
Setelah kejadian yang menimpa Vania, Alex dan Leo dijebloskan ke dalam kantor polisi dan harus mendekam di penjara selama dua tahun untuk membuat mereka jera.
Devan memdampingi Adit sebagai pelapor sekaligus saksi harus terpaksa bolak balik memenuhi panggilan untuk memberikan kesaksiannya.
Devan juga tak lagi mempercayakan proyek yang ada di Kalimantan dengan pak Broto. Ia menyerahkannya kepada pemimpin cabang lain. Namun posisi pak Broto dalam perusahaan cabang tidak berubah. Ia tetap menjadi pimpinan perusahaan. Devan tidak mau terlalu menghakimimya karena ini memang murni bukan kesalahan pak Broto melainkan putranya.
Semenjak kejadian itu, identitas Devan sebagai pemilik DAS Hotel diketahui publik. Ya, DAS Hotel adalah kepanjangan dari Devan Art Stay Hotel.
Pemberitaan tentang kekayaan yang dimiliki Devan menyebar lewat pemberitaan beberapa media. Nama Devan semakin terkenal, selain karena kesuksesannya juga karena kisah asmaranya yang tidak pernah terungkap. Semua itu karena Devan tidak pernah terlibat skandal dengan wanita manapun. Bahkan perjodohannya dengan Vania hanya menjadi konsumsi antar dua keluarga dan sahabat terdekat.
Sebulan sudah berlalu. Keadaan Vania juga sudah mulai membaik. Trauma yang dirasakan atas kejadian yang dialaminya tpo hari nampaknya mulai hilang.
Vania selalu berusaha mencari keberadaan Devan untuk berterima kasih. Namun, yang ia rasakan justru Devan seolah menghindarinya. Ia selalu berusaha pergi di saat bertemu dengan Vania.
Hingga akhirnya tibalah dimana waktu pernikahan Adit dan Renata berlangsung. Devan dan orangtuanya diundang secara khusus oleh keluarga pak Firman.
Tamu kehormatan itu datang bersama ke sebuah gedung tempat berlangsungnya acara.
Di dalam aula gedung pernikahan sudah hadir beberapa tamu termasuk pak Yanto dan istrinya. Devan yang melihat kehadiran orangtua angkatnya segera menghampiri dan mengucapkan salam hormat sambil memeluk mereka. Begitu pula mereka sangat bangga dan bahagia karena sikap sopan dan ramah yang ditunjukkan oleh pemuda sukses yang kini sudah mengubah kehidupannya dan menjadi putra angkatnya itu.
Setelah selesai bertatap muka dengan orang tua angkatnya. Devan beralih ke atas panggung menuju sang pemilik acara. Ia menemui pak Firman dan istrinya. Kemudian beralih ke kedua mempelai .
Devan memberikan ucapan selamat kepada Adit dan Renata. Setelah itu kembali turun untuk berbaur dengan tamu lain untuk sekedar mengobrol dan menikmati hidangan.
Devan berdiri di ujung aula. Dari jauh ia bisa melihat keberadaan Vania. Gadis itu selalu saja terlihat cantik. Apalagi dengan penampilannya yang sekarang. Riasan Natural dengan gaun pengiring pengantin yang begitu anggun nampak pas dan cocok di tubuhnya.
Devan mengalihkan perhatiannya dari Vania dengan cara berbincang-bincang dengan dua rekan bisnisnya sambil memegang gelas berisi jus yang baru diambilnya.
__ADS_1
Vania yang sudah sedari tadi mencari keberadaannya berusaha untuk mendekati Devan. Awalnya ia ragu-ragu untuk melangkah. Namun akhirnya ia membulatkan tekadnya untuk menghampiri Devan setelah mengingat ia sama sekali belum mengucapkan terimakasih secara langsung atas pertolongannya.
"permisi" sapa Vania pelan yang berdiri di belakang Devan dan tamu lain.
Devan dan yang lainnya lantas menoleh ke asal suara.
