Cinta Vania

Cinta Vania
Aku Khilaf


__ADS_3

Malam itu terjadi pergumulan antar dua insan yang saling mencintai dan terikat pernikahan setelah beberapa tahun baru bertemu kembali. Devan yang mempunyai tubuh atletis dan sangat suka berolahraga seakan tak ada lelahnya menerkam istrinya. Entah sudah berapa kalinya ia melakukan penyatuan dengan tubuh Vania. Ia seakan tak memberi waktu istrinya untuk beristirahat meski waktu telah melewati sepertiga malam terakhir. Lelah setelah melakukan penerbangan seakan tak lagi menjadi penghalang bagi Devan untuk menuntaskan keinginannya.


"Mas, aku lelah" kata Vania dengan suara yang lemas karena lelah dan mengantuk.


"Sebentar, sayang. Biarkan aku menuntaskan seluruh hasratku" Jawab Devan dengan nafas yang tersengal-sengal karena nafsu yang ada dalam dirinya.


Vania pasrah tak lagi bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan suaminya untuk terus bercinta.


Setelah Devan kembali mencapai puncaknya untuk yang ke sekian kali. Ia menyudahi permainannya karena melihat tubuh istrinya yang sudah benar-benar lemas karena perlakuannya.


Devan turun dari tubuh istrinya dan berbaring di sampingnya. Ia memiringkan tubuhnya dan menyelipkan lengannya di bawah kepala Vania agar menjadi tumpuhan bantal bagi istrinya.


Devan mengecup kening Vania dan membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya.


"Makasih, sayang. Istirahatlah" kata Devan yang kemudian menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos keduanya agar tak kedinginan. Devan memeluk tubuh wanitanya sebagai ungkapan terimakasih sudah mau kembali bersama.


Sang Surya telah datang dan keluar dari persembunyiannya dan mampu menembus jendela kamar yang hanya tertutup gorden putih tipis. Dengan malasnya Vania mengerjapkan mata. Badannya terasa sakit semua. Tubuhnya melemas. Ia menepuk bantal di sampingnya. Kosong... Tak ada siapapun disana. Sepagi itu suaminya bangun, pikirnya. Vania membuka mata dan memperhatikan sekitar. Ruangan itu nampak terang karena tanpa lampu yang menyala.


"Astaghfirullah..." ucap Vania terkejut karena baru sadar jika hari sudah siang.


Vania melirik ke jam dinding yang ditempel diatas pintu kamar. Sudah jam sepuluh seperempat. Ia melewatkan kebiasaannya beribadah dan sarapan suaminya.


Vania meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas. Digesernya layar ponsel itu dengan ini jarinya. Ia mencari kontak suaminya.


"Assalamualaikum, sayang. Sudah bangun?" tanya Devan saat panggilan tersambung.


"Waalaikumsalam, mas. Udah di kantor ya? Kok tadi nggak bangunin aku sih?"


"Iya, sayang. Tadi pagi ada janji sama klien. Mau bangunin kamu kasihan, kayanya lelah banget"


"Capek juga gara-gara kamu, mas" jawab Vania kesal.


Devan terkekeh mendengar omelan istrinya. "Sorry, sayang. Habis kamu bikin nagih sih. Ya udah kamu bangun mandi gih, setelah itu akan membawamu ke rumah mama"


"Iya mas, assalamualaikum" kata Vania sebelum menutup panggilan. Ia tak lagi bisa menjawab candaan suaminya karena rasa sakit di anggota tubuhnya.


"Waalaikumsalam, sayang"

__ADS_1


Vania mengunci kembali layar ponselnya. Ia hendak bangun. Namun rasa sakit di tubuhnya semakin terasa. Bahkan kakinya terasa susah digerakkan karena rasa sakit di pangkal pahanya. Ia menunduk memperhatikan beberapa c*pang yang Devan tinggalkan di leher dan dadanya.


"Tiga tahun meninggalkannya membuatnya semakin gila dan mesum" gerutu Vania sambil mengamati setiap bekas bibir suaminya yang sangat jelas terlihat.


Vania tak kuat lagi mengangkat tubuhnya sendiri. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya. Ingin sekali meminta tolong pada Bu Tini. Namun ruangan kamar yang kedap suara itu membuatnya mengurungkan niat karena baginya hanya sia-sia saja jika harus berteriak memanggil wanita paruh baya itu.


