Cinta Vania

Cinta Vania
Terus saja Membantah perkataanku


__ADS_3

Tak lama kemudian Maya mendapatkan panggilan dari Ronald seperti yang telah dipesankan oleh Devan.


Vania pun menuju ruangan Presdir sambil membawa sembarang berkas untuk dijadikannya alasan.


Vania masuk ke ruangan Devan setelah mendapatkan perintah dari pemiliknya.


"Kak..." panggil Vania menatap bingung ke suaminya karena melihat beberapa makanan terhidang di atas meja sofa.


"Kemarilah" panggil Devan sambil menepuk sofa di sampingnya.


Vania meletakkan berkas yang dibawanya diatas meja kerja Devan dan kemudian dia duduk di samping suaminya.


"Ada acara apa ini" tanya Vania bingung


"temani aku makan siang ya" pinta Devan


"Huh? kakak belum makan siang? jangan bilang tadi meneleponku sebenarnya karena ingin mengajakku makan siang" tanya Vania merasa bersalah.


Devan tersenyum lembut, "bisa dibilang seperti itu"


"Maaf ya kak..." kata Vania lirih. Ia merasa begitu bersalah karena sudah mengabaikan statusnya sebagai seorang istri. Ia lupa bahwa kini ada orang lain yang juga harus ia perhatikan.


"Hey,,, kenapa kau ini... Sudahlah, aku tidak apa-apa" katanya berusaha menghibur sambil mengelus rambut istrinya. Jujur ia memang cukup kecewa. Namun ia tidak ingin kekecewaannya itu membuat Vania semakin tertekan menjadi istrinya.


Vania mulai bisa tersenyum setelah mendapatkan pengertian dari suaminya.


"Apa kau akan terus tersenyum dan membiarkanku mengambil makanan sendiri?" tanya Devan menggoda istrinya.


"Eh iya maaf, aku akan mengambilkan makanan untukmu" kata Vania.


Devan senang sekali menggoda istrinya yang begitu polos. Wanita itu tampak menggemaskan saat merasa gugup dan malu.


Devan mengambil piring berisi makanan dari tangan istrinya. Ia senang Vania mau belajar melayaninya meski baru sebatas mengurus makanannya.


Vania memperhatikan Devan memakan makanannya dengan lahap karena jam makan siangnya yang sudah molor lebih dari satu jam. Ia tersenyum senang. Ya, ini adalah pertama kalinya ia memposisikan dirinya sebagai seorang istri


"Mau?" tanya Devan menawarkan makanan ke Vania karena melihat istrinya itu yang sejak tadi terus memperhatikannya makan.


Vania hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.


"Untukmu saja, aku sudah kenyang" katanya lembut.

__ADS_1


Vania membereskan sisa makan Devan. Ia ingin membawa piring kotor bekas makan Devan ke pantry lantai tersebut.


"Sudah biarkan saja, nanti biar aku minta orang pantry untuk mengambilnya" kata Devan


"Tapi ini kotor. Aku takut nanti ruanganmu banyak serangga"


"Kamu mau orang pantry mencurigaimu?" tanya Devan dan Vania hanya menggeleng pelan.


"Ya sudah biarkan saja disini" lanjut Devan.


"Apa ada lagi yang harus ku lakukan?" tanya Vania


"Kamu tidak suka bersamaku disini?" tanya Devan dengan tatapan sinis karena sikap istrinya seakan ingin cepat-cepat pergi dari sana.


"Bukan begitu, tolong jangan salah paham" jawab Vania cepat. Ia tidak ingin suaminya itu berpikiran yang bukan-bukan tentang dirinya.


"Lalu?"


"Aku hanya takut pak Romi akan mencariku"


"Beliau tidak akan mencarimu, aku menugaskannya untuk menggantikanku bersama Ronald mengurus pertemuan dengan klien dari London" kata Devan santai.


"Maksudmu, bukankah itu begitu penting? kenapa kau harus meminta pak Romi untuk menggantikanmu?" tanya Vania yang merasa aneh.


"Aku makin tidak mengerti" kata Vania bingung.


"Sudahlah, lupakan" kata Devan santai, ia tidak ingin membahas masalah pekerjaan dengan istrinya saat itu. Terlebih klien yang dimaksud adalah papanya Alline. Ia yakin betul lelaki tua itu akan menghadiri pertemuan dengan mengajak putrinya. Ia merasa tidak nyaman mengingat perlakuan Alline tempo hari saat bertemu dengan Vania.


