Cinta Vania

Cinta Vania
Acara Pesta


__ADS_3

Sore hari menjelang pesta.


Devan bersiap-siap di kamar apartemennya. Sebentar lagi ia akan berangkat ke pesta bersama ayah dan bundanya.


Setibanya di hotel tempat diadakannya pesta, Devan dengan setelan jasnya yang rapi dan keren memasuki aula bersama ayah dan bundanya. Banyak tamu undangan yang sudah hadir di sana. Tak terkecuali Ronald bersama papa mama dan tunangannya.


"Selamat datang tuan besar" sambut pak Rehan, ayah Ronald kepada pak Satria yang berjalan paling depan diikuti oleh istrinya dan Devan.


Kedua saudara itu saling berpelukan. Ya, pak Rehan adalah kakak sepupu dari bu Dewi. Selanjutnya bu Dewi dan Devan yang memeluk pamannya.


"kakak sudah lama?" tanya bu Dewi


"baru 15 menit yang lalu, mari para tamu sudah menunggu" ajak pak Rehan.


Mereka berjalan melewati karpet merah yang terbentang sepanjang jalan dari pintu aula. Semua mata menoleh ke arah tiga orang besar yang baru saja datang.


"Selamat datang kepada pemilik SA Group selaku penyelenggara pesta, tuan dan nyonya beserta presiden direktur yang terhormat. Silahkan menempati kursi kehormatan" ucap MC yang diikuti oleh tepuk tangan para tamu.


Acara pun dimulai dengan sambutan dari pemilik SA Group yang tak lain pak Satria. Kemudian diikuti oleh sambutan dari presiden direktur Devan Satria Atmadja.


Ayah dan anak itu berikan sambutan dengan menggunakan bahasa Inggris. Namun, para tamu undangan lebih tertarik dengan sambutan dari Devan. Karena selain usianya yang terbilang muda, Devan menyampaikan kata-kata yang sedemikian apik dan menarik yang mampu menginspirasi para tamu.


Para tamu undangan yang hadir memberikan tepuk tangan yang meriah kata sambutan yang telah diberikan Devan.

__ADS_1


Tampak juga Alline yang begitu ceria dan bersemangat bertepuk tangan saat Devan hendak menuruni panggung.


Alline datang bersama papa dan mamanya. Papa Alline adalah rekan bisnis dari Pak Satria.


Acara dilanjutkan dengan ramah tamah tamu dan bersantai. Setiap tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang berjejer di bagian kiri aula yang telah disediakan oleh panitia.


Devan sedang berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya dari kalangan muda. Ia didampingi oleh bundanya karena ayahnya sedang menyambut tamu lain.


Saat Alline dan keluarganya akan mendekat, Devan tiba-tiba melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu merekah pada seseorang di samping kanan Alline.


Alline mengernyit heran karena penasaran. Ia menoleh ke samping kanannya. Seorang gadis cantik tinggi semampai dengan penampilan yang begitu elegan dan mewah. Gadis itu mengenakan long dress sequin hitam dengan punggung terbuka sampai pinggang. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai dan menyampingkannya di pundak kanannya. Gaun yang digunakan begitu menampakkan tubuhnya yang bak gitar spanyol. Pemandangan yang begitu sempurna bagi kaum adam yang melihatnya.


Wanita itu berjalan berlenggak lenggok mendekati Devan. Dia adalah Stella.


Alline yang sedari tadi memperhatikan kedekatan Devan dan Stella seakan-akan terbakar emosi. Wajahnya yang mula ceria dan murah senyum berubah seketika. Ia terus bersungut-sungut dengan raut wajahnya yang begitu masam.


Tak lama kemudian Stella memutuskan untuk pergi karena ada acara di tempat lain. Ia berpamitan pada pemilik acara untuk kembali pergi.


Dengan langkah cepat Alline diikuti oleh papa dan mamanya mendekati Devan dan bundanya. Alline mencoba mendekatkan diri pada bunda Dewi yang baru pertama kali ini ditemuinya.


"selamat malam bunda,,,kenalin saya Alline teman dekatnya Devan" sapa Alline sambil mengulurkan tangannya.


Bunda Dewi terdiam mengernyitkan keningnya dengan senyuman penuh tanda tanya. Ia menoleh ke arah putranya berusaha meminta jawaban. Namun, Devan hanya mendengus dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Bu Dewi kemudian membalas uluran tangan Alline dan cipika cipiki dengan Alline dan bundanya.


Mereka saling mengobrol hingga kemudian datang pak Satria ikut bergabung. Alline terus saja mencari perhatian bunda Dewi membuat Devan semakin risih.


Sebenarnya bu da juga risih dengan sikap Alline yang terus menempel padanya. Namun ia bisa menepis semua itu demi menjaga perasaan Alline dan keluarganya. Walau bagaimanapun mereka adalah tamu di acara itu.


Tak tahan dengan pemandangan Alline yang mengganggunya, Devan meminta ijin pada bundanya untuk pergi menemui Ronald. Sebenarnya itu hanya alasan Devan untuk menjauh dari Alline. Akan lebih baik baginya untuk menjauh dari pads berlama-lama dekat dengan Alline.


Devan menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar kembali. Ia mengendorkan dasi yang dipakainya agar lebih rileks. Keadaan toilet saat itu sangat sepi. Cukup lama ia berdiam diri di toilet sambil memandang wajahnya di cermin besar depan wastafel.


Setelahnya keluar dari toilet, iya berjalan menuju keluar hotel dan duduk di kursi taman yang terletak di samping parkiran hotel.


Suara bising dan keramaian orang berlalu lalang di acara pesta membuatnya tidak nyaman. Lebih tepatnya merasa kesepian karena tidak ada pujaan hatinya. Ia mulai mengeluarkan rokok dari dalam sakunya dan menyalakannya.


Devan sebenarnya bukan seorang perokok. Dia akan merokok hanya pada saat pikirannya sedang kalut dan tertekan. Baginya hembusan asap dari rokok itu mampu menenangkan pikirannya.


Devan menatap sembarang arah sambil terus menghisap rokoknya hingga habis tiga batang.


Saat akan menyalakan rokok ke empat, ia terhenti karena suara dering ponselnya. dilihatnya tertera nama "Bunda".


"pasti bunda nyariin" gumam Devan menatap layar ponselnya.


Devan mengangkat panggilan itu. Benar saja bunda Dewi mencari keberadaannya karena sedari tadi tak terlihat.

__ADS_1


Devan kemudian mengembalikan lagi batang rokok yang tidak jadi dinyalakan ke tempatnya. Ia masuk kembali ke aula hotel dan melanjutkan pestanya yang hampir usai.


__ADS_2