Tak ada pilihan lagi. Vania mengambil kembali ponselnya untuk menghubungi suaminya.


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Mas... bisa pulang?" kata Vania dengan suara yang lemas.


"Kamu kenapa?"


"Pulang aja mas, bisa?"


"Kamu kangen ya? Bentar ya sayang, ini mau selesai"


"Iya, aku tunggu".


Hampir satu jam Vania menunggu suaminya tak juga sampai di rumah. Ia terus menunggu dengan berbaring tanpa mengubah posisinya di atas tempat tidur.


Cklekkk


"Assalamualaikum, sayang"


Sapa Devan setelah pintu kamar dibuka dari luar.


"Waalaikumsalam" jawab Vania lemas.


"Bu Tini bilang kamu belum juga turun sarapan, yang. Kenapa?" tanya Devan berjalan mendekati tempat tidur. Ia memperhatikan selimut bagian atas yang sedikit tersingkap sehingga menampakkan bahu istrinya. "Lho, kok belum mandi juga? Jangan bilang mau lagi ya" lanjut Devan menggoda istrinya. Ia mendekatkan wajahnya mencium kening Vania. Namun yang ia rasakan kening itu terasa hangat.


"Yang, kog keningmu hangat. Kamu sakit?" tanya Devan cemas.


"Badanku sakit semua, mas. Kakiku juga susah digerakkan. Ini semua gara-gara kamu yang terlalu bernafsu" kata Vania kesal karena menahan sakit.


"Sorry, sayang. Aku khilaf" ucap Devan merasa bersalah. "Sekarang gimana aku panggilkan dokter Niko ya?" lanjutnya memberi saran.

__ADS_1


"Nggak perlu" jawab Vania cepat. "Jangan malu-maluin deh mas, kamu mau jawab apa kalau ditanya penyebab aku kaya gini"


Devan hanya tersenyum malu sambil menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. Benar saja kata istrinya, akan sangat memalukan jika orang lain tahu istrinya sakit gara-gara kemesumannya.


"Terus aku mesti gimana?" tanya Devan ragu-ragu takut Vania marah.


"Bantu aku ke kamar mandi. Aku mau mandi wajib. Setelah itu makan dan minum vitamin yang ada di tasku"


"Baiklah" jawab Devan.


Devan mengangkat tubuh Vania dan membawanya ke kamar mandi. Devan ingin membantu istrinya mandi. Namun dengan cepat Vania menolah dan menyuruh suaminya menunggu di luar.


"Baiklah, aku akan meminta Bu Tini membawakan makanan ke atas lalu kembali lagi kemari. Jika sudah selesai panggil saja aku" kata Devan yang diangguki oleh Vania.


*****


"Istirahatlah kembali. Aku akan menemanimu" kata Devan setelah selesai menyuapi makan istrinya dan memberikan vitamin.


"Nggak balik ke kantor?" tanya Vania yang dijawab Devan dengan gelengan kepala.


"Biar sisanya Ronald yang urus. "


"Kalau gitu ke rumah mama kalau aku udah sehat aja ya"


"Iya, sayang. Sorry ya" kata Devan lembut kemudian mengecup kening Vania.


Vania istirahat kembali ditemani oleh Devan yang ikut tidur di sampingnya


sambil memeluknya. Laki-laki itu tak butuh waktu lama untuk terpejam karena semalam kurang istirahat.


****


Vania bangun lebih awal dari suaminya karena ingin buang air kecil. Tanpa bermaksud membangunkan suaminya, ia menyingkirkan perlahan lengan Devan yang melingkar di pinggangnya. Mungkin karena kondisi tubuhnya yang membaik membuatnya sedikit bisa bergerak turun dari tempat tidur.


Vania berjalan perlahan menuju kamar mandi. Memaksakan kakinya yang sudah sedikit membaik untuk diajak berjalan.


Laki-laki yang masih mengenakan kemeja dan celana kerjanya itu mengerjapkan matanya saat menyadari istrinya tak ada di sampingnya. Namun, suara samar gemericik air dari dalam kamar mandi membuatnya yakin jika istrinya berada disana. Devan bangun dan duduk di tepi ranjang sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2