Cinta Vania

Cinta Vania
Manusia Egois


__ADS_3

Di dalam taksi Nadya terus berkirim pesan pada kekasihnya untuk menanyakan rencana mereka tanpa sepengetahuan Vania.


Nadya yang terus sibuk dengan layar ponselnya membuat Vania melamun membuang pandangannya ke luar jendela.


Tanpa disadarinya Nadya terkikik geli saat menerima pesan terakhir dari Andre yang mengatakan "jadi heran... ini yang sebenarnya mau kencan kita berdua atau mereka sih??".


Vania yang terganggu dengan suara berisik dari Nadya menoleh ke sahabatnya itu. Ia memperhatikan raut wajahnya yang begitu senang menatap ponselnya sambil menggerakkan ibu jarinya mengetik pesan. Tanpa bertanya pun Vania sudah tahu kalau sahabatnya itu pasti sedang berkirim pesan dengan kekasihnya.


"tahu deh yang udah pacaran... bentar lagi juga ketemu lho... sabaran dikit napa... jangan bikin yang jomblo iri deh" sindir Vania dengan ketusnya membuat Nadya hanya menanggapinya dengan terkekeh.


Nadya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya. Ia baru sadar jika ia sudah mengabaikan sahabatnya.


"sorry deh" kata Nadya bergelayut di lengan Vania.


"eh ngomong-ngomong emang kak Andre undang banyak temen ya?" tanya Vania


"enggak sih... katanya sih cuma satu, makanya itu gue ngajakin lo biar nanti yang diajak kak Andre ada temennya"


"hah, gila apa lo,,, bener-bener ya ... kita dijadiin obat nyamuk" Jawab Vania kaget


"bukan gitu iiihhhh... kan kita nanti duduknya juga berempat, bukan sendiri-sendiri gitu"


"emang siapa sih yang diajak, jangan bilang Kribo ya... sebel gue sama tuh orang, usilnya nggak ketulungan" kata Vania sambil menyedekapkan kedua tangannya di dada.


"ya gue nggak tahu siapa yang diajak" jawab Nadya pura-pura tidak tahu.


"bohong kalau lo nggak tahu" sangkal Vania


"ya ampun... su'udzon banget sama kawan sendiri" jawab Nadya membela diri


"ya habisnya lo akhir-akhir ini sering gitu sama kak Andre, Kribo melulu..."


"enggak sayangku, gue janji kalau nanti beneran Kribo, kita langsung balik. oke" kata Nadya sambil menunjukkan jari kelingkingnya untuk membuat janji.


Vania pun mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya ke milik Nadya . Mereka kemudian saling berpelukan dari samping.

__ADS_1


Vania melepaskan kembali pelukannya. Jantungnya terasa deg-degan tiba-tiba.


"eh ini gue kenapa ya, kok perasaan gue nggak enak gini, bakalan ada apa ya nanti... ah mungkin cuma perasaan gue aja kali" batin Vania dalam hati. Ia segera menepis keraguan dalam benaknya.


Sesaat kemudian taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah kafe yang menjadi tujuannya. Kafe itu cukup mewah. Bangku pelanggan dibaut berhadapan seperti layaknya berada di sebuah kereta api kelas bisnis. Banyak para pelanggan kelas menengah ke atas yang berada di sana karena merasa nyaman.


Suasana kafe saat itu sedikit ramai. Nampak mobil Andre sudah terparkir tidak jauh dari taksi yang menurunkan mereka.


Nadya dan Vania bergegas masuk ke dalam Kafe. Mereka mendapati Andre duduk sendirian di salah satu bangku yang ada di pojok. Kedua gadis itu segera menghampiri Andre.


"hai sayang, sudah lama?" tanya Nadya


"enggak baru saja kok sayang" jawab Andre


"kenapa sih harus sayang-sayangan di depan gue" celetuk Vania yang membuat sepasang kekasih itu tertawa.


Kedua gadis itu pun duduk. Nadya memilih duduk di sebelah kekasihnya sedang Vania duduk di depan mereka.


"tenang aja, udah aku pesanin makanan kok, tinggal nunggu pelayan antar sekalian nunggu temanku datang" kata Andre tersenyum.


