Cinta Vania

Cinta Vania
Jangan Salah Paham Dulu


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Devan saat Vania beranjak turun dari tempat tidur .


"Mau mandi, aku nggak mungkin seperti ini terus" katanya sambil melihat tubuhnya sendiri yang hanya tertutup selimut.


"Tunggu, kita mandi bareng" kata Devan setelah mengenakan kembali boxernya.


"iih nggak mau, nanti lama" tolak Vania. Ia yakin jika mandi berdua akan memakan waktu yang lama karena suaminya yang tak kenal lelah itu pasti akan menerkamnya lagi dan lagi.


"Sebentar aja, sayang. Janji nggak bakal lama. Setengah jam deh" Devan memelas dan memohon agar permintaannya dikabulkan.


"Beneran ya, setengah jam doang. Dan ingat, cuma mandi" Vania benar-benar tidak ingin mengukur waktu untuk segera kembali ke ruangannya.


"Iya, sayang" jawab Devan.


Vania berjalan lebih dulu menuju kamar mandi. Sedang Devan yang berjalan di belakangnya nampak bahagia dengan tersenyum menyeringai penuh kemenangan.


Di dalam kamar mandi, seperti dugaan Vania sebelumnya, Devan kembali meluncurkan aksinya. Lelaki itu seperti tak ada bosannya menikmati tubuh istrinya.


Vania keluar dari kamar mandi dengan wajah manyun. Ia merasa kesal karena Devan mengerjainya. Yang semula hanya mandi, ternyata Devan mengajaknya kembali bercinta. Bahkan setengah jam menjadi satu jam lebih. Hingga mereka harus sholat Dzuhur di waktu yang cukup mepet.


"Kita cari makan yuk" ajak Devan karena sudah melupakan makan siang mereka.


"Nggak mau. Aku sebel sama kamu. Aku mau balik ke ruanganku aja" kata Vania ketus.


"Yakin? Dengan rambut yang masih basah gini?" tanya Devan sambil menyentuh rambut Vania.


Vania mencebikkan bibirnya karena kesal dengan ulah suaminya. "Makanya bantu keringin" pintanya ketus.


Devan menahan tawa mendengar omelan Vania. Ia memeluk erat tubuh itu dan melayangkan sebuah kecupan mesra di bibir Vania.


"Kamu ini semakin galak semakin menggemaskan" katanya sambil mencubit kedua pipi Vania


"iih...sakit" amuk Vania sambil melepaskan tangan Devan dari pipinya membuat Devan semakin tertawa.


"ya sudah sini handuknya" Devan mengambil handuk kecil dari tangan Vania dan mendudukkan Vania di tepi tempat tidur agar ia lebih mudah mengeringkan rambut istrinya dengan posisi Devan yang berdiri.


"Udah" kata Devan menyudahi aktifitasnya saat melihat rambut istrinya mulai mengering.


"Makasih ya" jawab Vania sambil meraih handuk dari tangan Devan. Ia mencium pipi kanan Devan sebagai tanda terimakasihnya.


"Mancing-mancing nih?" tanya Devan dengan senyum khasnya.


"iih... enggak lho, aku cuma mau makasih aja" jawab Vania kesal karena suaminya itu tak berhenti menggodanya.

__ADS_1


"Bercanda, sayang.." Kata Devan mencubit hidung Vania sambil terkekeh.


"Sumpah iih... usilnya kumat lagi" Vania memanyunkan bibirnya karena kesal akan tingkah suaminya yang mulai usil seperti dulu waktu masih sekolah.


"Enggak sayang, udah ayo. Mau makan apa?" Devan merangkul pundak Vania mengajaknya keluar makan siang.


"Pengen bakso" rengek Vania manja.


"Iya boleh" jawab Devan yang membuat wajah Vania senang dan bersemangat karena bisa menikmati makanan favoritnya.


"Tapi Mas kebawah dulu aja ya, aku mau ke ruanganku sebentar taruh berkas yang ku bawa tadi sama ambil ponsel"


"Oke, aku tunggu di mobil ya" kata Devan yang diangguki oleh Vania.


Mereka memasuki lift yang berbeda setelah perdebatan singkat karena Vania tidak ingin orang lain mencurigainya.


Setibanya di meja kerjanya, Vania menjadi bahan ledekan Maya karena melihat muka sahabatnya yang tampak lebih segar meski tanpa make up.


