Cinta Vania

Cinta Vania
Dia juga putraku


__ADS_3

Kini Vania dan lelaki itu berpisah.Vania pergi bersama anak kecil itu menuju Playground.


Devan terus memperhatikan mereka dari balik pilar di sebelah playground. Ia tak ingin sedikitpun kehilangan jejak mereka.


"Mama, es klim" kata anak kecil itu saat keluar dari Playground.


"Ayo"


Vania mengajak Juna ke penjual es krim. Namun saat hendak mengeluarkan uang untuk membayar, tiba-tiba Vania tak mendapati Juna di sebelahnya.


"Juna, Juna... Kamu dimana sayang" kata Vania cemas memanggil Juna. Vania mulai kebingungan karena gak menemukan Juna.


Tak berselang lama, dari belakang seseorang menepuk pundaknya.


"Apa kau mencari anak ini?"


Vania menoleh ke belakang. Ia terkejut mendapati Juna digendong oleh Devan dengan membawa sebuah balon


"Juna, ayo turun. Bagaimana kamu bisa bersama orang asing" kata Vania gugup.


"Anak ini berjalan sendiri menuju penjual balon tadi" kata Devan sambil menurunkan Juna dari gendongannya.


"Terimakasih sudah membantu kami" kata Vania dingin menarik pelan tangan Juna dan menggendongnya. Ia bergegas pergi meninggalkan Devan.


"Tunggu" kata Devan


Vania menoleh, "ada apa?" tanya Vania berusaha sebiasa mungkin agar Devan tidak curiga.


"Apa itu putramu?"


"iya benar, apa ada masalah?"


"Apa lelaki tadi suamimu?" tanya balik Devan


"Lelaki?" Vania mengernyit heran.


"Aku melihatmu tadi menjemput anak ini dari seorang lelaki. Apa dia ayah dari anak ini?" tanya Devan melemah.


"Iya dia ayah dari anak ini"


Duarrrr...... bagai petir menyambar. Devan terkejut bukan main mendengar jawaban Vania. Ia tak menyangka Vania kini sudah mempunyai keluarga baru.


"Maaf jika tidak ada lagi saya mau pergi. Saya tidak bisa terlalu lama bertemu orang asing" kata Vania yang kemudian berbalik hendak pergi.


"Vania, aku tahu itu dirimu" Kata Devan menghentikan langkah Vania. Devan berjalan maju mendekat.


Vania kembali menoleh ke belakang. "Maaf tuan, anda mungkin salah orang".

__ADS_1


"Aku tidak hanya sehari dua hari mengenalmu, Vania. Seperti apapun kau merubah penampilanmu, aku tetap akan mengenalimu. Ijinkan aku berbicara denganmu sebentar saja" pinta Devan.


Vania hanya diam tak lagi bisa mengelak. Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Devan.


"Ikut aku, biar aku yang menggendong Juna" kata Devan mengambil Juna dari gendongan Vania.


Devan membawa Juna ke taman depan mall diikuti oleh Vania dari belakang.


"Juna main balon disini ya" kata Devan menurunkan anak itu dari gendongannya. Kemudian ia mengajak Vania duduk tak jauh agar masih bisa tetap mengawasi Juna.


"Apa maumu mas?" tanya Vania tanpa basa-basi.


"Aku hanya ingin minta maaf padamu tentang beberapa tahun lalu"


"Jangan dibahas, mas. Aku tidak ingin lagi mengingat kesedihan itu. Aku juga sudah memaafkanmu" pangkas Vania.


"Jika kau sudah memaafkanmu, kenapa kau tak kembali padaku dan justru memilih untuk membangun keluarga baru? Aku menunggumu tiga tahun lebih, Van. Tidakkah tersisa di hatimu perasaan untukku?"


"Aku sudah bahagia dengan hidupku saat ini, mas. Tolong mengertilah untuk tidak mememuiku lagi setelah ini" kata Vania menahan tangisnya.


"Baiklah jika itu memang pilihanmu. Aku tak akan lagi mencampuri keluarga barumu. Maaf sudah mengganggu waktumu" kata Devan yang kemudian beranjak pergi.


Selepas kepergian Devan, air mata Vania lolos begitu saja. Ia menangis sesenggukan dan kemudian mengajak Juna untuk pulang.


