kecewa padamu"


Devan memutuskan panggilannya Tanpa menunggu penjelasan Vania dari seberang sana. Ia bahkan melempar ponselnya ke sembarang arah hingga hancur. Sudah dipastikan ponsel itu rusak. Ia mengusap kuat-kuat rambutnya dengan kedua tangannya ke belakang dan menumpu kepalanya yang menunduk dengan kedua tangannya. Sakit sekali ia rasakan. Bahkan dadanya terasa sesak mengingat kejadian yang baru dilihatnya.


Selang beberapa menit kemudian Ronald masuk ke ruangan atasannya. Ia terkejut mendapati ponsel dengan layar yang sudah pecah diatas lantai dan Devan yang begitu kacau. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu jika atasannya itu sedang ada masalah dengan istrinya mengingat belum lama Vania keluar dari ruangan itu.


Ronald mengambil ponsel itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ronald menghampiri bossnya mencoba mengingatkan bahwa meeting akan berlangsung sepuluh menit lagi.


Devan pun berdiri dan merapikan jas yang tersemat di badannya. Ia berjalan menuju ruang meeting yang berada di lantai bawah.


Sementara di luar sana, Vania masih tak bergerak dari posisinya. Air matanya mengalir deras mengingat tuduhan yang diucapkan Devan terhadapnya.


Tak lama kemudian ponsel Vania bergetar, ad satu pesan masuk dari pak Romi yang menanyakan keberadaannya. Vania bergegas membalasnya dan beranjak dari duduknya memasuki gedung kantor.

__ADS_1


Di dalam ruangannya, ia menyelesaikan pekerjaannya meskipun lebih banyak salah karena tidak bisa fokus. Bahkan tak jarang ia mendapatkan teguran dari Maya karena sering melamun.


"Van, kamu ini kenapa? Kamu sakit? badanmu pucat lho" kata Maya


"Enggak mb...cuma agak pusingan aja" Kata Vania memaksakan senyumnya.


"Dipakai istirahat aja gih, nanti biar aku yang ijinkan sama pak Romi"


"Enggak apa-apa mbak, lagi pula sebentar lagi juga jam istirahat"


Vania kembali menyelesaikan oekerjaannya. meski pikiran dan perasaan sedang kacau dan tidak bisa berfikir sehat.


Di dalam ruang meeting, hal sama juga terjadi pada Devan. Lelaki itu tidak bisa fokus dan memimpin meeting dengan baik, sehingga Ronald yang harus lebih sering mengambil alih sebagai pengganti atasannya untuk menjelaskan materi.


Setelah meeting berakhir, Devan pergi keluar dari gedung kantornya tanpa memberitahu Ronald. Bahkan sampai jam pulang kantor, lelaki itu juga tak kunjung kembali.


Vania yang baru saja keluar dari gedung kantor dan tak mendapati mobil Devan di parkiran hanya bisa diam menahan air matanya yang hampir jatuh. Ia meraih ponselnya untuk menghubungi ojol agar mengantarkannya pulang. Namun Ronald mencegahnya dan memberikan tumpangan untuk mengantarkannya pulang.


"Nona, saya tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tapi hari ini tuan muda sangat terlihat marah dan emosi" kata Ronald saat mereka berada di dalam mobil.


"Ini hanya salah paham saja, tapi dia seperti tidak ingin mendengar penjelasanku" kata Vania menunduk.


"saya tahu betul bagaimana tuan muda. Dia tidak akan semarah itu jika tidak ada bukti yang dilihatnya langsung. Bahkan dengan pergi begitu saja tanpa memberitahu"


"Tapi ini hanya salah paham..." kata Vania dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


"Saya mengerti, Nona. Saya akan membantu anda membujuk beliau agar bisa kembali mendengarkan penjelasan anda.


"Terimakasih pak Ronald" kata Vania lirih.


"Panggil saja saya Ronald. Kita tidak sednag di kantor. Anda bukan bawahan saya sekarang. Anda adalah nona di keluarga Atmadja" kata Ronald dan Vania mengangguk.


Mobil yang membawa mereka telah sampai di depan rumah. Vania mengucapkan terimakasih sebelum turun dari mobil Ronald. Diikuti oleh Ronald yang melajukan kembali mobilnya keluar dari halaman rumah.


Vania memperhatikan halaman sekitar yang cukup luas. Tidak ada mobil Devan terparkir disana. Perasaannya semakin cemas karena tidak tahu kabar suaminya yang entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2