Cinta Vania

Cinta Vania
Jika itu yang terbaik


__ADS_3

Vania berangkat ke kantor setelah cuti sehari. Devan bergegas menemui di meja kerjanya setelah mendapatkan informasi dari Gita.


Maya terkejut melihat kedatangan Devan karena ini pertama kalinya Presdir berada di lantai tiga ruangan mereka. Bahkan tak sedikit juga yang ikut terkejut dan penasaran dengan keberadaan lelaki nomor satu di perusahaan itu.


"Ikut aku sebentar" ajaknya ke Vania tiba-tiba setelah sampai di depa mejanya.


Vania yang masih merasa kesal hanya menatap tajam suaminya dengan sikap yang sangat dingin. Seakan tak mengindahkan perkataan suaminya membuat Devan mendekat ke arahnya.


"Ikut aku atau semua orang di gedung ini akan mengetahui status kita" ancam Devan pelan di dekat telinga Vania.


Dengan malas Vania mengikuti perkataan Devan. Ia mengikuti langkah Devan dari belakang. Lelaki itu pergi menuju ruangannya agar bisa lebih leluasa untuk mengobrol tanpa ada gangguan.


"Aku tahu bagaimana sakit hatimu. Tapi tidak adakah sedikit di hatimu keinginan untuk mendengarkan penjelasanku?" tanya Devan. Namun Vania hanya diam seakan mengabaikan suaminya berbicara.


"Vania... sayang... selama ini aku selalu mengalah, apa tak ada sedikitpun di hatimu merasakan bagaimana aku memprioritaskanmu? kenapa kau sangat keras kepala sekali" lanjutnya dengan penuh harap.


"Jadi selama ini kamu menyesal mengenal dan hidup denganku? huh?" tanya Vania kesal.


"Hentikan omong kosong itu. Aku mencintaimu dan tak ada sedikitpun sesal bagiku karena memilih dan menikahimu. Apa salah jika aku ingin kau sedikit merubah sifat keras kepalamu itu?" bantah Devan meninggi membuat Vania terdiam karena takut. Devan menghela nafas dan menghembuskannya pelan. "Maaf jika aku telah menyakitimu. Aku bersumpah tidak ada hubungan apapun dengan Stella. Tolong mengertilah" lanjut Devan dengan suara melemah.


Vania diam tak bergeming. Ia berperang dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia ingin tetap percaya pada suaminya. Namun rasa khawatir dalam hatinya mengingat semua yang berhubungan dengan suaminya dan Stella mulai dari Foto, berita di media dan bahkan kejadian yang dilihatnya langsung. Semua itu seakan jelas saling menghubungkan. Ia sudah cukup sabar dengan semua yang didengar dan dilihatnya.


"Yang..." panggil Devan. Kini lelaki itu berlutut sambil memegang kedua lengan Vania yang berdiri di depannya. "Please percaya padaku" kata Devan lirih. Ia benar-benar sedih karena harus didiamkan oleh orang yang dicintainya.


Vania terharu dan luluh dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Berdirilah mas, jangan seperti ini" Vania menarik tangannya agar suaminya ikut berdiri. "Biarlah kita seperti ini dulu. Mungkin masing-masing kita butuh saling introspeksi diri. Aku butuh sendiri untuk menenangkan pikiranku. Untuk sementara kita tidak saling bertemu dulu sampai kita benar-benar saling membutuhkan. Tolong kamu mengerti. Semoga setelah ini masalah akan selesai dan kita akan terbuka dengan status hubungan pernikahan kita" imbuhnya.

__ADS_1


"Aku mengerti. Jika itu yang terbaik untuk kita bisa tetap bersama, apapun aku lakukan asal jangan pernah tinggalkan aku" kata Devan yang kemudian mencium kening Vania.


"Satu lagi. Kau tak perlu meminta Gita untuk menemaniku" kata Vania.


"Aku tak mungkin membiarkanmu sendiri di rumah. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu"


"Aku akan meminta Bu Tini dan Pak Amin untuk tinggal sementara di rumah"


"Baiklah jika itu maumu. Janji jaga kesehatanmu. Tapi biarkan aku selalu memantau kesehatanmu di rumah" kata Devan


"Terserah maumu. Ijinkan aku kembali ke mejaku" pamit Vania ingin kembali bekerja.


