
Satu hari yang telah mengubah seluruh hidupku, kepergian papa dan pernikahanku.
Dulu waktu aku masih kecil, aku selalu bahagia saat melihat sepasang pengantin yang sedang di mabuk cinta di pelaminan. Dekor dan hiasan pernikahan yang begitu cantik, banyaknya tamu berdatangan, makanan dan minumam yang tersaji lengkap, dan bahkan riasan serta gaun yang begitu memukau.
Aku selalu memimpikan nantinya semua itu aku alami. Aku akan menikah dengan pria yang aku cintai dan mencintaiku. Menjadi ratu dalam sehari. Tampil cantik dan memukau dengan pemandangan yang indah. Duduk dan berdiri di pelaminan menyambut para tamu, meski lelah tapi semua itu begitu menyenangkan.
Tapi tidak, jangankan pesta pernikahan. Aku bahkan tidak bisa merasakan yang dinamakan lamaran, prewedding, atau bahkan pacaran seperti anak muda umumnya.
Aku tak menyangka akan menikah di tengah-tengah musibah yang terjadi. Aku harus memenuhi permintaan papa di saat ia sudah terbujur kaku dan tak lagi bernyawa.
Benar aku mulai jatuh cinta padanya, tapi setelah semua yang terjadi, aku ragu padanya. Aku takut jika nantinya aku hanya akan merasakan kesenangan sementara. Dan dia pergi meninggalkanku untuk wanita lain.
Bukan ini yang ku mau Tuhan,,,
*****
Sepulang dari pemakaman, Ronald menemui Devan yang sudah pulang terlebih dahulu bersama Vania.
Devan menceritakan semua tentang pernikahannya. Ia meminta Ronald untuk membantu mengurus surat-surat nikahnya dengan Vania.
"baik, besok akan segera saya selesaikan" kata Ronald.
"dan tolong urus juga ijin untuk Vania selama seminggu ke depan. Dia tidak mungkin ke kantor dalam keadaan seperti ini"
"baik tuan muda, kalau begitu saya permisi tuan, nona.." Pamit Ronald ke Devan dan Vania.
Malam harinya, semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Adit dan istrinya tetap tinggal karena tidak ingin meninggalkan mamanya. Adit meminta mamanya untuk istirahat agar kesehatannya tidak terganggu. Ia tahu saat berada di rumah sakit wanita itu hanya tidur sebentar saja. Kemudian Ia dan istrinya juga ikut istirahat di kamarnya terdahulu.
Vania meminta waktu pada Devan untuk mengobrol sejenak di ruang keluarga.
"kak, maafin aku, aku belum siap untuk melayanimu sebagai istri yang sesungguhnya. Aku mohon kamu bisa mengerti keadaanku" kata Vania setelah semua orang mulai kembali istirahat karena sudah malam.
Devan mengusap lembut rambut Vania "aku mengerti, aku tidak akan memaksamu...Aku akan sabar sampai waktunya tiba" kata Devan lirih. Ia akan menerima apapun keputusan istrinya.
__ADS_1
"Boleh aku meminta tolong lagi"
"apa?"
"bisakah pernikahan ini kita rahasiakan dulu? Biarkan hanya keluarga dan orang terdekat dulu yang tahu. Aku belum siap menghadapi sikap orang lain terhadapku, apa lagi di kantor"
Devan sedikit kecewa dengan permintaan Vania. Tapi dia tidak bisa memaksakan diri. Baginya saat ini adalah kebahagiaan untuk wanita yang dicintainya.
"baiklah jika itu maumu, aku akan menerima keputusanmu. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" kata Devan yang diangguki Vania.
Devan duduk lebih dekat dengan Vania. Ia menatap lekat wajah istrinya.
"Kau tahu bagaimana perasaanku padamu, aku hanya minta satu hal padamu, belajarlah mencintaiku" kata Devan lirih.
Vania menjawabnya dengan mengangguk pelan.
