
Mereka berdua menuju kafe yang terletak di sebelah kantor. Baru saja melangkahkan kakinya memasuki area kafe, Vania sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan dan menyakitkan baginya. Ia melihat Devan sedang makan siang bersama Alline. Mereka nampak begitu dekat dengan sesekali terlihat senyum tersungging di wajah Alline meski lelaki yang di depannya hanya diam dengan ekspresi yang tidak enak dilihat.
"Mbak, kita ke tempat lain aja ya.." pinta Vania ke Maya.
"Kenapa? Ini kafe paling dekat lho, nanti kalau kita pindah ke tempat lain jam makan siang keburu habis. udah ayo" kata Maya sambil menarik pelan lengan Vania.
Vania menarik nafas pelan mencoba menguatkan hatinya yang kembali rapuh. Ia memaksakan senyumnya untuk menahan air mata yang hampir jatuh.
Vania memilih tempat duduk yang sedikit menjauh dari Devan. Ia tidak ingin suaminya itu mengetahui keberadaanya.
"Eh Van, itu pak Devan kan, Presdir kita. Beliau sama siapa tuh?" tanya Maya ke Vania mencoba memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
"Enggak tahu mbak, mungkin pacarnya" kata Vania datar.
"Kalau pacar kayaknya nggak mungkin deh, mana mau pak Devan sama yang model seperti itu, lihat saja dia ganjen sekali" Kata Maya sinis mengangkat salah satu sudut bibirnya menatap wanita yang bersama atasannya.
Di sela-sela menunggu pesanan mereka datang, Maya bertemu oleh temannya yang baru masuk kafe.
" Tere..." sapa
"Maya..." panggil wanita yang bernama Tere sedikit berteriak karena tak menyangka bertemu sahabatnya. Bahkan saking kerasnya suara Tere itu membuat pengunjung lain menoleh ke arahnya.
Kedua sahabat itu saling berpelukan.
"Eh, kamu ini kebiasaan suka teriak-teriak kaya di hutan. Malu tahu sama pengunjung lain" kata Maya menepuk pelan sahabatnya setelah melepaskan pelukannya.
"hehehe....kamu sama siapa?"
"Aku sama temanku, eh kenalin ini namanya Vania, dan Vania ini Tere"
Vania dan Tere saling bersalaman dengan senyum yang tak luput dari bibir mereka.
"Dev, itu bawahan kamu kan si Vania" tanya Alline ke Devan yang menyadari keberadaan Vania.
__ADS_1
Devan memutar lehernya ke arah yang dituju Alline. Sejenak tatapan matanya dengan Vania beradu dalam jarak yang cukup jauh. Setelah kemudian Devan memperbaiki duduknya agar kembali tegap.
"Bagaimana kalau kita panggil kemari saja" lanjut Alline.
"Sudahlah kamu ini nggak usah aneh-aneh. Kita disini hanya untuk menunggu kedatangan papamu untuk membicarakan bisnis" kata Devan dingin.
"ceh, galak sekali" gerutu Alline kesal karena lelaki itu selalu saja dingin terhadapnya.
Maya dan Tere mengobrol sambil tertawa-tawa. Sedang Vania hanya diam dan berpura-pura memainkan ponselnya. Padahal sebenarnya sedari tadi ia terus saja sambil memperhatikan suaminya.
Tak lama kemudian pesanan Vania dan Maya datang. Vania mengambil cup moccachino pesanannya dan meminumnya sedikit. Ia merasakan semakin sesak di dadanya hingga membuatnya sulit bernafas karena tak sanggup terus melihat pemandangan di depannya. Vania pamit terlebih dulu pada Maya dan Tere untuk kembali dengan alasan tidak enak badan.
"Baiklah, kamu nggak apa-apa sendiri?" tanya Maya dan Vania mengangguk.
"Ya sudah nanti aku akan menyusul. Biar aku saja yang membayarnya" kata Maya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari dua wanita di depannya, ia berjalan keluar kafe untuk kembali ke gedung kantor.
