
Devan menghela nafas pelan dan menghembuskannya kasar. Ia bingung harus mulai menjawab dari mana. Semua pertanyaan dan pernyataan Vania justru berbalik.menyudutkannya. Padahal ia tidak merasa apa yang dituduhkan gadis itu padanya benar.
"kita bicara di luar ya" ajaknya agar membuat suasana kantor tetap baik
"nggak" jawab Vania singkat
"kenapa?"
"aku nggak punya banyak waktu untuk semua omong kosongmu. Lebih baik cepat jelaskan sekarang juga" katanya dengan masih marah.
Devan berdiri dari duduknya dan menarik tangan Vania untuk mengajaknya berpindah duduk di sofa ruangan itu.
Mereka kini duduk bersebelahan namun berjarak dua meter. Vania memberikan jarak pada Devan karena merasa kesal padanya. Vania menatap lurus ke depan sedang Devan
memiringkan posisinya menghadap gadis yang dicintainya itu.
"cepat jelaskan" kata Vania sinis tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
"dengarkan aku... kamu salah paham"
"bagaimana kau bisa mengatakan aku yang salah paham padahal jelas-jelas kau sudah menghasut papa untuk memaksaku melanjutkan perjodohan yang sama sekali tidak pernah aku harapkan"
"Vania, aku sama sekalu tidak melakukan apa yang kau tuduhkan" kata Devan membela diri
"bohong" sahut Vania dengan cepat
"aku bersumpah demi Tuhan"
"ya, aku memang tidak bisa memberikanmu bukti apapun. Tapi yang harus kamu tahu, aku bukan lelaki egois yang hanya bisa memaksa orang lain mengikuti kemauanku meskipun aku sendiri yang mengharapkan perjodohan ini" jelasnya yang secara tidak langsung ia telah mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
"apa maksudmu"
"aku mencintaimu. Jauh sebelum ada perjodohan ini" katanya pelan.
Vania terdiam mendengar pernyataan Devan. Mulutnya terbungkam rapat. Bibirnya seolah kelu untuk menyampaikan keterkejutannya.
"Terserah kau akan berpikir dan menanggapinya seperti apa. Aku tidak peduli lagi, yang ada di otakku hanya bagaimana kamu bahagia dengan atau tanpa diriku. Aku akan segera mengurus pembatalan perjodohan dengan orang tuamu jika memang itu bisa membuatmu senang. Aku juga berjanji setelah ini tidak akan mengganggumu lagi dan pergi dari kehidupanmu. Maaf jika selama ini aku hanya jadi benalu bagimu" lanjut Devan dengan nada bicara yang semakin melemah. Tampak kekecewaan dari raut wajahnya. Ia kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Vania sendiri di ruangan miliknya.
Vania terpaku di tempat duduknya. Air matanya mulai jatuh. Ia merasa bersalah pada Devan.
"ya Tuhan kenapa justru harus seperti ini,,, Dia mencintaiku? aku tidak salah dengar kan? Tapi aku sudah berbuat jahat padanya... Semuanya kacau, aku merasa bersalah padanya. Aku yang begitu egois, aku justru menyakitinya" gumamnya dalam hati.
Vania menghapus air matanya dan beranjak keluar dari ruangan Devan. Dia berniat untuk mengejar Devan. Namun sayangnya saat ia sampai di depan loby, ia melihat Devan sudah melajukan mobilnya dengan cepat keluar dari gedung SA Group.
__ADS_1
Hati Vania begitu kacau. Ia bahkan mengutuk dirinya sendiri yang sudah merepotkan dan menyusahkan banyak orang.
Vania berjalan keluar dari gedung menunu halte terdekat. Ia menghubungi Nadya setelah duduk di bangku halte. Ia ingin menumpahkan semua kesedihannya dengan sahabatnya.
"iya hallo Van, ada apa?" sapa Nadya saat panggilan suara mulai tersambung
"elo dimana?"
"ini baru mau jalan pulang dari butik, kenapa?"
