Cinta Vania

Cinta Vania
episode 37 Ambil Cuti


__ADS_3

Sampai di rumah, Ditya langsung menghubungi Vania. Mereka belum pernah bertemu sejak Ditya berbohong pamit ke rumah pamannya. Namun meski begitu, mereka masih tetap saling berhubungan lewat telepon.


Vania: "hallo assalamualaikum"


Ditya:"walaikumsalam. . lagi apa yank"


Vania: " ini lagi nulis tugas" (menempelkan ponsel di telinganya dan diapit oleh bahunya, tangannya masih terus fokus menulis)


ditya: " oo... ya udah kalau lagi sibuk, aku matiin aja ya"


Vania: "e..jangan..jangan..aku bisa lanjut nulisnya nanti aja, lagian buat dikumpulin minggu depan kok"


Ditya: "oo...gitu...."


Vania: "kamu kapan pulang? udah seminggu lebih kamu bolos kuliah, apa fakultas nggak masalah?"


Ditya: "maaf ya sayang, sebenarnya aku udah ngajuin cuti"


Vania: "hah? kok bisa? kenapa bisa gitu sih, kamu sembunyiin sesuatu dari aku ya?"


Ditya: "bukan maksud aku bikin kamu kecewa, semuanya dadakan"


Vania: "iya tapi kenapa?"


Ditya: "aku harus bantuin paman jaga nenekku"


Vania: "kamu nggak bohong kan?" (Vania mulai menangis)


Ditya: "enggak sayang....udah ya jangan nangis lagi"


Vania: "kenapa nggak ngomong dari awal sih, kamu kan bisa pamitan dulu ke aku"


Ditya: "iya maaf,,, aku salah"


(suasana hening)


Ditya: "yank,, kenapa diam"


Vania: "ya udah lah, udah terlanjur juga, yang penting kamu baik-baik aja"


Ditya: "makasih ya"


Vania: "buat apa?"


Ditya: "buat pengertianmu, buat kasih sayangmu selama ini"


Vania: "kamu ngomong apa sih yank, bukannya emang ini komitmen kita untuk saling memahami"

__ADS_1


Ditya: "aku mencintaimu"


Vania: "iya aku ngerti"


Ditya: "jangan sedih-sedih lagi"


Vania: "iya"


Ditya: "maafin aku selama ini belum bisa jaga kamu"


Vania: "kamu ngomong apa sih, jangan bikin aku takut"


Ditya: "nggak ada, aku cuma kangen sama kamu"


Vania: "iya aku juga, tapi aku juga nggak mau egois dengan meminta kamu selalu ada, aku bisa ngerti kog, yang penting kamu bisa jaga diri dan kesehatan aja yank. itu udah cukup buat aku"


Ditya: "kamu segalanya buat aku, ya udah aku mau sholat dulu, kamu juga jangan lupa sholat, assalamualaikum"


Vania: "iya, waalaikumsalam"


******


Keesokan paginya.


Sudah seminggu lebih Devan di Jakarta. Namun, sampai sekarang ia belum juga bertemu dengan Vania.


Devan diminta ayahnya untuk mengikuti meeting karena disana ayahnya akan memperkenalkannya kepada para petinggi perusahaan cabang sebagai calon pewaris tunggal SA Group.


Devan mengendarai mobil mewahnya sendiri. Ia memilih sedan berwarna hitam sebagai ganti mobil sportnya yang dulu sudah dijual ayahnya karena tak terpakai.


Ia sampai di kantor lima menit sebelum rapat dimulai. Sesampainya di loby perusahaan, ia menghubungi asisten ayahnya untuk mengantarnya ke ruangan meeting.


Devan berjalan menuju ruang meeting didampingi oleh asisten ayahnya. Ia berjalan lurus mengikuti arahan asisten itu. Ia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja berwarna silver. Tak lupa kacamata hitam pelengkap penampilannya. Ia tampak gagah dan cocok dengan penampilannya. Meski usianya terbilang cukup muda sebagai pengusaha, namun aura kepemimpinanya sudah terpancar. Semua mata karyawan menatap kagum pada Devan. Terutama para karyawan wanita.Mereka penasaran dengan jabatan lelaki gagah itu. Tidak ada yang mengenal status Devan sebagai putra direktur utama selain ayahnya dan asistennya.


