
Dalam sekejap saja tiba-tiba tubuh Vania melemah dan ambruk tak sadarkan diri di pelukan suaminya. Devan panik dan khawatir. Ia segera merebahkan tubuh Vania dengan hati-hati. Badannya panas. Devan membuka selimut yang menutup tubuh istrinya. Ia terkejut melihat darah yang begitu jelas tampak di selimut putih tebal yang Vania kenakan. Dengan cepat ia menyingkirkan selimut itu.
Devan segera mengenakan kembali pakaiannya dan keluar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja ruang tamu untuk menghubungi dokter Niko.
Setelah menyampaikan maksudnya ke dokter Niko untuk segera datang, ia beralih mengambil kotak obat yang ada di sebelah dapur.
"Tuan cari apa?" tanya Bu Tini keluar yang dari dapur melihat majikannya nampak sibuk mencari sesuatu.
"Bu, minyak anginnya mana" tanya Devan panik.
"Itu di dalam kotak yang kecil. Memang mau buat apa, Tuan?" tanya Bu Tini yang penasaran karena tak biasanya majikannya itu mencari kotak obat.
"Istriku pingsan, badannya panas sekali, Bu" jawab Devan sambil membuka kotak obat.
"Tuan, maaf jika saya sudah lancang, nona dari kemarin tidak pernah makan di rumah. Dan sepertinya Nona memang belum sampai makan. Karena saya perhatikan dalam dua hari ini ia nampak lemas dan pucat" kata Bu Tini yang membuat Devan semakin terkejut.
"Apa? kenapa Bu Tini tidak bilang" tanya Devan kesal karena merasa kecolongan.
"Saya tidak berani bilang karena Nona melarangnya, Tuan. Maafkan saya" kata Bu Tini ketakutan.
"Ya sudah, tolong buatkan bubur agar dia bisa makan setelah sadar" kata Devan yang kemudian berlalu kembali menghampiri istrinya.
Devan mendekati tubuh istrinya yang lemah tak sadarkan diri. Wanita itu nampak pucat dengan kelopak mata yang sembab dan memerah.
Devan mengoles minyak angin ke bagian tertentu agar istrinya cepat bangun. Ia juga mengusap-usap telapak tangan istrinya yang terlihat pucat.
"sayang, bangunlah...maafkan aku..." kata-kata itu terus saja terucap. Ia begitu sedih melihat istrinya tak berdaya.
Selang setengah jam kemudian dokter Niko datang dengan dibukakan pintu oleh Bu Tini. Bu Tini segera mengantar dokter ke kamar majikannya.
"Permisi, tuan... Maaf saya sedikit terlambat karena macet" kata dokter Niko karena jarak ke rumah Devan yang seharusnya hanya memakan waktu dua puluh menit molor lebih lama.
"Tolong periksa istriku, dok" kata Devan khawatir.
Dokter Niko memeriksa Vania. Ia mengarahkan stetoskop ke dada wanita itu untuk memastikan detak jantungnya normal. Ia juga menggunakan alat kesehatan lainnya untuk memeriksa.
"Tekanan darahnya rendah, Tuan. Nona hanya kelelahan dan..." berhenti sejenak karena tidak enak untuk melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Dan apa dokter?" tanya Devan cemas.
"Sepertinya Nona kekurangan cairan dan nutrisi, mungkin karena pola makannya tidak teratur" Kata dokter Niko ragu-ragu. Ia takut penjelasannya akan menyakiti lelaki itu karena dikira tidak mengurus istrinya dengan baik.
"Dia memang tidak menjaga pola makannya akhir-akhir ini" kata Devan
"Saya pastikan sebentar lagi Nona akan sadar. Nina hanya perlu banyak istirahat da makan teratur agar kesehatannya cepat pulih. Ini obat dan vitamin yang harus di minum" kata dokter Niko sambil mengeluarkan tiga tablet obat dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Devan
"Terimakasih dokter" Kata Devan
"Baik, saya permisi dulu, Tuan muda" pamit dokter Niko
Devan mengangguk. "Bu, tolong antar dokter ke depan ya" katanya ke Bu Tini.