"Iya. Aku akan sangat merindukanmu" Devan memeluk tubuh yang dirindukannya dan mencium keningnya meski tanpa balasan dari Vania.


Vania melangkah meninggalkan ruangan suaminya untuk kembali ke lantai tiga tempatnya bekerja.


******


Hari berlalu, sudah tiga hari suami istri itu saling berjauhan tanpa bertemu dan komunikasi. Mereka saling memendam kerinduan dan perasaan masing-masing.


Sore ini Vania pulang kantor seperti biasa dijemput oleh pak Amin. Ia keluar dari pintu lobby dengan wajah yang pucat. Badannya terasa lemas dan kepala yang pusing serasa berputar-putar.


David yang tak sengaja melihat keanehan pada Vania terus memperhatikannya. Ia merasa khawatir dengan wanita itu. Namun saat ia akan menghampirinya, nampak pak Amin sudah menyusul Vania lebih dulu karena melihat majikannya itu berjalan sempoyongan membuatnya membatalkan niatnya.


"Nona tidak apa-apa? Mari saya bantu" kata pak Amin sambil menuntun Vania berjalan. Ya, Pak Amin dan Bu Tini sudah Vania anggap seperti orangtuanya. Begitu pula dengan pasangan paruh baya itu.


Sesampainya di rumah, Vania yang sudah sangat lemas itu memilih untuk tiduran di kamarnya tanpa mengganti baju kantornya.

__ADS_1


"Bu, tolong jangan katakan apapun pada beliau. Jika beliau bertanya, bilang saja saya hanya lelah dan ingin istirahat" kata Vania karena ia tahu pasti suaminya itu akan menginterogasi Bu Tini lewat telepon.


Dan benar saja, Devan menghubungi Bu Tini lewat sambungan telepon rumah menanyakan perihal istrinya. Namun Bu Tini menurut apa kata Vania dengan mengatakan seperti yang Vania mau.


Pagi harinya, beruntung hari ini adalah Sabtu. Vania bisa istirahat di rumah untuk memulihkan kesehatannya dan tak perlu bekerja. Namun bukannya sehat, Vania justru merasakan sakit semua. Kepala pusing dan perut mual membuatnya harus bolak-balik ke kamar mandi.


Bu Tini yang merasa khawatir hendak menghubungi Devan. Namun Vania terus mencegahnya dengan alasan dia baik-baik saja dan hanya masuk angin.


"Saya panggilkan dokter Niko saja ya Nona" kata Bu Tini


"Enggak usah, Bu. Nanti malah Mas Devan tahu dan khawatir. Paling ini hanya masuk angin, tolong bantu pijitin saja, Bu" pinta Vania.


Bu Tini memijit pundak Vania berharap pemiliknya segera sehat. Setelah itu ia membuatkan sup dan minuman hangat untuk Vania.


Hingga hari berikutnya, Vania masih mengalami hal yang sama. Ia sudah tidak tahan dengan kondisi badannya. Vania meminta tolong pada pak Amin dan Bu Tini untuk mengantarnya ke klinik terdekat untuk berobat.


Sesampainya di klinik, Bu Tini dan Pak Amin menunggu di luar sedang Vania masuk sendiri ke ruangan dokter praktek.


"Silahkan duduk. Dengan Nyonya Vania, betul?" tanya dokter yang bernama Hesty itudan Vania mengiyakan. "Bisa di sebutkan ada keluhan apa?" lanjut dokter bertanya dengan ramah.


"Saya sering mual dan merasa pusing, dok. Badan saya juga sakit semua" kata Vania menjelaskan apa yang ia rasakan.


"Sudah berapa lama?"


"Belum lama. Baru dua harian ini, dok"


"Baik, silahkan berbaring di sebelah sana ya" kata dokter Hesty menunjuk arah tempat tidur di sebelahnya.

__ADS_1


Vania mengikuti arahan dokter itu untuk berbaring di tempat tidur yang sudah di sediakan. Dokter mulai memeriksa Vania mulai dari tekanan darah dan denyut nadi Vania.


__ADS_2