"Terimakasih, aku mencintaimu" Kata Devan sambil mencakup pipi istrinya dengan kedua tangannya. Ia mencium kening Vania cukup lama, mengungkapkan rasa sayangnya yang begitu dalam pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"kedua kalinya aku menciummu, makasih sayang" kata Devan dengan senyum tipisnya.
Vania merasa malu dengan apa yang di dengarnya, namun ia juga bingung dengan perkataan suaminya itu. Menurutnya ini pertama kalinya suaminya menciumnya.
"yang pertama sudah kuambil tadi waktu kau pingsan dari pemakaman" kata Devan menahan senyum. Ia merasa senang sekali menggoda istrinya yang begitu polos.
"kau..." tunjuk Vania.
"apa?" tanya Devan terkekeh
"nakal sekali, itu juga pertama kalinya aku dicium orang lain" kata Vania kesal karena Devan mencuri ciuman darinya. Meski hatinya berbunga-bunga mendengarnya, namun ia tidak ingin terlihat murahan. Ia pura-pura marah dengan memalingkan tubuhnya membelakangi Devan
"hey, aku bukan orang lain lagi, aku suamimu...ingat itu" kata Devan menarik lembut lengan istrinya agar kembali menghadap dirinya "aku janji tidak akan melakukan lebih tanpa kau menyetujuinya... Sekarang tidurlah di kamarmu, aku bisa tidur di ruang tamu" lanjutnya
"tidak, aku akan menemani mama di kamarnya. Kakak bisa pakai kamarku" kata Vania
__ADS_1
"setelah acara tujuh hari nanti, aku mau kita tinggal di rumahku"
"aku nggak mungkin ninggalin mama sendirian"
"Mama nggak sendirian, ada kak Adit dan istrinya, mereka akan segera pindah kesini"
"jadi maksudmu kita akan tinggal bersama tante Dewi dan Oom Satria?" tanya Vania
"bunda dan ayah" kata Devan seperti mengeja. Ia menekankan bahwa kini mereka kini adalah para mertuanya.
Vania tersenyum dengan teguran yang disampaikan Devan. Ia merasa malu karena lupa dengan statusnya kini.
"nah...begitu donk...senyum..." kata Devan mengacak-acak pelan rambut Vania membuat miliknya spontan mendengus kesal dan merapikannya.
"kita tinggal di rumah kita sendiri. Tidak begitu mewah, tapi aku yakin kamu menyukainya. Tempatnya juga tidak jauh dari kantor"
"baiklah.." kata Vania.
"ya sudah, istirahatlah... mau ku antar ke kamar mama?"
"tidak, aku akan ke kamar dulu ganti baju"
"baiklah, ayo" kata Devan meraih tangan istrinya.
********
Sudah seminggu setelah pernikahan mereka. Acara pengajian di rumah keluarga Wibowo juga selesai. Sudah selama itu juga Vania dan Devan bersama di rumah Vania. Meski hubungan mereka tak seperti sepasang pengantin baru bagi yang melihatnya.
Selama tinggal di rumah Vania, Pasangan pengantin baru itu jarang mengobrol berdua. Mereka hampir tidak pernah berduaan. Devan sibuk dengan pekerjaan kantornya dari pagi hingga sore. Sedang malam harinya, mereka berdua lebih sering menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga dan para warga yang datang untuk mengikuti pengajian.
Vania dan Devan tak pernah bermalam dalam satu kamar. Tiap malam Vania memilih tidur menemani mamanya dan Devan sendirian di kamar Vania. Awalnya mama Karina menolak dengan permintaan putrinya. Namun dengan alasan setelah acara pengajian mereka akan pindah, akhirnya Mama Karina mengiyakan setelah mendapatkan ijin dari Devan.
Devan tak mempermasalahkan itu selagi istrinya merasa nyaman dan bahagia meski dirinya yang harus rela dikorbankan dalam hal ini.
__ADS_1