Semua anggota meeting sudah berkumpul dan duduk di kursinya masing-masing. Devan memasuki ruangan. Semua anggota meeting berdiri. Devan mendekat dan berdiri disamping ayahnya. Ia sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Semua anggota rapat pun membalasnya.


"silahkan duduk kembali" kata pak Satria


Para peserta rapat duduk di kursinya.


"perkenalkan ini putra saya, yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Nantinya dia yang akan membantu saya mengelola SA Group setelah pendidikannya selesai" imbuh pak Satria


"selamat pagi semuanya, saya harap kita bisa saling membantu mulai sekarang. Karena saat ini pun saya juga sedang memegang SA Group yang cabang London"


Meeting dimulai, Semuanya menunjukkan sistem kerja dan manajemen keuangan di perusahaan masing-masing. Meeting berlangsung tiga jam dan selesai tepat jam makan siang. Semua anggota rapat meninggalkan ruangan rapat.


Devan dan ayahnya berjalan keluar ruang meeting diikuti oleh pak Firman dan Adit.

__ADS_1


"iya Van, kenalkan ini sahabat ayah yang pernah mau ayah kenalkan ke kamu dulu. ini pak Firman dan ini putranya Adit" kata pak Satria. Devan menjabat tangan kedua lelaki itu sambil tersenyum.


"maaf oom, dulu selalu gagal menemui oom" kata Devan ramah


"nggak apa-apa nak Devan, gimana kalau kita makan siang bareng saja" ajak pak Firman


"boleh...boleh..." jawab pak Satria antusias.


Mereka berempat makan siang bersama di kafe terdekat. Adit dan ayahnya beeangkat semobil. Devan membawa mobil sendiri karena setelah itu ia akan pulang, sedang ayahnya harus kembali ke kantor setelah jam makan siang.


Mereka menikmati makan siang sambil mengobrol.


"hebat kamu nak, masih muda sudah banyak prestasi. beruntung wanita yang akan jadi istrimu nanti" puji pak Firman


"oom bisa aja" sahut Devan malu-malu


"pasti udah punya cewek ya?" tanya Adit


Devan menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum


"kenapa, mana mungkin lelaki sesempurna pak Devan bisa nggak punya cewek" lanjut Adit beetanya


"jangan dipanggil pak dong, panggil saja pake nama, kita diluar jam kantor lho..." kata Devan ramah


Semua tertawa.


"jadi kenapa Van?" lanjut Adit


"belum ada yang sreg aja"


"bukannya cewek sana cantik-cantik dan smart" tanya Adit lagi


"hatinya sudah terpaut sama satu cewek, belum bisa move on dia" sahut ayah Devan sambil memainkan sendoknya


"ayah,,, tahu darimana, bohong kok oom" sahut Devan malu-malu


"bunda yang bilang lho" kata Ayah


Devan hanya tersenyum kecut karena malu akan perkataan ayahnya. Ia tak lagi bisa menyangkal karena memang benar adanya.


Sontak Devan menjadi bahan olok-olokan ayah dan rekan kerjanya. Semuanya saling bergurau hingga jam makan siang hampir habis.


Mereka saling berpamitan. Ayah Devan keluar kafe terlebih dahulu karena harus menemui klien yang akan bekerja sama dengan perusahaan.


"terimakasih oom Firman atas jamuannya. Seharusnya kami yang mentraktir anda" kata Devan


"santai saja nak Devan, anggap saja ini sebagai bentuk penyambutan atas kedatangan nak Devan" Kaya Pak Firman menepuk bahu Devan

__ADS_1


Mereka bertiga saling melempar senyum hingga akhirnya berpisah meninggalkan kafe


__ADS_2