Cinta Vania

Cinta Vania
Aku Sayang Kamu


__ADS_3

FLASHBACK ON


Vania memasuki ruangan dimana Ditya dirawat. Tak lupa ia menggunakan perlengkapan khusus yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


Belum sampai di dekat pembaringan kekasihnya, air mata Vania sudah membasahi pipinya kembali. Kakinya terasa berat untuk mendekat. Ia takut semakin tidak bisa mengontrol perasaan sedihnya. Ia membiarkan mulut dan hatinya untuk mengucapkan kalimat istighfar sebagai cara untuk menenangkan hatinya.


Setelah merasa sedikit mampu berkawan dengan keadaan, ia mulai berjalan mendekati Ditya. Ia duduk di kursi samping ranjang. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah pucat dan digenggamnya tangan kekasihnya itu.


"Bangun Dit, kamu harus sembuh, kamu nggak boleh tinggalin aku" kata Vania tanpa henti menangis.


"kamu udah janji akan terus nemenin aku sampe nanti, kamu juga janji akan membawa orang tua kamu ke rumahku setelah lulus nanti. Tapi kenapa kamu sekarang kaya gini Dit" imbuh Vania


"hiks...hiks..aku sayang sama kamu, bukankah kamu juga seperti itu? Jika iya, bangunlah..buka matamu.. kita akan menghadapi ini semua sama-sama, aku akan meminta pada papa untuk membantu pengobatan terbaik untukmu" lanjutnya lagi terisak.


Vania terus menggenggam lembut jari jemari kekasihnya. Tiba-tiba monitor pendeteksi jantung menunjukkan ketidakstabilan kondisi pasien. Vania terkejut mendengar suara dari monitor itu. Ia memanggil dua perawat yang sedang berjaga saat itu.


Para perawat segera memasuki ruangan Ditya. Mereka memberikan penanganan sebisa kemampuan mereka. Salah satu dari mereka menekan tombol di dekat ranjang pasien untuk menghubungi dokter karena saat itu dokter jaga sedang ijin keluar sebentar untuk mengambil berkas di ruang khusus dokter.


Tak lama kemudian datanglah empat dokter dari arah lift yang berjalan sangat cepat menuju ruang ICU.


Orang-orang yang berada di luar ruangan merasa curiga dengan kedatangan beberapa dokter itu. Mereka mulai membuat praduga sendiri.


Vania diminta oleh suster untuk menunggu di luar karena dokter akan memeriksa kondisi pasien. Vania menangis tersedu-sedu saat keluar dari pintu, membuat yang lain berasumsi buruk pada Ditya.


Vania menceritakan kondisi Ditya, membuat bu Wati menangis histeris.


Hingga dokter Niko dan dokter Ricky keluar dari ruangan dengan wajah sedih setelah setengah jam lebih berada di dalam.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


Proses pemakaman jenazah Ditya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Satu persatu para pelayat mulai meninggalkan rumah duka. Hanya tersisa keluarga Vania, bu Dewi, Devan dan beberapa kerabat dekat yang masih berada di rumah Ditya.


Bu Wati masih menangis.Ia ditemani oleh para wanita yang berada di rumah itu Meski ia sudah mulai ikhlas dengan kepergian putranya, ia tak dapat memungkiri perasaannya yang begitu terpukul. Sedang para kaum laki-laki, mereka lebih memilih untuk berkumpul dan duduk di kursi yang telah disediakan warga di halaman rumah yang sudah dipasang tenda. Mereka sibuk dengan obrolan masing-masing.


Devan mendekati ayahnya dan duduk di kursi sampingnya. Ia ingin menjadi pelipur lara bagi orangtua barunya setelah kepergian Ditya.


"bapak,,," panggil Ditya membuat pak Yanto menoleh


"bapak makan dulu ya sama ibu, dari tadi kalian belum makan apa-apa" lanjutnya


Pak Yanto hanya menggelengkan kepala pelan. mulutnya seakan terkunci untuk bersuara.


