
POV DITYA
Aku melajukan motorku menuju rumah Vania untuk menjemputnya. Namun sebelumnya aku harus meminta ijin terlebih dahulu dengan papanya. Sesampainya aku didepan pagar rumahnya, aku menekan bel diluar pagar yang tak lama dibuka oleh asisten di rumahnya yang ku tahu namanya adalah Bi Inah. Aku dipersilahkan untuk masuk dengan motorku sampai di parkiran. Setelah memarkirkan motor maticku, aku berjalan mengikuti bi Inah menuju pintu utama rumah kekasihku.
"silahkan masuk den, bapak sudah menunggu" kata bi Ina mempersilahkan.
Aku masih mengikuti langkah bi Inah menuju ruang tamu.
"monggo duduk den, saya panggilkan bapak dulu"
"makasih bi" jawabku sambil duduk di sofa menunggu papa Vania datang
Bi Inah meninggalkanku pergi untuk memanggil majikannya. aku mengambil ponselku untuk mengirim pesan ke Vania untuk memberitahukan kedatanganku. Selang lima menit, papa Vania datang menemuiku. Aku segera berdiri dan menyalami tangannya. kemudian kembali duduk.
"mau kemana?" tanya papa Vania tanpa basa-basi
"main ke taman kota aja oom" jawabku sesopan mungkin
"jangan bawa pulang putri oom terlalu sore ya.. atau oom tidak akan pernah memberikan ijin lagi" kata oom Firman mencoba memperingatkan
"baik oom"
"sudah siap pa?" tanya tante Karina yang tiba-tiba datang tanpa ku tahu. "eh, ada nak Ditya, Vania udah tahu kamu datang?" lanjut tante Karina.
"sudah tante" jawabku sambil mengangguk.
"ya sudah...saya buru-buru mau nganter tantemu belanja dulu, nanti hati-hati kalau berangkat" lanjut oom Firman
"iya oom"
Oom Firman dan istrinya berlalu keluar pintu rumah untuk pergi.
POV DITYA END
*****
__ADS_1
Ditya dan Vania menaiki motor menuju taman kota. Mereka berjalan-jalan dan bersenang-senang menikmati permainan yang ada disana.
Hari mulai siang, setelah dirasa mulai lapar dan lelah, mereka melajukan motor menuju ke sebuah rumah makan yang cukup sederhana namun sangat laris karena makanannya dikenal sangat enak dan cukup ramah di kantong. Ditya memarkirkan motornya dengan rapi di tempat yang sudah disediakan. Kemudian mereka memasuki rumah makan itu dan duduk di salah satu meja yang kosong. Pelayan menghampiri mereka untuk mencatat pesanan . Kemudian pelayan itu kembali lagi setelah mendapatkan pesanan.
Tanpa mereka saling sadari di ujung rumah makan ada Devan yang juga sedang berada disana.
"aku ke toilet dulu ya yang" ijin Ditya dan Vania mengiyakan.
Devan yang tengah menunggu kedatangan temannya sedang fokus menatap layar ponselnya. Setelah mendapatkan pesan dari temannya yang menggagalkan janji karena ada urusan penting, Devan memutuskan untuk memesan makanan dulu sebelum pulang. Ia menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan pelayan. Tak sengaja matanya menangkap sesosok gadis yang sangat ia kenal dengan jelas sedang duduk sendiri memegang ponselnya. Dia tertegun dam terus menatap gadis itu. Ya, dia adalah Vania. Hingga pelayan datang menghampirinya.
"maaf mas, mau pesan apa" tanya oelayan membuyarkan lamunannya
"eh iya mbak, saya mau sup buntut sama jus jeruk ya" kata Devan menyebutkan pesanan makanannya
"ada lagi mas?" tanya pelayan itu dan aku menggelengkan kepala. "baik tunggu sebentar ya mas" lanjutnya lagi.
Pelayan itu pergi menyiapkan pesanan.