"Baik Tuan"
Tak lama setelah kepergian dokter Niko, Vania mula sadar seiring kedua matanya yang mulai sedikit terbuka. Mata itu nampak sembab dan memerah.
Devan segera mendekati tubuh Vania dan memegang tangan kiri istrinya.
"Sayang..kau sudah sadar..." panggilnya lirih
"Maafkan aku" katanya sedih sambil menciumi punggung tangan istrinya.
Vania masih tak bergeming dengan permintaan maaf Devan. Ia hanya diam memandang wajah suaminya yang begitu dekat dengannya dengan uraian air mata.
"Aku janji nggak akan seperti itu lagi, tolong maafkan aku" katanya lagi.
"Enggak ada yang perlu dimaafkan, kak. Semuanya berawal dari keegoisanku. Aku yang salah" katanya dengan suara yang lemas.
"Aku mencintaimu... sangat mencintaimu" kata Devan lirih. Ia mencium kening istrinya cukup lama. Vania memejamkan mata merasakan kenyamanan yang ia rasakan sangat bibir Devan menyentuh hangat keningnya.
Devan melepaskan ciumannya. ia menatap lekat wajah istrinya.
"Kata Bu Tini dua hari ini kamu mengabaikan masakannya. Sekarang makan ya,,,biar aku suapi" katanya lembut
Vania mengangguk pelan dengan senyum tergambar di wajahnya yang pucat. Ia berusaha untuk duduk meski harus menahan sakit.
__ADS_1
Devan segera memanggil Bu Tini untuk membawakan bubur yang dia minta. Dengan sigap Bu Tini membawakan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air putih yang sudah ia siapkan untuk majikannya. Dan kembali setelah menyerahkannya pada tuannya.
"Aaaaaaaa" kata Devan meminta istrinya membuka mulut saat sendok berisi bubur sudah ia arahkan di depan mulut Vania.
Vania mengikuti perintah suaminya dan menerima suapan bubur itu.
Belum sampai setengah mangkok, Vania sudah meminta Devan untuk mengehentikan suapannya.
"Sekali lagi sayang" kata Devan sambil mengangkat sendok.
Vania menggelengkan kepalanya pelan sambil mengarahkan tangannya untuk menolak sendok yang ada di tangan suaminya, "aku kenyang".
"Ya sudah, minumlah dulu setelah itu minum obatmu" kata Devan sambil menyerahkan segelas air ke Vania. Devan juga menyiapkan obat dan Vitamin yang harus diminum oleh istrinya.
"Istirahatlah dulu, aku akan mandi sebentar di kamar atas" pamit Devan sambil mengusap lembut rambut istrinya.
Vania mengangguk. Ia kembali merebahkan tubuhnya agar bisa beristirahat dengan benar.
Devan beranjak berdiri. Ia keluar dan menutup pintu kamar Vania. Tak butuh waktu lama ia sudah kembali dengan pakaian rumahan yang menempel di tubuhnya. Ia nampak segar dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia kembali menghampiri Vania karena khawatir meninggalkan istrinya yang sakit terlalu lama.
Devan memutar kenop pintu kamar Vania. Ia terkejut mendapati Vania yang berdiri memegang sandaran kasur sambil meringis kesakitan. Devan berlari kecil menghampiri istrinya.
"Ada apa?" tanya Devan khawatir.
"Aku ingin ke kamar mandi, tapi bagian bawahku sakit" jawabnya pelan.
Devan segera membantu istrinya menuju kamar mandi dengan menggendong tubuh Vania dan mendudukkannya diatas closed.
"Terimakasih kak, keluarlah"
"Panggil aku jika butuh sesuatu. Aku hanya akan menutup sebagian pintunya agar aku tahu jika terjadi apa-apa" kata Devan.
Vania mengangguk, "jangan masuk jika aku tak memanggilmu"
Devan keluar dari kamar mandi dan menunggu istrinya di balik pintu.
"hiks...hiks...."
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang" teriak Devan dari luar saat terdengar Isak tangis Vania. Namun, lelaki itu tak berani masuk tanpa persetujuan istrinya.