"boleh saya bicara dengan tuan Devan sebentar?" tanya Vania meminta ijin membuat laki-laki yang sedang mengobrol dengan Devan segera tersenyum dan mengangguk. Mereka meninggalkan Devan dan Vania sendiri dan berjalan menjauh.
Devan masih diam tak bicara satu kata pun. Ia merasa canggung harus berada sedekat itu dengan Vania. Alih-alih dimana seharusnya dia menghindari Vania, namun gadis itu justru datang mencarinya.
"bisa kita mengobrol di taman saja? disini begitu berisik" tanya Vania.
Devan mengangguk pelan. Ia meletakkan gelas berisi jus di tangannya di atas meja dan berjalan mengikuti Vania dari belakang.
Mereka berhenti di sebuah taman kecil dekat gedung. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di tengah-tengah taman.
Situasi canggung benar-benar dirasakan keduanya. Hingga akhirnya Vania memulai obrolan.
"kak" panggil Vania membuat pendengarnya menoleh.
"untuk waktu itu....terimakasih" kata Vania pelan
"ya" jawab Devan singkat dan kembali menunduk, membuat Vania semakin bingung karena lelaki iyang ada di sampingnya berubah dingin.
"kalau kakak tidak datang, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku"
"lupakan, yang penting kamu tidak kenapa-kenapa" jawab Devan dingin
__ADS_1
Vania memiringkan tubuhnya menatap lekat wajah lelaki di sampingnya. Kenapa harus kata "lupakan" itu lagi yang harus didengar olehnya. Ia terdiam sesaat mengamati wajah dingin Devan. Banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya melihat perubahan pada diri Devan.
"apa ada lagi yang ingin dibicarakan?" pertanyaan Devan membuyarkan lamunan Vania. Pandangan pria itu tak beralih dari posisinya. Ia tetap menunduk tanpa menoleh kembali ke gadis cantik di sampingnya.
"e.. eem... tidak ada" jawab Vania gugup
"baiklah sebaiknya kita kembali ke dalam sebelum papa mamamu mencari keberadaanmu" kata Devan sambil berdiri diikuti oleh Vania.
Devan berjalan memasuki gedung. Ia meninggalkan Vania yang masih terpaku di posisinya.
Dalam hati ia merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan pada Vania. Tapi dia tidak punya cara lain untuk menghindar. Sikap dinginnya hanya semata-mata untuk menjauh dari gadis yang dicintainya itu.
Diluar gedung, Vania kembali duduk di bangku yang tadi didudukinya bersama Devan. Ia mulai tak habis pikir dengan sikap lelaki itu. Dulu ia begitu lembut dan sopan terhadapnya. Tapi semenjak kejadian di ruangan kantor itu, sikap Devan berubah drastis. Ia tak lagi mengenali pria yang sudah ditolaknya itu.
Vania kembali ke dalam gedung menikmati pesta setelah cukup lama berada diluar.
Hingga pesta Adit dan Renata usai. Vania dan Devan tak lagi bertutur sapa bahkan bertatap muka karena Devan terus berusaha menghindar dan menjauhinya.
******
Hari telah berlalu. Vania semakin penasaran dengan sosok Devan yang sebenarnya. Ia akan mencoba untuk mulai mendekati Devan dan mengenalnya lebih jauh.
Ia mencoba mengorek cerita tentang Devan dari Andre dan Nadya. Namun tanpa dia sadari, sikapnya yang terlalu berlebihan itu malah membuat kedua sahabatnya berpikir kalau ia mulai jatuh cinta dengan Devan hingga membuat sepasang kekasih itu bersiasat mempertemukan dua insan yang mulai jatuh cinta itu tanpa sepengetahuan mereka.
Andre dan Nadya berinisiatif untuk mengajak mereka merayakan ulang tahun jadian mereka di DnD Cafe. Andre mengundang Devan . Begitu pula Nadya, ia mengajak Vania dan berangkat bersama dengan taksi online.
Awalnya Vania menolak untuk datang karena takut mengganggu acara sepasang kekasih itu. Namun akhirnya Nadya berhasil membujuk dengan alasan menemaninya karena banyak teman Andre yang datang.
__ADS_1