
Vania kemudian mencoba diam sebelum menyimak penjelasan dari sahabatnya.
"sebenarnya Kak Devan suka sama elo sudah begitu lama sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu mengenal Ditya. Lebih tepatnya awal ospek kita masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Ya, dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Sayangnya ia tidak percaya diri untuk mengakui dan mengungkapkannya. Sikapnya yang jahil dan usil itu hanya akal-akalannya aja biar bisa dekat sama elo dan mencuri perhatian lo. Mungkin itulah caranya mencintai. Bahkan sampai sekarang ia lebih memilih menutup pintu hatinya dan menyimpannya rapat-rapat meskipun kini orang yang dia sayang kembali sendiri. Saat di London pun, ia tak pernah berhenti buat nanyain keadaan lo dari gue dan kak Andre. Awalnya gue udah paksa dia buat ngungkapin perasaannya ke elo. Tapi sayang selalu ia urungkan karena tidak ingin menyakiti perasaan orang lain yang sedang menjalin hubungan dengan lo. Dan akhirnya yang sekarang gue dengar dari lo, gue seneng dia udah bisa ngeluarin uneg-uneg dalam hatinya kalau dia sayang dan cinta sama lo. Mungkin rasanya lega banget kali ya... Jujur ya Van, sebenarnya gue miris dan kasihan dengan kisah cinta kak Devan. Seseorang yang dinilai begitu sukses dengan kekayaan yang melimpah dan wajah yang nyaris sempurna justru memiliki kisah percintaan yang tidak pernah pasti" jelas Nadya menceritakan tentang Devan.
"jadi lo udah tahu semuanya?"
Nadya mengangguk, "dia ingin gue dan kak Andre ngerahasiain ini semua"
Vania diam tak berkutik. Hatinya begitu sakit membayangkan rasa sakit yang Devan rasakan. Tanpa terasa air matanya membasahi pipinya. Dialah yang justru menyakiti Devan, bukan Devan yang menyakitinya.
Ia semakin merasa bersalah karena sudah marah-marah dan menyakiti hati Devan. Ternyata Devan tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
"lalu apa yang kak Devan katakan saat lo marah-marah itu" lanjut Nadya
"dia cuma ngungkapin perasaannya dan...." diam sejenak, "dia bilang... dia nggak butuh jawaban dan minta maaf sudah menggangguku. dia juga bilang kalau dia akan menjauh dari gue dan nggak bakal ganggu gue lagi, setelah itu dia pergi meninggalkan gue sendiri di ruangannya. "
"apa? dia lebih milih buat ninggalin lo? terus lo nggak ketemu lagi?" tanya Nadya
Vania menggelengkan kepalanya. " gue udah kejar dia buat minta maaf. Sayangnya dia udah buruan pergi"
__ADS_1
"gue yakin dia hatinya pasti sakit banget. setelah ini apa lo masih bakal nolak dia?"
"entahlah, gue nggak ngerti... gue cuma takut terus kebayang sosok Ditya"
"Van, lo itu harus bisa lupain Ditya. dia udah bahagia disana. jangan lagi kamu beratkan amalnya dengan kesedihanmu" kata Nadya menasehati.
"justru itu Nad, kehadirannya membuatku terus ingat dengan sosok Ditya. Kak Devan saudara angkat Ditya, Nad. Jika aku harus terus bersamanya, bagaimana aku bisa melupakan Ditya?" tangis Vania kembali pecah.
Nadya memeluk Vania dengan erat. Ia tidak ingin sahabatnya kembali hancur karena kesedihan yang dialaminya.
"aku bisa ngerti sekarang apa alasanmu menolaknya" katanya sambil melepaskan pelukan.
"gue cuma tidak mau menyakiti hatinya jika kami terus dipaksa untuk bersama" kata Vania masih sesenggukan.
"maksud lo?"
"Sebenarnya kak Devan pernah cerita sama gue dan Kak Andre, kalau dia mau bilang ke bokap lo kalau dia sayang sama lo" katanya membuat Vania menatap serius sahabatnya.