Devan beranjak dari kursi hendak menghampiri Vania yang duduk sendiri. Namun baru melangkahkan kakinya dua langkah, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena melihat Ditya datang menghampiri Vania. Devan kemudian kembali duduk dan mengamati diam-diam kedua sejoli itu dari jauh.
"maaf ya lama..ngantri banget soalnya, sampai makanan datang" kata Ditya setelah melihat pesanannya sudah ada diatas meja. Vania tersenyum. Mereka menikmati makanan sambil mengobrol dan bercanda.
Buru-buru Devan menghabiskan makanannya karena tidak ingi semakin sakit melihat orang yang dicintainya bersama dengan lelaki lain. Ia bergegas menuju kasir untuk membayar dan pergi meninggalkan rumah makan itu. Devan masuk kedalam mobil dan tidak langsung menyalakan mesinnya. Ia memukul kemudi dengan telapak tangannya dan kemudian memundukkan kepalanya tepat diatas kemudi.
setelah cukup lama, Devan mengangkat kepalanya dan mencoba menguatkan hatinya. "gue harus siap dengan semua ini" katanya kemudian menyalakan mesin dan menekan gas. Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia berusaha cukup kuat menenangkan fikirannya agar tetap fokus mengemudi.
****
Ditya mengantarkan Vania pulang tepat waktu sesuai janjinya. Mereka datang ketika mama dan papa Vania sedang duduk mengobrol di teras. Kedatangan Vania dan Ditya disambut dengan seulas senyum orangtua Vania. Mereka senang perintahnya didengarkan oleh kekasih dari anak gadisnya.
Vania menghampiri orang tuanya dan diikuti Ditya di belakangnya.
"maaf oom, tante.. baru bisa anter Vania pulang" kata Ditya sopan. Orangtua Vania tersenyum lembut dan menganggukkan kepala. Mereka merasa bahwa Ditya anak yang baik dan mampu menjaga putrinya.
"kamu nggak mampir dulu nak?" tanya mama Vania
__ADS_1
"kapan-kapan aja ya tante, saya mau langsung pulang saja"
"oo ya sudah kamu hati-hati ya"
"iya oom,, tante,, saya permisi pamit" pamit Ditya.
Ditya membalikkan badan dan berjalan mengambil motornya yang terparkir setelah mendapat jawaban dari orangtua Vania.
Selepas kepergian Ditya, Vania dan orangtuanya masuk kedalam rumah. Mereka menuju ruang keluarga dan bersantai disana.
"diajak kemana aja tadi sayang?" tanya mama menginterogasi putrinya
"jalan-jalan main aja ke taman kota ma, sama makan siang tadi"
"kamu senang?" tanya mamanya dan Vania menganggukkan kepala cepat sambil mengulas senyuman.
"anak gadis papa udah kenal jatuh cinta aja nih.." goda Adit yang tiba-tiba datang dan duduk disamping papanya
"ih apaan sih" jawab Vania ketus dan melempar bantal sofa kearah kakaknya
Orang tua mereka hanya menggeleng melihat tingkah anak-anaknya yang sering ribut saling mengejek.
"mama...." rengek Vania mengadu
"ya elah... udah punya pacar tapi masih kek anak TK" ejek Adit mengulum senyum menahan tawa
"biarin" jawab Vania ketus membuat Adit semakin terkekeh
"sumpah nih telinga geli tahu dengernya" kata Adit masih terkekeh
"Dit...." Sahut Papa melerai pertengkaran mereka. Adit mulai Diam namun masih menahan tawa.
"ya sudah kamu mandi ganti baju dulu sana" usir halus mama ke Vania karena sejak pulang dari luar masih mengenakan pakaian yang sama.
Vania beranjak dan berjalan menuju kamarnya. Dia meletakkan sling bagnya di atas meja rias. Diambilnya handuk dan melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Cukup lama Vania berkutat di kamar mandi. Ia membersihkan seluruh bagian tubuhnya dengan air dan sabun tanpa terlewatkan.
Vania keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan di badan dan rambutnya yang basah. Ia menuju almari untuk mencari pakaian rumahannya.