Cinta Vania

Cinta Vania
Aku Tidak Rela


__ADS_3

Mobil yang membawa mereka telah sampai di depan rumah. Vania mengucapkan terimakasih sebelum turun dari mobil Ronald. Diikuti oleh Ronal yang melajukan kembali mobilnya keluar dari halaman rumah.


Vania memperhatikan halaman sekitar yang cukup luas. Tidak ada mobil Devan terparkir disana. Perasaannya semakin cemas karena tidak tahu kabar suaminya yang entah kemana.


Ia memasuki rumah dan menuju dapur untuk mencari Bu Tini untuk menanyakan sesuatu. Dilihatnya wanita paruh baya itu tengah menyiapkan makan malam untuk majikannya.


"Assalamualaikum Bu"


"Waalaikumsalam, nona. Anda sudah pulang... tadi tuan menghubungi telepon rumah, beliau menitipkan pesan agar anda makan malam terlebih dahulu dan tidak perlu menunggunya" kata Bu Tini sambil meletakkan hasil masakannya diatas meja makan.


"Apa beliau mengatakan sedang ada dimana?"


"Tidak nona...beliau hanya berpesan itu saja agar saya sampaikan ke nona " jawab Bu Tini sambil menggeleng.


Vania merasa lemas mendengar jawaban Bu Tini. Entah kenapa dia begitu tak berdaya mengingat kemarahan suaminya. Lelaki itu memberikan perhatian padanya lewat orang lain.


"Baiklah terimakasih Bu, ibu boleh pulang setelah selesai... Nanti biar saya yang membersihkan sisa makannya" katanya lembut.


Vania menuju kamarnya setelah Bu Tini dan suaminya berpamitan padanya.


Selesai membersihkan diri dan sholat, Vania duduk di sofa ruang tamu menanti suaminya datang setelah sebelumnya menyimpan makanan ke lemari pendingin karena tak berselera lagi untuk makan.


Hingga malam larut, Vania melihat jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Namun Devan belum juga pulang. Vania merasakan kantuk menyerangnya hingga ia tak sadar tertidur di sofa.


Tepat jam satu dini hari Devan sampai di rumah. ia membuka pintu rumah dan melihat istrinya tertidur di sofa. Ia meraih tubuh wanita yang kini menjadi istrinya itu dan membawanya ke kamar. Ia yakin betul wanita itu terlalu lelah hingga tak sadar jika tidurnya sudah berpindah.


Setelah memindahkan Vania, Devan melangkah menuju kamarnya. Ia mengganti pakaian kerja yang masih melapisi tubuhnya dengan celana pendek tanpa memakai atasan dan menuju ruang gym yang terletak di sebelah kamarnya.


Devan menyegarkan tubuh dan pikirannya dengan berolah raga. Sudah dua jam lebih ia berada di ruang gym, berolah raga sekaligus melepas kepenatannya dengan duduk bersantai menikmati pemandangan di balik balkon. Kemudian dia kembali masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap kembali dengan baju kantornya.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Seperti biasa pagi-pagi sekali Bu Tini dan Pak Amin datang untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Pagi Bu" sapa Devan saat menuruni tangga dan melihat Bu Tini sedang memasak di dapur.


"Pagi tuan... Tuan mau berangkat sepagi ini?" tanya Bu Tini yang nampak heran karena melihat tuannya sudah rapi dengan pakaian kantornya.


"iya Bu, Aku harus ke rumah utama dulu mengambil beberapa berkas" jawabnya beralasan. Ia hanya tidak ingin orang lain tahu mengenai persoalan keluarganya.


"Nanti kalau Vania bangun, bilang saja saya sudah pergi. Aku sudah siapkan mobil untuknya ke kantor. Nanti biar pak Amin yang akan mengantarnya" Kata Devan sambil berlalu.


"Baik tuan..."


Vania bangun sedikit kesiangan dari biasanya. Meski begitu ia masih bisa melaksanakan kewajibannya untuk sholat subuh meski dengan waktu yang cukup mepet.