Sesampainya di lantai tempatnya kerja, tujuan utama Vania adalah kamar mandi. Ia meluapkan kekesalannya dengan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi. Setelah mulai lega, ia membasuh wajahnya agar terlihat segar dan kembali ke ruangannya.
"Nona, pak Amin sudah menunggu untuk menjemput anda pulang" kata Ronald mendekat.
"Apa dia masih di ruangannya" tanya Vania ke Ronald.
Ronald sudah mengerti siapa yang dimaksud oleh Vania. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Tuan sudah keluar dari kantor dua jam yang lalu"
"Kemana?"
"Tuan tidak mengatakan apapun"
"Baiklah terimakasih" kata Vania.
Vania berjalan menghampiri Pak Amin yang sudah berdiri di samping mobil yang dibawanya. Pak Amin membukakan pintu mobil untuk majikannya masuk diikuti oleh ia yang beralih masuk dan duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
*****
Malam harinya, Vania dengan sabar menunggu Devan pulang sendirian di ruang tamu karena Bu Tini dan Pak Amin sudah lebih dulu pulang kerumahnya sejak beberapa jam yang lalu.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas dini hari. Vania menepis rasa kantuk yang sedari tadi menyerangnya dengan secangkir kopi yang akan menemaninya terjaga. Lagipula besok adalah weekend, tak masalah jika malam ini ia terjaga, karena besok ia bisa tidur sepuasnya. Ia sengaja menunggu Devan untuk meminta kejelasan tentang yang dilihatnya tadi siang. Ia sudah yakin suaminya akan pulang tengah malam.
Tepat pukul satu seperempat, terdengar suara mesin mobil memasuki pagar rumah. Vania pastikan itu adalah Devan. Ia segera berdiri untuk menyambut suaminya dengan beberapa pertanyaan.
Devan membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia punya.
Vania terkejut melihat penampilan Devan yang kacau. Ia yakin betul suaminya mabuk karena mencium bau alkohol yang sangat menyengat.
Begitu pula dengan Devan, ia tak menyangka istrinya masih terjaga saat tengah malam seperti ini.
"Kak" panggil Vania
Devan tak memperdulikan panggilan istrinya. Ia berjalan sempoyongan melewati ruang tamu.
"Kak Devan, kenapa kamu mengabaikan ku" tanya Vania sedikit berteriak karena merasa kesal yang diajak bicara mengacuhkannya.
Devan menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap Vania.
"Lalu apa yang kau mau?" tanya Devan yang nampak mabuk berat.
"Aku hanya ingin penjelasan darimu apa yang kau lakukan di kafe dengan Alline" tanya Vania menatap tajam suaminya.
"Bukan urusanmu" jawab Devan ketus
"Kau bilang bukan urusanku? Lalu kau anggap apa aku? Aku istrimu, apa kau lupa, huh?" kata Vania emosi.
" Kau bilang istri? ceh..." desis Devan seolah meremehkan perkataan Vania.
"Jika kau mengakui dirimu sebagai istri, Apa begitu caramu melayani suamimu? Kau memintaku untuk menyembunyikan pernikahan ini, memilih untuk tidur di kamar yang berbeda, kau juga melarangku untuk menyentuhmu. Dan kau bahkan bermesraan dengan lelaki lain di depanku. Begitu kah kau sebut dirimu sebagai seorang istri..!!!" Bentak Devan yang tak mampu mengontrol emosinya.
__ADS_1
Vania meneteskan air mata mendengar perkataan suaminya. Ia merasa bersalah karena apa yang dikatakan suaminya semuanya benar. Tapi tuduhannya dengan David sama sekali tidak benar. Dan bukankah dari awal Devan menyetujui permintaanya itu.
"Jika kau menganggap dirimu sebagai seorang istri, ayo cepat layani suamimu ini" kata Devan sambil menarik kasar pergelangan tangan Vania dan memaksa istrinya untuk mengikutinya berjalan menuju kamar lantai bawah yang ditempati oleh Vania.