"masih lama?" tanya Vania sambil membuka kunci layar ponselnya


Vania tidak menoleh. Ia menyibukkan diri dengan membaca pesan masuk dari ponselnya.


"sorry ya gue telat" kata laki-laki yang baru datang membuat Andre yang baru saja berdiri menyambutnya dengan bersalaman dan merangkulnya..


"santai aja bro" jawab Andre


"suara itu... sepertinya aku tidak asing" Batin Vania. Spontan Vania menoleh ke asal suara.


Ia terkejut, dugaannya benar. Pria yang baru saja datang adalah Devan. Begitu juga sebaliknya, Devan ikut terkejut melihat keberadaan Vania diantara mereka.


Tatapan mereka saling beradu sejenak. Kemudian Vania menundukkan pandangannya. Sebaliknya dengan Devan. Ia mencoba menguasai dirinya dengan berusaha sesantai mungkin. Ya, Pria itu begitu pintar menutupi hatinya yang kacau.


Devan ingin mencoba menghindar. Namun suasananya begitu tidak baik. Ia bisa dituding tidak sopan oleh sahabatnya. Akhirnya mau tidak mau ia mengikuti ajakan Andre untuk ikut bergabung.

__ADS_1


Dan parahnya lagi, kali ini ia harus duduk begitu dekat dengan gadis itu karena bangku yang tidak begitu panjang.


Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Andre yang sudah tahu makanan favorit dari sahabatnya dan sahabat kekasihnya itu memesankan makanan sesuai apa yang biasa mereka pesan.


Semua sudah mendapatkan pesanan masing-masing. Vania terdiam menatap semangkuk bakso panas di hadapannya. Pikirannya mulai berputar mencari cara untuk menarik perhatian lelaki di sampingnya.


Ia mengambil beberapa sendok sambal dan memindahkannya ke dalam mangkoknya seperti yang biasa dilakukannya. Ia ingin tahu reaksi lelaki di sampingnya. Akankah ia melakukan hal yang sama seperti waktu dulu atau tidak.


Devan memperhatikan Vania dengan hanya meliriknya saja. Ia ingin menghentikan aksi gadis di sampingnya itu namun ia urungkan. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan perasaannya dan tidak ingin melanggar janjinya. Semakin ia memperhatikan dan peduli padanya, maka akan semakin susah baginya untuk menjauh.


Vania yang melihat Devan tidak peduli dan terus sibuk dengan makanan yang ada di depannya hanya bisa menelan kekecewaan. Devan yang ia tahu sudah mulai berubah. Mungkin karena sikapnya tempo hari yang sudah menyakitinya. Kalimat itu selalu memenuhi pikirannya.


Dengan terpaksa ia menghabiskan makanannya. Meski makanan pedas seperti itu biasa baginya. Namun kali ini ia makan dengan tidak berselera karena harapannya hilang seketika.


Devan merasa tidak tega sebenarnya melihat Vania makan seperti itu. Ia tidak ingin kesehatan gadis yang dicintainya terganggu. Tapi dia bisa apa, dia tidak mungkin mencampuri urusan Vania setelah apa yang dia katakan tempo lalu untuk menjauh.


Sementara sepasang kekasih yang duduk di depan mereka terus memperhatikan tingkah dua manusia yang ada di depannya.


"bener-bener ni manusia...dua-duanya egois" bisik Nadya pelan ke Andre.


"sssttttt...nanti mereka dengar" kata Andre mengingatkan kekasihnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**Hayo.... siapa nih yang masih baper sama kisah cinta Devan dan Vania???


Kira - kira Devan bakal jadian sama Vania atau Alline atau sama Sherly aja nih....


makin penasaran kan????


makanya jangan lupa dukung author dengan terus like dan Vote ya...


Cara mendapatkan poin untuk Vote, kalian bisa buka profil.di aplikasi MT /NT terus klik poinku, ikuti sesuai petunjuk.


untuk cara Vote, buka novel berjudul Cinta Vania, klik "vote", udah deh....tinggal masukin jumlah poin yang mau kamu sumbangin buat vote.

__ADS_1


Terimakasih....


Salam sayang selaluπŸ’—πŸ’—πŸ˜˜πŸ˜˜**


__ADS_2