Sore harinya Vania telah selesai memandikan Juna di kontrakannya. Ya, selama di Surabaya, Vania memilih untuk mengontrak sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggalnya.


"Mama anan angis tiyus" kata Juna sambil mengusap pipi Vania dengan kedua jempolnya.


"Enggak, sayang. Mata mama hanya sedang sakit" kata Vania berbohong. "Sudah ayo kita main di halaman depan" lanjutnya mengalihkan perhatian Juna.


Mereka berdua bermain bola di halaman depan. Sesaat kemudian terdengar suara mesin mobil memasuki pagar rumah Vania.


"Mami..." panggil Juna berlarian mendekati pagar saat terlihat seorang wanita turun dari mobil.


"Hai sayang... Maaf ya mami telat menjemputmu. Mami harus mampir ke resto sebentar tadi"


Juna memeluk wanita yang dipanggilnya Mami.


Wanita itu menggendong Juna. "Apa kau menyusahkan mama hari ini?" tanya wanita itu sambil menoel hidung Juna.


"Juna tidak rewel kog, Sher" sahut Vania mendekat.


Ya, wanita itu adalah Sherin. Teman lama Vania yang membantu Vania selama di Surabaya.


"Mama angis, Mi" kata Juna membuat Sherin memperhatikan wajah sahabatnya.


"Benarkah yang dibilang Juna?" tanya Sherin membuat Vania terdiam. "Baiklah ayo kita ke dalam" ajak Sherin menggandeng tangan Vania.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sherin yang duduk di sebelah Vania.


Vania hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya seperti kelu untuk berbicara.


Sherin beralih menatap Juna.


"Juna sayang, bisa ceritakan sama mami apa yang terjadi sama mama?"


"Mama angis Oom, mi" jawab lelaki kecil uang mulai pandai bicara itu.


"Oom? Oom siapa?"


"Tak tau, Mi" jawab Juna polos.


"Ya sudah kalau gitu Juna main dulu disana ya. Mami mau ngomong sama mama" kata Sherin sambil menunjuk beberapa mainan Juna yang ada di sebelah duduknya.


Juna mengangguk dan menurut perintah Maminya.


"Van, ceritakan padaku. Siapa Oom yang dikatakan Juna. Apa dia suami yang kau ceritakan itu?"


Vania mengangguk.


"Lalu kenapa kau sedih. Bukankah seharusnya kau senang karena ia mencarimu. Bukankah ini yang kau inginkan sejak awal? kalian slaing mencintai. Cobalah selesaikan masalah kalian baik-baik".


"Sulit Sher... Ia melihatku saat menjemput Juna di Mall dari suamimu. Ia juga menanyakan siapa Juna. Aku terpaksa mengatakan jika Juna putraku"


"Lalu?"


"Dia pergi meninggalkanku" kata Vania dengan Isak tangisnya.


"Kenapa kamu lakuin itu sih Van, bukankah akan lebih baik jika kalian kembali bersama" kata Sherin meyakinkan.


"Tak semudah itu, Sher. Kamu tahu betul bagaimana keadaanku saat ini. Aku tidak mungkin kembali padanya setelah dokter memvonis rahimku bermasalah dan akan susah hamil lagi sejak keguguran itu. Aku tidak ingin membuatnya sedih karena tak bisa punya keturunan" air mata Vania semakin deras karena memperjelas perkataannya.


Sherin memeluk tubuh sahabatnya. "Maafkan aku, Van" katanya mengelus punggung Vania.


Sherin menjauhkan diri dari pelukannya. "Van, bermasalah bukan berarti tak bisa punya keturunan. Kamu bisa mengikuti program hamil sesuai anjuran dokter kandungan"


"Sia-sia, Sher. Dia mungkin sudah terlanjur membenciku" kata Vania.


"Jika ia benar-benar jodohmu, aku yakin dalam waktu dekat kalian akan dipertemukan kembali"


"Makasih ya Sher..." kata Vania memaksakan senyumnya dan kembali memeluk Sherin.


"Baiklah.. Aku pulang dulu ya... makasih sudah menjaga putraku" pamit Sherin.


"Jangan begitu. Kau jangan lupa dia juga sudah menjadi putraku. Bahkan memanggilku Mama" kata Vania membuat dua sahabat itu tertawa.

__ADS_1


__ADS_2