"Lalu apa yang harus ku lakukan disini? tanya Vania


"Kau tidak perlu melakukan apapun, cukup diam temani aku" kata Devan tersenyum menggoda.


"Isshhh...apa aku harus jadi patung yang dipajang disini, huh?" tanya Vania kesal karena menyadari Devan terus saja menggodanya.


"ya sudah kalau tidak mau, kau bisa kembali saja ke ruanganmu dan jangan pikirkan aku" kata Devan kecewa.


"Ceh... kenapa kakak jadi ngeselin gini sih" desis Vania.


"kamu yang terus saja membantah semua perkataanku" Kata Devan semakin kesal.


"iya maaf, baiklah" Vania mulai mengalah. Ia tidak ingin berdebat panjang dengan suaminya yang ia rasa semakin menunjukkan sikap manja dan posesifnya.

__ADS_1


"ya sudah, pergilah... aku tidak ingin menahan seseorang hanya karena egoku" kata Devan. Tak disangka, bukannya emosinya mereda, Devan justru semakin marah membuat Vania merasa takut dengan sikapnya yang berubah dingin.


"Kak.." panggil Vania


"Pergilah... pulang nanti aku akan menunggumu di dalam mobil" Usir Devan dengan ekspresi yang dingin. Ia cukup kecewa dengan sikap Vania hari ini. Ia sengaja mengusir Vania dari ruangannya karena tidak ingin berdebat panjang dan membuatnya semakin marah dan kesal.


Mata Vania mulai berkaca-kaca. Ia mengambil berkas yang tadi dibawanya sebagai alasannya tadi dan berjalan ke arah pintu dengan lemas. Gadis itu mudah sekali rapuh dan menangis. Sebenarnya Devan tidak tega memperlakukan istrinya seperti itu. Tapi sikap Vania hari ini sungguh membuatnya kesal dan kecewa. Ia hanya ingin istrinya itu menyadari kesalahannya dan belajar untuk memperbaiki sikapnya.


Meski dirinya kini sedang marah, Devan tetap tak sampai hati membiarkan istrinya pulang sendiri.


Vania kembali ke ruangannya dengan wajah yang terlihat sedih dan muram.


"Van, kamu kenapa? apa pak Devan marahin kamu?" kata Maya menghampiri Vania.


Vania hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu? kenapa wajahmu ditekuk gitu?"


"Kepalaku hanya pusing mbak, aku ingin istirahat sebentar boleh?"


"Ya sudah kamu istirahat disana saja dulu, lagipula pak Romi juga sedang keluar bersama pak Ronald, beliau bilang akan kembali agak sore" kata Maya sambil menunjuk ke ruang istirahat yang ada di sebelah pantry lantai itu.


Vania mengangguk. Ia meletakkan berkas yang dibawanya ke atas meja dan berjalan menuju ruang istirahat.


Di dalam ruangannya, Devan mendengus kesal setelah kepergian Vania. Ia tak menyangka akan sesulit itu membimbing wanita yang dicintainya.


*****


Tiba waktunya jam kantor berakhir. Semua karyawan bersiap-siap untuk pulang. Begitu pula Vania, wanita itu bersiap untuk turun ke bawah menemui suaminya yang diyakininya sudah menunggu di dalam mobil.


Vania menuju ke arah lobby yang menjadi ruang utama gedung kantor menggunakan lift bersama para karyawan lain. Tak lupa ia juga menyapa para karyawan yang berpapasan dengannya. Selain cantik, Vania memang dikenal sebagai pegawai muda yang humble dan ramah pada siapapun. Tak heran hampir semua pegawai di SA Group mengenalinya.


Vania berjalan tergesa-gesa saat melewati lobby, ia tidak ingin suaminya terlalu lama menunggu.


"Vania.." teriak seseorang memanggil menghentikan langkah kakinya.


"David..." kata Vania setelah menoleh


"Bagaimana keadaanmu? aku pikir kamu masih ijin" kata David yang sudah mendekat.


"Emm... Aku baik-baik saja, maaf ya David, kita ngobrol lain kali saja, aku sedang buru-buru" kata Vania mengakhiri percakapannya.

__ADS_1


Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang terus mengeraskan rahangnya memperhatikan kedekatan mereka.


__ADS_2