"Van, Satu hal yang harus lo tahu. Lo beruntung dicintai orang yang begitu setia selama bertahun-tahun... hanya buat nungguin lo yang nggak pasti. Sementara di luar sana, ia pasti bisa dengan mudah menemukan gadis lain yang tak kalah cantik dari lo. Semua orang tahu siapa dia, lelaki tampan, sukses dan hampir mendekati sempurna dengan statusnya sebagai seorang presiden direktur dan juga pewaris tunggal perusahaan besar SA Group. Perempuan mana yang tidak akan terpikat dengannya. Tapi spa yang dia lakukan, dia tetap memantapkan pilihannya hanya untuk mencintai seorang Vania yang bahkan tidak pernah peduli tentangnya. Jujur gue kagum dengan kesetiaan yang dimilikinya. Dan mungkin alasan itulah yang bikin bokap lo terus maksa agar lo mau terima perjodohan itu, bokap lo cuma ingin ingin putrinya bersama orang yang tepat. Orang yang bisa menyayangi lo dengan tulus sepenuh hati. Dia percaya Kak Devan mampu menjaga dan membahagiakan putrinya" imbuhnya.
__ADS_1
"tapi gue benci perjodohan ini Nad, gue belum mau nikah muda. lagi pula gue masih pengen lulus kuliah dulu, ngejar karir dulu" bantah Vania
"ya masalahnya apa? sekarang banyak kok yang pilih nikah muda. Lo juga bisa tetep ngelanjutin kuliah setelah nikah. Dan gue yakin kak Devan juga nggak akan sekolot itu buat ngelarang lo ngejar karir. Dia pasti akan dukung lo buat gapai cita-cita lo" jelas Nadya
Vania terdiam. Berperang dengan pikirannya sendiri yang menolak mentah-mentah kehadiran Devan. Dia tidak bisa membayangkan kehidupannya jika menolak ataupun menerima perintah papanya.
"Van, lo dengerin gue... terserah setelah ini lo mau gimana, gue juga nggak mau terus maksa lo. Gue sebagai sahabat cuma pengen sesuatu yang terbaik buat lo. Gue yakin kesetiaan Kak Devan mampu membahagiakan lo. Dan soal perasaan, gue yakin nantinya rasa cinta itu akan tumbuh disaat kalian mulai bersama, dan bahkan mampu mengalahkan rasa cinta lo ke Ditya dulu karena adanya sebuah ikatan pernikahan yang sah dan lo bakal bisa ngelupain dia".
Vania mencerna kata-kata Nadya. Mungkin kata Nadya ada benarnya. Tapi dia hanya tidak ingin menjalani hubungan tanpa ada cinta. Karena takut akan menyakiti salah satu pihak.
"ya udah jangan bengong mulu, gue siap-siap mandi dulu kalau gitu, badan gue udah gerah" kata Nadya sambil beranjak menuju kamarnya membuyarkan lamunan Vania.
"Nad" panggil Vania membuat Nadya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang
"gue boleh nginep disini sementara waktu?" lanjutnya meminta ijin
"ya boleh lah... kapanpun lo mau, gue justru seneng ada temennya. Tapi lo harus ijin dulu sama nyokap lo biar dia nggak nyariin, nanti lo ganti pake baju gue aja, itupun kalau mau sih" jawab Nadya.
Vania mengangguk dan tersenyum. Dia mengiyakan perkataan Nadya.
__ADS_1
Setelah Nadya masuk kamar, kemudian ia mengambil benda pipih dari dalam tasnya untuk menghubungi mamanya. Ia hanya belum siap berada di rumah dan melihat sikap acuh papanya yang seolah tidak ingin bertemu dengannya.
Setelah mendapatkan ijin dari mamanya, Vania teringat perkataan Nadya. Ia merasa kasihan dengan cerita Nadya. Meski rasa cinta itu belum tumbuh, hatinya tersentuh dan semakin penasaran untuk mengorek kehidupan Devan lebih dalam. Dia memutuskan akan meminta maaf pada Devan atas perlakuannya siang tadi di kantor.