Ia mengingat-ingat jika tadi malam tertidur di sofa tapi saat bangun tiba-tiba sudah ada di kamarnya. Itu artinya tadi malam Devna pulang dan memindahkannya.


Setelah sholat ia bergegas keluar kamarnya hendak mencari sosok yang ingin ditemuinya.


"Apa beliau masih di kamar, Bu?" tanya Vania


"Tuan sudah berangkat sejak satu jam yang lalu, Nona. Beliau hanya berpesan kalau anda akan diantarkan oleh Pak Amin ke kantor. Dan nona, apa anda tidak makan tadi malam? saya menemukan makanan disimpan dalam kulkas" jawab Bu Tini.


"saya masih kenyang Bu, dan pagi ini juga saya tidak akan sarapan di rumah" kata Vania.


"Baik, nona"


Vania kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang dengan mer*mas sprei kasurnya. Ia begitu sedih. Ia merasa Devan tak lagi memperdulikannya. Ia merindukan perhatian lelaki itu. Tak ada lagi sosok Devan yang biasanya menyayangi dan memanjakannya.


Vania berangkat ke kantor diantar oleh pak Amin.

__ADS_1


Sesampainya di kantor dan akan memasuki lobby, Vania mendapati Alline yang sedang duduk di kursi tunggu lobby sambil memainkan ponselnya. Ia curiga dengan kedatangan wanita itu di kantor suaminya.


"Hey, kamu yang kemarin sama Devan kan? Ya aku ingat... tapi aku lupa siapa namamu" kata Alline saat menoleh dan melihat Vania tengah berjalan melewatinya.


Langkah Vania terhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendekati Alline.


"Iya benar, saya Vania" kata Vania memaksakan senyumnya.


"Senang bertemu denganmu lagi, , , Apa kau masih ingat padaku" katanya Alline, "Aku calon tunangan atasanmu" lanjutnya sedikit berbisik dengan senyum yang mengembang.


Hati Vania terasa tersayat mendengar perkataan Alline bagaimana wanita itu memposisikan dirinya.


"Nona Alline, silahkan menuju lantai teratas. Pak Presdir sudah menunggu anda di ruangannya" kata wanita lobby ke Alline.


"Terimakasih, mbak" kata Alline senyum ke wanita lobby


"Baiklah Vania, aku tinggal ke atas dulu ya menemui calonku" pamit Alline dengan begitu bersemangat dan berlalu menemui Devan di ruangannya.


Sepeninggal Alline, Mata Vania berkaca-kaca. Ia mencengkeram erat bagian depan bajunya karena rasa sesak yang ada di dadanya.


"Sesakit ini kah rasanya terabaikan... Aku tidak rela mendengar lelakiku bersama wanita lain. Aku tak sanggup Tuhan..." jerit Vania dari dalam hati. Ujung matanya mulai meloloskan air mata yang sejak tadi tertahan. Cepat-cepat ia menghapusnya agar tidak ada orang lain yang melihatnya.


Vania segera bergerak menuju ruangannya. Ia ingin mengalihkan rasa sedihnya dengan menyibukkan diri pada pekerjaannya.


Hingga jam istirahat tiba, Vania tak segera beranjak dari duduknya. Maya menghampiri Vania untuk mengajak rekannya itu mencari makan.


"Mbak duluan aja ya...aku belum lapar... " kata Vania.


"Kita ngopi-ngopi aja gimana di kafe sebelah? Aku juga bosen pengen cari angin di luar"

__ADS_1


"boleh deh..." jawab Vania. Tak ada salahnya ia mengikuti ajakan Maya untuk merefresh pikirannya.


Mereka berdua menuju kafe yang terletak di sebelah kantor. Baru saja melangkahkan kakinya memasuki area kafe, Vania sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan dan menyakitkan baginya. Ia melihat Devan sedang makan siang bersama Alline. Mereka nampak begitu dekat dengan sesekali terlihat senyum tersungging di wajah Alline meski lelaki yang di depannya hanya diam dengan ekspresi yang tidak enak dilihat.


__ADS_2