Cinta Vania

Cinta Vania
Kerjasama Perusahaan


__ADS_3

"Aku berangkat ke kantor dulu, sayang" pamit Devan tergesa-gesa setelah istrinya selesai memakaikan dasi.


"Kok buru-buru banget, penting banget ya kliennya?"


"Aku juga baru pertama kali ini mau ketemu kliennya. Aku tahunya cuma tahu dia orang hebat dan ia tak pernah mau memperlihatkan siapa dia sebenarnya"


"Semoga CEO nya bisa diajak kerjasama dengan baik ya mas"


"Iya, sayang. Doakan suamimu ini ya. Perusahaan akan untung besar kalau kerjasama ini berhasil" kata Devan yang kemu,dian di tutup dengan mengecup singkat bibir istrinya.


Vania tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah ayo aku antar ke depan" ajak Vania sambil mengambil tas suaminya yang tergeletak di atas ranjang dan membawakannya.


*****


Devan nampak gusar di ruang kerjanya. Ia bersama Ronald mempersiapkan dokumen yang akan di bawanya sebelum berangkat menuju kafe yang sudah ditentukan untuk meeting.


"Apa semuanya sudah?" tanya Devan ke Ronald.


Ronald yang masih menyusun berkas di atas meja nampak kebingungan memperhatikan satu per satu map di depannya.


"Sepertinya ada yang kurang, pak" jawab Ronald tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang di pegangnya.


"Benarkah?" tanya Devan tak percaya.


"Iya, pak. Apakah anda ingat map warna hijau yang minggu lalu anda bawa?" tanya Ronald mengingatkan.


"Astaga... kau benar. Aku melupakannya. Baiklah aku akan meminta seseorang untuk mengantarkannya kemari" kata Devan yang kemudian mengambil benda pipih dari dalam sakunya.


"Hallo, sayang Assalamualaikum" sapa Devan saat penggilan teleponnya tersambung.


"Waalaikumsalam. Kenapa, mas?"


"Sayang, bisa minta tolong ambilkan map hijau diatas meja kerjaku ya, berikan pada pak Amin, biar diantar kesini"


"Pak Amin sedang mengurus kebun depan, mas. Biar aku saja yang antar ke kantor"


"Apa nggak akan merepotkanmu, yang?"


"Enggak lah, mas. Lagipula aku juga sedikit bosan nggak ngapa-ngapain di rumah"

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu. Kamu hati-hati ya, enggak usah ngebut. Hubungi aku kalau sudah sampai, aku akan menjemputmu di lobby"


"Iya, mas. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Devan memutuskan panggilannya. Sesaat kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk" jawab Devan mempersilahkan. Dan muncullah Lia setelah pintu terbuka.


"Permisi, pak. Baru saja pihak dari Galileo Corporation yang akan bekerja sama dengan kita menghubungi jika beliau tidak jadi mengadakan meeting diluar karena mengingat jarak kantor ini lebih dekat. Jadi mereka memutuskan akan datang kemari dan membicarakan kerjasama disini, di kantor ini" kata Lia menjelaskan dengan baik.


"Oke, baiklah. Jam berapa mereka akan sampai" tanya Devan.


"Menurut perkiraan akan sampai dalam sepuluh menit lagi, pak".


"Kenapa mendadak sekali" kata Devan terperangah karena kaget. "Baiklah, beritahu karyawan lobby untuk melakukan penyambutan kedatangan mereka dengan baik" lanjutnya meminta Lia untuk melakukan tugas yang diminta. Kini pandangannya beralih ke Ronald, "Sambutlah mereka dan persilahkan menuju ruang meeting, Sementara aku akan bersiap" katanya ke Ronald.


"Baik, pak" jawab Ronald.


Ronald bergegas turun ke bawah membawa setumpuk berkas dan menyambut dua tamu yang datang, mereka adalah pasangan lelaki dan perempuan muda. Ronald mempersilahkan mereka langsung menuju ruang meeting yang letaknya di samping lobby.


"Selamat siang, pak Devan" sapa seseorang laki-laki berdiri menyapa Devan yang baru saja memasuki ruang meeting.


"Siang, pak" jawab Devan senyum sambil mengulurkan tangannya dan dibalas oleh laki-laki itu.