"gue pengen ketemu"
"oke lo dimana sekarang biar gue yang kesana"
"gue di halte dekat gedung kantor SA Group"
"lo ngapain bisa disana?"
"ceritanya panjang, nanti gue ceritain"
"ya udah tungguin disana... 20 menit gue sampai"
"iya" jawab Vania yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Ia menunggu kedatangan Nadya. Setelah beberapa menit kemudian, Nampak dari jauh Nadya mengendarai motornya mulai memperlambat lajunya karena hampir sampai di tujuan.
"kita kemana? tanya Nadya saat Vania sudah membonceng di belakangnya.
"terserah lo Nad, di rumah lo juga nggak apa-apa"
"oke deh" jawab Nadya yang kemudian menyalakan kembali mesin motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Mereka sampai di depan rumah Nadya beberapa menit kemudian. Rumah itu terasa sepi. Bahkan pintunya juga dikunci.
Nadya merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci rumah. Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya.
Pintu rumah Nadya sudah terbuka. Tak ada satupun orang yang ada di dalamnya.
"kok sepi, ayah ibumu mana?" tanya Vania penasaran
"Mereka semua ke luar kota mengunjungi pamanku selama tiga hari" jawab Nadya sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"kamu sendirian?" tanya Vania sambil duduk di kursi
__ADS_1
"iya, sebenarnya pengen ikut juga, tapi akhir-akhir ini butik sedang ramai, jadi sangat tidak mungkin buat gue ambil cuti" jawabnya sambil menuang air putih dari pitcher ke dalam gelas.
Nadya menyodorkan gelas berisi air putih itu ke sahabatnya, "sorry ya, gue belum sempat belanja, jadi adanya hanya ini"
"tak apa-apa, lagi pula gue kesini bukan buat mempermasalahkan suguhanmu" jawab Vania tersenyum sambil meraih gelas itu.
Mereka berdua meneguk air dari gelas sampai habis. Setelah itu meletakkan kembali gelas kosong diatas meja.
"jadi, bagaimana ceritanya kamu bisa berada di halte dekat gedung SA Group?" tanya Nadya memulai obrolan.
"gue habis menemui kak Devan"
"ngapain?" tanya Nadya yang mulai heran
Vania menceritakan semua kejadian mulai dari perjodohan yang direncanakan oleh orangtuanya dengan orangtua Devan serta penolakannya yang membuat papanya menjadi marah dan justru memaksanya untuk mengikuti perintah papanya.
"jadi lo ke kantor kak Devan buat minta kejelasan?" tanya Nadya dan Vania mengangguk.
"terus dia bilang apa?"
"dia bilang katanya aku hanya salah paham. Dan dia..." Vania terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.
"dia kenapa?" tanya Nadya yang penasaran karena kata-kata sahabatnya menggantung.
"dia bilang kalau dia suka sama gue" jawab Vania pelan.
"hah? jadi kak Devan udah ngungkapin perasaan dia ke elo? terus...terus... lo jawab apa? lo terima dia nggak?" Nadya memberondong Vania dengan banyak pertanyaan. Senyumnya mengembang mendengar ucapan Vania yang mengatakan kalau dia habis ditembak oleh Devan.
Vania merasa bingung dengan sikap sahabatnya yang begitu antusias saat mengetahui Devan telah mengungkapkan perasaannya.
"kok jadi lo yang antusias gitu" tanya balik Vania.
"emmm.... gue mau kasih tahu sesuatu sama lo" kata Nadya ragu-ragu
"tentang?"
"kak Devan" jawab Nadya singkat
"apa maksudmu?"
"sebenarnya ini rahasia sih, tapi berhubung lo udah tahu juga yang sebenarnya, jadi ya sudah gue akan kasih tahu semuanya ke lo"
"lo sembunyiin sesuatu dari gue?"
__ADS_1
"bukan begitu Van , denger dulu penjelasan gue"
Vania kemudian mencoba diam sebelum menyimak penjelasan dari sahabatnya.