"pak, Devan nggak mau kalau bapak sama ibu sampai sakit. ya???" ajak Ditya


"baiklah kalau bapak nggak mau mengikuti apa yang Devan minta. mungkin kehadiran Devan disini tidak berarti. Devan pamit dulu", Devan pura-pura mengancam bapaknya. Ia berdiri dari duduknya. Ia berbalik badan dan hendak melangkah, namun tiba-tiba langkahnya berhenti saat pergelangan tangannya di pegang oleh pak Yanto. Devan tersenyum penuh kemenangan karena caranya untuk meluluhkan hati bapaknya berhasil. Ia menoleh ke belakang menghadap bapaknya.


"jangan pergi nak, tinggal kamu harapan kami satu-satunya. Baiklah, bapak dan ibu akan makan" katanya pelan.


Devan membawa pak Yanto memasuki rumah menemui bu Wati untuk mengajaknya makan.


Selama mereka bertiga meninggalkan para kerumunan kerabat. Bu Karina mencoba berbicara pada bu Dewi, Ia ingin menanyakan tentang hubungan antara mereka dengan keluarga Ditya yang belum sempat ia tanyakan karena keadaan yang sangat genting.


"jeng, boleh tanya sesuatu?" tanya bu Karina


"iya"

__ADS_1


"maaf sebelumnya, kenapa Devan bisa akrab sekali sama orangtua Devan. Kalian masih bersaudara?" tanya bu Karina penasaran.


Bu Dewi tersenyum lembut mendengar pertanyaan sahabatnya. "Devan adalah anak angkat mereka. Meski baru beberapa hari, tapi mereka bertiga saling merasa nyaman. Karena itulah mereka sangat dekat. Bahkan para warga sini pun sepertinya juga sudah pada tahu"


"oo....begitu ya" kata bu Karina manggut-manggut mengerti.


Kemudian bu Dewi beralih menatap Vania yang sedari tadi diam dan tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia hanya terus diam dan melamun. Bu Dewi sesekali memperhatikan gadis yang menjadi tambatan hati putranya itu. Tampak jelas wajahnya menunjukkan perasaan yang begitu kacau. Bu Dewi merasa kasihan pada Vania. Ia mendekat dan duduk disamping Vania yang tangannya terus digenggam oleh mamanya seolah mentransfer kekuatan pada putrinya untuk bisa menerima kenyataan.


"Nak, yang sabar ya, kalau ingin menangis jangan di tahan... nanti ini sakit, menangislah.." kata bu Dewi menasehati dengan tangan kiri mengelus rambut panjang Vania yang tertutup sebagian selendang yang hampir jatuh di pundaknya dan tangan kanan menyentuh lembut dada kiri Vania.


Vania hanya menoleh dengan raut wajah yang datar. Ia seolah tidak bisa mengungkapkan kesedihannya. Bu Dewi merasa kasihan dengan gadis cantik itu. Tanpa disadari ia menitihkan air mata karena tidak tega melihat keadaan Vania.


Bu Dewi memberikan kode pada sahabatnya untuk membawa Vania pulang dan beristirahat. Mungkin dengan begitu bisa sedikit mengurangi beban pikirannya. Bu Karina pun mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Mereka sekeluarga memutuskan pamit sekembalinya pak Yanto dan bu Wati keluar dari meja makan.


Para kerabat jauh juga mulai membubarkan diri dari rumah duka.


Hanya tertinggal bu Dewi dan Devan yang masih ada disana. Tak lama kemudian, bu Dewi juga memutuskan untuk pamit.


"Devan, kau tetaplah disini temani bapak dan ibumu, nanti bunda akan mengirim seseorang untuk mengantar baju gantimu" kata Bu Dewi sebelum memasuki mobil. Devan mengangguk dan mencium punggung tangan bundanya.


Devan kembali masuk rumah setelah mobil yang dikendarai bundanya semakin menjauh dan tak terlihat oleh matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


jangan lupa like dan vote nya


salam sayang selalu,😊😊😘

__ADS_1


__ADS_2