"Mari silahkan duduk kembali, pak" kata Devan.


"Terimakasih, pak" jawab lelaki itu dan kemudian duduk kembali di kursinya.


"Begini pak Devan, saya disini ditugaskan oleh direktur untuk datang lebih awal menyampaikan beberapa persyaratan kerjasama yang akan perusahaan kita jalani" kata laki-laki itu


"Oo begitu... jadi kapan direktur anda akan sampai kemari?" tanya Devan


"Kemungkinan sebentar lagi, pak" jawabnya dan Devan hanya manggut-manggut saja.


"Begini, pak. Ada beberapa persyaratan yang harus kita sepakati. Mengingat profit yang akan dihasilkan akan sangat besar terutama bagi perusahaan anda, direktur kami memberikan satu permintaan yang harus anda setujui sebelum kerjasama berlangsung"


"Permintaan? Apa maksudnya? Bukankah dari awal kita tidak pernah menyinggung soal ini" tanya Devan mulai curiga.

__ADS_1


"Maaf kalau soal itu saya hanya menyampaikan pesan dari beliau saja, pak. Bagaimana?"


"Baiklah, apa persyaratannya?" tanya Devan. namun rasa penasarannya terhenti saat ponsel di sakunya bergetar. Devan mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ada nama istrinya tertulis di layar ponselnya.


"Maaf, sebentar" pamit Devan lalu keluar ruangan untuk mengangkat telepon.


"Hallo, sayang. Iya aku melihatmu." tanya Devan setelah mengangkat panggilannya. aja sudah tahu keberadaan istrinya yang sedang berdiri di samping pintu lobby.


Vania menoleh ke kanan dan kiri memastikan posisi suaminya. "Oo... oke" jawabnya saat sudah mengetahui dimana suaminya berada.


Devan melebarkan senyumnya dan berjalan mendekati Vania. "Kenapa cuma berdiri disana sih yang"


"Habisnya karyawannya semua baru, nggak ada yang aku kenal" jawab Vania melirik ke dua petugas lobby.


"Maaf ya, sayang. Aku jadi merepotkanmu" kata Devan mengambil map dari tangan istrinya.


"Nggak apa-apa, mas. Itung-itung aku sekalian keluar biar nggak jenuh"


"Ya sudah, jangan langsung pulang. Ikut aku sebentar di ruang meeting"


"Nggak bisa gitu lah, mas. Nanti aku ganggu kerjaan kamu. Aku tunggu di ruanganmu saja" tolak Vania karena tak ingin mengganggu pekerjaan suaminya.


"Enggak apa-apa, yang. Udah ayo ikut aku" ajak Devan menarik lembut tangan istrinya melewati lobby, membuat para petugas lobby saling berbisik melihat kedekatan mereka.


Devan dan Vania masuk ke ruang meeting. Ia menarik satu kursi untuk tempat istrinya duduk dan kemudian ia sendiri kembali duduk di kursi yang sebelumnya.


"Maaf, saya harus menunda sebentar tadi karena harus mengambil map yang ketinggalan. Oo iya perkenalkan ini istriku, namanya Vania" kata Devan memperkenalkan istrinya pada para tamu.


"Senang berkenalan dengan anda, nona. Saya tidak menyangka, anda memang benar-benar sangat cantik. Tidak salah banyak yang mendambakan untuk memiliki nona" kata tamu wanita sambil mengulurkan tangan.


Devan mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu. Ia mulai merasa aneh dengan kedatangan kedua tamunya. Sedang Vania yang gagal.mencerna perkataan wanita itu hanya tersenyum dan membalas uluran tangan wanita itu.


Drttt....drttt...drttt....


Suara getar ponsel milik lelaki itu membuatnya mengangkat panggilan.


"Baik boss" jawabnya pada ponsel yang ia letakkan di telinganya yang kemudian setelah itu ia mengembalikan ponselnya di tempat semula.


"Permisi, pak. Pak direktur sudah sampai di depan, saya akan menyambut beliau terlebih dahulu"

__ADS_1


"baik, pak. silahkan" jawab Devan tetap ramah mesti hatinya dilingkupi penasaran akan persyaratan yang diajukan oleh direktur Galileo Corporation itu.


__ADS_2