
Pagi yang cerah untuk hari ini. Vania begitu bersemangat untuk memulai harinya pagi ini. Sejak obrolan singkatnya dengan Devan, hatinya terus berbunga-bunga. Ia bahkan lupa dengan kejadian tadi malamnya bersama David.
Vania mengerjakan tugas kantor seperti biasa. Namun, untuk hari ini aktifitas kantor seakan lebih banyak dari sebelumnya sehingga Ia harus bolak balik ke ruang managernya untuk menyerahkan laporan.
"hari ini benar-benar super ya mbak, kerjaan dua kali lipat dari biasanya" katanya ke Maya
"biasa Van, namanya juga akhir bulan, kita harus kerja ekstra untuk pembukuan juga, yang penting nanti pulang kita gajian" kata Maya dengan tawa khasnya.
"iya juga ya mbak...kok aku bisa lupa ya" kata Vania tersenyum. Ia membayangkan setelah menerima gaji dari hasil kerjanya, dia akan pergi berbelanja untuk berbelanja bersama Nadya.
Jam makan siang telah tiba. Vania dan Maya turun ke lantai bawah untuk menuju kantin yang ada di sebelah gedung kantor.
Siang ini Vania dan Maya tidak memesan makanan,Mereka hanya memesan minum yang di bungkus dan dibawanya menujuu ruang istirahat yang berdekatan dengan musholla untuk sekalian beribadah.
Sementara di dalam gedung. Tiba-tiba datang seorang wanita dengan marah-marah pada pegawai bagian lobby. Wanita itu menyebut asisten suaminya dengan memaki-maki.
Ya, dia adalah istri pak Linggar. Ida mencari Vania dengan berteriak dan marah-marah.
Pemandangan ini bukan pertama kalinya dilihat oleh karyawan kantor. Bisa dibilang ini adalah sekian kalinya istri dari Pak Linggar membuat masalah di kantor. Sebelumnya, ia juga datang dan melabrak asisten manajer terdahulu. Alasannya masih sama, cemburu. Ia cemburu karena suaminya sering berada di luar rumah. Ia menduga suaminya sedang berkencan dengan asistennya.
Pihak lobby segera menghubungi Linggar agar turun ke lantai satu menemui istrinya segera menyelesaikan masalah pribadi mereka.
Dengan cepat Linggar turun ke bawah dan menemui istrinya. Ia menarik lengan istrinya agar sedikit menjauh dari orang-orang
"ma, kamu ini apa-apaan, kenapa sering sekali bikin malu papa disini" bentak pak Linggar dengan suara pelan agar tidak terdengar karyawan lain.
"nah...ini ni orangnya, Papa selingkuh kan di belakang mama" tuduh wanita itu pada Linggar dengan suara yang lantang.
"mama ini ngomong apa, jangan berteriak disini" kata Linggar dengan intonasi tinggi.
"udah nggak usah ditutup-tutupin lagi, mana wanita sialan itu" teriaknya sambil menatap para karyawan yang berada disana.
"siapa maksudmu?" tanya Linggar
"asistenmu, kamu sering keluar kencan sama dia kan"
"tuduhanmu selalu tak beralasan" kata Linggar.
__ADS_1
"lihat ini, sekarang kamu bela wanita itu" kata istrinya marah.
"hey, kalian... cepat tunjukkan padaku mana wanita itu" katanya lagi sambil menatap satu persatu para karyawan yang berhenti disana.
Sementara di luar gedung, Vania dan Maya yang baru saja kembali dari musholla merasa penasaran dengan suara bising dari arah lobby.
"ada apaan tuh rame banget" tanya Vania sama Maya.
"nggak tahu tuh... eh mas, ada apa itu di dalam?" tanya Maya beralih ke pegawai pria yang baru saja keluar dari gedung.
"itu mbak, biasa...ada istrinya pak Linggar" jawab pria itu yang kemudian pergi.
"aduh... jangan sampai yang aku takutkan terjadi" kata Maya tiba-tiba.
"kenapa mbak?" tanya Vania yang mulai bingung.
"Van, kamu jangan masuk dulu deh" kata Naya mencegah sambil memegang pergelangan tangan wanita yang berdiri di sebelahnya
"kok gitu mbak?"
"udah pokoknya kamu ngikut apa kataku aja" kata Maya memaksa.
"kalian dari mana saja" tanya David cemas.
"Ada apaan sih di dalam?" tanya Vania yang penasaran.
"ada istrinya pak Linggar cari kamu"
"aku? buat apa?" tanya Vania sambil menunjuk pada dirinya sendiri.
"udah nanti aku ceritain, sekarang kamu menghindar dulu, jangan masuk" kata David dengan memaksa. Ia tidak ingin gadis yang dicintainya menjadi korban amukan dan dipermalukan oleh istri Linggar.
Belum sempat mereka bertiga melangkahkan kaki pergi, tiba-tiba suara teriakan dari istri Linggar membuat mereka berhenti.
"hey, kamu ya" tunjuk Wanita itu sambil memelototkan matanya.
"tuh kan..." gumam Maya pelan. Mereka pun menoleh ke arah suara.
__ADS_1
"sini kamu" teriaknya dengan wajah tak bersahabat.
"saya?" tanya Vania sambil menunjuk dirinya sendiri.
"cepat sini, atau ku seret kau" teriaknya sambil marah.
Vania pun berjalan masuk gedung ke arah lobby diikuti oleh Maya dan David.
"kamu kan asisten suami saya"
"maksud anda pak Linggar?" tanya Vania
"tidak usah berlagak b*go kamu ya,,, jauhi suami saya atau saya nggak akan tinggal diam" ancamnya sambil melotot.
"tapi bu, saya nggak mungkin melakukan itu"
"kamu berani ya sama saya" teriaknya sambil berkacak pinggang. Wanita itu begitu emosi mendengar jawaban Vania.
"mama, sudah... Vania nggak salah. kita selesaikan di rumah" cegah Linggar memegang tangan istrinya.
"enggak, bahkan kamu secara terang-terangan membela wanita ini" katanya sambil menepis tangan suaminya.
"Bu, saya tidak mengerti apa maksud anda" kata Vania kebingungan.
"benar-benar kurang ajar kamu ya" makinya pada Vania. Ia menampar pipi kiri Vania hingga membuat gadis itu hampir jatuh. Ia kesakitan dan memegang pipinya yang memerah. Beruntungnya tangan kekar David segera menopang tubuh gadis itu.
Maya segera memeluk dan menenangkan Vania yang menangis.
"hey bu, hati-hati dengan tangan anda kalau tidak ingin kami laporkan atas tuduhan kekerasan" marah David karena melihat Vania menangis karena kesakitan.
"siapa kamu? pacarnya? atau suaminya?" bantah istri Linggar yang semakin menantang.
"saya memang hanya teman kerjanya. Tapi kalau anda terus membuat masalah dengan pegawai disini tanpa alasan, jangan salahkan jika kami berbuat kasar sama anda" ancam David yang tidak bisa menahan emosinya
Semua orang terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Suasana Lobby saat itu semakin riuh. Para Karyawan saling berbisik-bisik membicarakan istri manager yang arogan itu.
"mama, stop... kamu sudah kelewatan" bentak Linggar pada istrinya. Ia merasa geram dengan tingkah istrinya yang selalu berbuat tidak baik di tempatnya kerja.
__ADS_1
"apa? papa mau bela wanita ini lagi? huh?" teriaknya menatap tajam suaminya.
"kamu keterlaluan. Saya nggak bisa maafkan kamu kali ini" marah Linggar pada istrinya.