"Tahu deh yang habis ehem-ehem. Ketahuan banget rambut baru kering sama lipstick yang memudar. Ya Tuhan... bikin Jiwa jombloku meronta-ronta" celetuk Maya yang melihat Vania baru datang sambil mengipas-ngipaskan kedua tangan di wajahnya.


"Nanti aku salamin sama security depan yang masih jomblo" kata Vania terkekeh.


"ih ogah... masa iya ngenalin ama yang lebih muda gitu, aku nggak level ama berondong tahu" jawab Maya manyun membuat Vania semakin tertawa.


"Eh mau kemana lagi?" tanya Maya dan Vania menoleh


"Diajakin mas Devan makan siang mbak... tadi nggak sempet makan, hihihi" jawab Vania meringis menahan tawa.


"hooo.... dasar pengantin baru" gerutu Maya.


Setibanya di warung bakso langganan Vania, Devan memesan dua mangkok bakso untuk dirinya dan Vania.


Tak lama kemudian bakso pesanan mereka datang. Vania yang antusias karena sudah sebulan lebih tidak menikmati bakso langsung menyambar sendok sambal yang ada di depannya.


Baru satu sendok sambal yang Vania tuang ke mangkoknya, dengan cepat Devan menahannya agar tidak melakukannya lagi.


"Kenapa?" tanya Vania bingung.


"Sesendok, cukup"


"ih enggak enak, mas" bantah Vania manja


"Kalau nggak mau aku pesanin yang baru. Satu sendok atau enggak sama sekali?" jawab Devan tegas memberi pilihan pada Vania.

__ADS_1


"Mas...." Vania memelas


"Terlalu banyak makan pedas nggak baik buat kesehatanmu, sayang" desak Devan menasehati istrinya agar menurut.


Dengan terpaksa Vania menurut mengikuti perintah suaminya daripada harus dipesankan baru dan tidak ada sambal sama sekali.


"Hari ini nggak ada meeting sama wanita London itu mas?" tanya Vania di sela-sela makannya.


"Maksud kamu Stella?"


"Siapa lagi" jawab Vania ketus.


"Kamu cemburu ya?" tanya Devan menahan senyumnya.


"Kepedean banget" jawab Vania dengan memanyunkan bibirnya.


"Enggak usah malu-malu, sayang. Bilang aja iya, aku justru senang lho itu artinya kamu cinta sama aku"


"Iya...iya... puas? Sekarang jawab dulu pertanyaanku"


Devan terkekeh karena istrinya terlihat kesal, " udah tadi pagi, yang. Makanya tadi mau ambil ponselku yang tertinggal di mobil" kata Devan sambil makan.


"Kalian meeting di luar? Dan mas Ronald nggak ikut?" tanya Vania menatap suaminya intens.


"Aku meminta Ronald untuk meninjau proyek di kantor cabang. Jadi aku harus menemui Stella sendiri".


"Menemui? Di hotelnya?" tanya Vania menatap tajam suaminya.


Devan mengangguk ragu-ragu takut Vania marah. Dan benar saja, Vania langsung meletakkan sendok dan garpunya diatas mangkok baksonya. Ia merasa kesal dan tak lagi berselera makan.


"Jangan salah paham dulu, sayang. Kami ketemuan di kantin hotelnya. Itupun sama sekretarisnya juga"


"kamu nggak bohong, kan?"


"Aku bersumpah, yang. Aku nggak akan bohong sama kamu. Percayalah... Aku hanya mencintaimu, aku nggak mungkin menghianatimu"


"Aku hanya ragu setelah foto-foto itu" kata Vania berubah sedih dan menunduk.


"Yang, Lihat aku" pinta Devan membuat Vania mengangkat wajahnya. Ia menggenggam kedua tangan Vania. "Apapun yang kamu lihat atau dengar dari orang lain, semuanya nggak benar. Jangan pernah percaya selagi kamu tidak melihatnya sendiri" imbuhnya


Vania mengangguk pelan. Ia tersenyum berusaha untuk menyingkirkan keraguan dalam benaknya.


"Ya sudah ayo makan lagi" kata Devan melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Sorenya, Vania pulang dari kantor bersama suaminya. Seperti biasa Devan harus sampai di mobil terlebih dahulu menunggu istrinya agar tidak ada yang mencurigai kebersamaan mereka.


__ADS_2